Kamis, 26 Januari 2012

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI BANGSAL RAWAT INAP RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI BANGSAL RAWAT INAP

RSI SULTAN AGUNG

SEMARANG




HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI BANGSAL RAWAT INAP RSI SULTAN AGUNG DI SEMARANG

The Relationship Between Work Load With Work Stress on Nurse in Every Room of Sultan Agung Islamic Hospital of Semarang

ABSTRACT

Background : Stress on the nurses is caused by work load, 25% nurse less than the patient, 20% to do non nursing task, and 18% can’t to finish task on time. The research is purposed to find out the relationship between work load with work stress on nurse in every room of Sultan Agung Islamic Hospital of Semarang.

Method : This research use non experiment quantitative method with cross sectional study. Population research is 60 respondent and 60 respondent as a sample with total sampling technique. The data was collected with give questioner to the respondent but before of validity tested with product moment and reliability tested with alpha cronbach coefficiency. The data was analyzed by using chi square formula.

Result : According to the data analyze obtained that from 60 respondent most respondent was enough work load as much 31 respondent (51,7%), 29 respondent (48,3%) on low work load and 33 respondent (55%) have low work stress and 27 respondent (45%) have enough work stress.

Conclusion and Suggestion : There is relationship between work load with work stress on nurse in every room of Sultan Agung Islamic Hospital of Semarang (p value < 0,05). The research suggestion is the direction manajemen in hospital should to analyze work load according to with potency and work capacity from nurse in every room.

PENDAHULUAN

Stres dapat diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang. Faktor-faktor pekerjaan yang dapat menimbulkan stres dikelompokkan dalam lima kategori yaitu faktor-faktor instrinsik dalam pekerjaan, peran dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam pekerjaan serta struktur dan organisasi.

Salah satu penyebab terjadinya stres kerja adalah beban kerja. Setiap beban kerja yang diterima seseorang harus sesuai dan seimbang, baik terhadap kemampuan fisik, kognitif, maupun keterbatasan manusia yang menerima beban kerja tersebut.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan beban kerja meliputi faktor eksternal (Tugas yang dilakukan secara fisik dan mental, organisasi kerja dan lingkungan kerja) dan faktor internal (umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, motivasi, persepsi, kepercayaan dan kepuasan). Beban kerja itu sendiri dapat berupa beban fisik dan beban mental, selain itu adapula beban kerja secara kuantitatif (banyaknya pekerjaan yang harus dilaksanakan) dan kualitatif (tingkat kesulitan dalam bekerja). Akibat beban kerja yang berlebihan akan menimbulkan kelelahan baik fisik maupun mental serta reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, mudah marah, tekanan darah tinggi serta dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, selain itu dapat berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien.

Berdasarkan beberapa literatur yang terkait dengan masalah diatas, telah banyak pula dilakukan penelitian tentang beban kerja dan stres kerja pada perawat di bangsal rawat inap antara lain oleh Irwandy, Ismanto, Astuti dan Sudibyo (2006), yang menyatakan bahwa beban kerja yang berlebihan yang dialami oleh perawat terjadi karena adanya tuntutan kerja yang bervariasi dalam pekerjaan, selain itu adanya tugas tambahan lain dan sering melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya, misalnya 78,8% perawat melaksanakan tugas kebersihan, 63,6% melakukan tugas administrasi dan lebih dari 90% melakukan tugas non keperawatan (misalnya : menetapkan diagnose penyakit, membuat resep, mengambil obat ke apotik dan melakukan tindakan pengobatan) dan hanya 50% yang melakukan asuhan keperawatan yang sesuai dengan fungsinya (Depkes & UI, 2005). Beban kerja yang berlebihan ini dapat menyebabkan stres kerja pada perawat, dimana perawat tersebut menyatakan keluhan merasa pusing, lelah karena tidak ada istirahat, serta mudah marah. Berdasarkan fenomena diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di bangsal rawat inap. Secara umum penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan informasi kepada mahasiswa keperawatan serta pihak Rumah Sakit khususnya pada manajer keperawatan tentang bahaya beban kerja yang berlebihan yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja serta stres kerja pada perawat dan sekaligus dapat mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan guna mencegah stres kerja pada perawat.

METODOLOGI

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif non eksperimental dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu desain yang digunakan untuk mengkaji hubungan antara variabel dengan menggunakan kuesioner sebagai bahan instrumennya. Responden dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di bangsal rawat inap RSI Sultan Agung Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2011 dengan jumlah responden sebanyak 60 orang.

Instrumen penelitian yang digunakan berupa alat ukur tentang beban kerja. Alat ukur tentang beban kerja mencakup faktor-faktor yang dapat menyebabkan beban kerja. Alat ukur terdiri dari 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban tidak pernah (1), beban kerja ringan (2), beban kerja sedang (3), dan beban kerja berat (4), selanjutnya pemberian skoring atas jawaban yang diberikan dan kemudian jawaban dijumlahkan, lalu digolongkan ke dalam tiga tingkatan yaitu ringan, sedang dan berat. Instrumen pengukuran variabel stres kerja menggunakan instrumen yang selanjutnya dibuat skoring. Alat ukur tentang stres kerja terdiri atas 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban tidak pernah (1), kadang-kadang (2), sering (3), dan selalu (4). Analisis responden digolongkan dalam 3 tingkat yaitu stres kerja ringan, sedang dan berat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. BEBAN KERJA

Tabel 4.1

Distribusi Beban Kerja Responden di RSI Sultan Agung Semarang (n = 60)

Beban Kerja

Jumlah

Persentase (%)

Ringan

29

48.3

Sedang

31

51,7

Jumlah

60

100

Berdasarkan tabel 4.1 dilihat dari beban kerja responden dari 60 responden menunjukkan bahwa responden yang memiliki beban kerja yang ringan yaitu sebanyak 48,3 % (29 responden), sedangkan yang beban kerja sedang sebanyak 51,7% (31 responden).

Menurut Munandar (2001), yang menyatakan bahwa beban kerja dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi adanya tugas-tugas yang dilakukan yang bersifat fisik maupun mental, organisasi kerja dan lingkungan kerja, sedangkan faktor internal meliputi umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan dan menurut Swamburg (1993, dalam Samba, 2000), yang mengatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi beban kerja adalah jumlah tenaga perawat dan jumlah pasien, selain itu faktor ketrampilan perawat atau pengalaman kerja perawat dan faktor tingkat pendidikan perawat.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Munandar dan Swamburg diatas, dimana responden yang mengalami beban kerja disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah umur, 70% umur responden dalam penelitian ini berada pada rentang usia 21-25 tahun, dimana pada rentang usia tersebut terjadi perubahan yang bersifat fisik baik efisiensi kesehatan dan kekuatan tenaga fisik yang mencapai puncaknya dan secara psikis muncul keinginan dan usaha pemantapan serta sering mengalami ketegangan emosi karena kompleksitas persoalan yang dihadapi, sedangkan faktor yang lain adalah lama kerja perawat, semakin lama perawat bekerja maka akan lebih terampil dan mempunyai pengalaman yang lebih banyak dari pada tenaga perawat yang baru saja masuk bekerja, selain faktor internal, beban kerja disebabkan juga faktor eksternal yang meliputi tugas-tugas keperawatan yang tidak dapat diselesaikan tepat pada waktunya, hal ini dikarenakan perawat selain menjalankan tugas pokoknya memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien, juga harus melaksanakan tugas tambahan yang lain (misalnya : menulis resep, menetapkan diagnosa penyakit, mengambil obat di apotik, menyuntik pasien, mengambil hasil laboratorium, melakukan tindakan pengobatan), disamping itu dikarenakan juga kurangnya jumlah tenaga perawat dibanding dengan jumlah pasien, faktor lainnya yaitu tunjangan fungsional (gaji) karena 40% responden mengatakan bahwa pemberian gaji terkadang dirasakan menjadi beban pikiran, dari alasan jawaban yang ditulis oleh responden diketahui bahwa gaji yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena harga kebutuhan sehari-hari yang semakin naik serta tunjangan fungsional tersebut tidak sebanding dengan resiko kerja yang dihadapi dalam menjalankan tugas sehari-hari di rumah sakit, karena menjalankan tugas sehari-hari perawat rentan terhadap kecelakaan kerja pada saat merawat pasien dan rentan terhadap penyakit akibat kerja (misal : Hepatitis, TBC).

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja yang berlebihan baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal bisa menjadi beban kerja yang berbeda bagi setiap responden, sehingga bisa menjadi beban kerja ringan maupun beban kerja sedang. Hal ini dapat dikarenakan oleh kemampuan fisik, kognitif serta keterbatasan setiap responden yang berbeda dalam menerima beban tersebut.

B. STRES KERJA

Tabel 4.2

Distribusi Stres Kerja Responden di RSI Sultan Agung Semarang (n = 60)

Stres Kerja

Jumlah

Persentase (%)

Ringan

33

55

Sedang

27

45

Jumlah

60

100

Berdasarkan tabel 4.2 dilihat dari stres kerja responden dari 60 responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki stres kerja yang ringan sebanyak 55% (33 responden) dan sebagian kecil responden memiliki stres kerja yang sedang yaitu sebanyak 45% (27 responden).

Menurut Munandar (2001), yang menyatakan bahwa stres pada hakekatnya merupakan hasil interaksi dari beberapa faktor, diantaranya overload dan deprivational stres. Pertama overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload kuantitatif bila target kerja melebihi kemampuan pekerja yang bersangkutan, akibatnya pekerja mudah lelah dan berada pada ketegangan tinggi. Overload kualitatif, bila pekerjaan memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi. Kedua deprivational stres, dimana pekerjaan yang dijalani tidak lagi menantang atau menarik bagi pekerja, akibatnya timbul berbagai keluhan seperti kebosanan, ketidakpuasan dalam bekerja.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Munandar (2001) diatas, dimana responden yang mengalami stres kerja ini disebabkan oleh beban kerja yang berlebihan baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang tidak segera diatasi serta tuntutan peran (tugas) yang lain yaitu tugas non keperawatan. Akibatnya timbul berbagai keluhan yang meliputi 50% perawat merasa cepat lelah walau sudah istirahat, 20% sulit untuk berkonsentrasi serta 10% merasa sakit kepala pada saat atau setelah bekerja.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja yang berlebihan (overload) yang tidak segera diatasi maka akan menjadi sumber yang potensial munculnya stres kerja pada perawat. Stres kerja yang dialami oleh setiap responden berbeda-beda, bisa menjadi stres kerja ringan maupun sedang. Hal ini dikarenakan setiap responden memiliki mekanisme atau strategi koping terhadap stres yang berbeda-beda, sehingga stres yang sama mempunyai dampak dan reaksi yang berbeda pula. Koping itu sendiri diartikan sebagai usaha perubahan kognitif dan perilaku secara konstan untuk menyelesaikan stres yang dihadapi. Koping yang efektif menghasilkan adaptasi yang berakhir dengan perilaku konstruktif (upaya menyelesaikan masalah secara asertif), sehingga responden mengalami stres kerja ringan dan sebaliknya, mekanisme koping yang tidak efektif berakhir dengan perilaku menyimpang (maladaptif atau destruktif) dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta lingkungan, sehingga responden mengalami stres kerja sedang.

C. Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat di Bangsal Rawat Inap RSI Sultan Agung Semarang

Tabel 4.3

Distribusi Korelasi antara Beban Kerja dengan Stres Kerja Perawat

di Bangsal Rawat Inap RSI Sultan Agung Semarang (n = 60)

Value

Stres Kerja

Total

X2

p

Ringan

Sedang

Beban Kerja

Ringan

12 (41,4 %)

17 (58,6 %)

29 (48,3 %)

4.207

0,041

Sedang

21 (67,7 %)

10 (32,3 %)

31 (51,7 %)

Total

33 (55 %)

27 (45 %)

60 (100 %)

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa 48,3% (29 responden) memiliki beban kerja yang ringan, dimana 41,4% (12 responden) diantaranya mengalami stres kerja ringan dan 58,6% (17 responden) lainnya mengalami stres kerja yang sedang, sedangkan 51,7% (31 responden) memiliki beban kerja yang sedang, dimana 67,7% (21 responden) diantaranya mengalami stres kerja ringan dan 32,3% (10 responden) lainnya mengalami stres kerja yang sedang.

Berdasarkan tabel 4.3 juga dijelaskan bahwa hasil uji analisa secara statistik hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di bangsal rawat inap RSI Sultan Agung Semarang menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kesalahan (alpha) 0,05 diperoleh bahwa p value = 0,041 yang berarti p value < 0,05, maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di bangsal rawat inap RSI Sultan Agung Semarang.

Menurut Munandar (2001), yang menyatakan bahwa stres pada hakekatnya merupakan hasil interaksi dari beberapa faktor, diantaranya overload dan deprivational stres. Pertama overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload kuantitatif bila target kerja melebihi kemampuan pekerja yang bersangkutan, akibatnya pekerja mudah lelah dan berada pada ketegangan tinggi. Overload kualitatif, bila pekerjaan memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi. Kedua deprivational stres, dimana pekerjaan yang dijalani tidak lagi menantang atau menarik bagi pekerja, akibatnya timbul berbagai keluhan seperti kebosanan, ketidakpuasan dalam bekerja.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Munandar (2001), dan dengan mempertimbangkan berbagai informasi yang sudah diterima serta dengan beban kerja sedang pada perawat, seharusnya tinggi pula tingkat stres kerja yang dialami oleh perawat, dimana beban kerja sedang yang tidak segera diatasi akan menambah tingkat stres dalam bekerja. Namun dari hasil penelitian ini, didapatkan bahwa ternyata beban kerja yang sedang menyebabkan stres kerja yang ringan pada perawat. Hal ini dikarenakan setiap responden memiliki mekanisme atau strategi koping dengan sumber dan kemampuan yang berbeda-beda dalam mengatasi stres, sehingga stres yang sama akan mempunyai dampak dan reaksi yang berbeda pada setiap individunya. Mekanisme koping yang efektif pada responden akan menghasilkan adaptasi yang berakhir dengan perilaku konstruktif (upaya menyelesaikan masalah secara asertif), sehingga responden mengalami stres kerja ringan dan sebaliknya, mekanisme koping yang tidak efektif berakhir dengan perilaku menyimpang (maladaptif atau destruktif) dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta lingkungan, sehingga responden mengalami stres kerja sedang.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja yang berlebihan (overload) yang tidak segera diatasi maka akan menjadi sumber potensial munculnya stres kerja pada perawat, baik pada tingkat yang ringan maupun sedang, hal ini tergantung dari mekanisme koping yang dimiliki setiap individunya.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Beban kerja pada perawat sebagian besar berada pada beban kerja sedang.

2. Stres kerja pada perawat sebagian besar berada pada stres kerja ringan.

3. Ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di bangsal rawat inap RSI Sultan Agung Semarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar