Minggu, 16 Desember 2012

CUCI TANGAN PAKAI SABUN DAPAT MENURUNKAN ANGKA KESAKITAN


Tindakan sederhana seperti cuci tangan  pakai sabun dapat membantu kita untuk menghemat biaya yang harus  dikeluarkan  untuk  pengobatan  akibat  tertular  penyakit  infeksi  melalui  tangan. Berbagai penyakit infeksi dapat ditularkan melalui perantara tangan. Seorang individu yang terinfeksi saluran nafas atas ketika batuk atau bersin maka percikan cairan dari saluran nafas yang banyak mengandung kuman patogen baik bakteri maupun virus akan tersebar melalui udara dan menempel pada permukaan benda di sekitarnya.
Tangan akan terkontaminasi oleh kuman patogen yang ada pada berbagai permukaan. Tangan juga terkontaminasi ketika menyentuh bahan yang mengandung   kuman   patogen ketika mengolah bahan makanan mentah terkontaminasi, ketika buang air besar dan air kecil atau menyentuh tinja dan air kencing anak, bercocok tanam dengan pupuk organik, dan lain lain.
Tangan yang tidak dicuci atau dicuci tidak dengan cara yang benar masih membawa kuman patogen akan menyebabkan infeksi apabila yang bersangkutan memegang makanan, mata , mulut dan hidung sesuai dengan jalur penularannya baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain yang kontak dengan tangan kita yang terkontaminasi.
Berbagai  studi  memperlihatkan  bahwa melakukan cuci  tangan pakai sabun dapat   menurunkan   kuman   patogen   sehingga   mencegah penularan. Studi di Paskistan pada 300 keluarga memperlihatkan dampak dari cuci tangan pakai sabun dapat menurunkan risiko menderita diare sampai 53 % dibandingkan dengan kelompok kontrol, infeksi saluran nafas 50 % dan impetigo (penyakit infeksi kulit) sampai 34%.
Beberapa studi di rumah sakit telah memperlihatkan bahwa cuci tangan pakai sabun menurunkan secara bermakna infeksi yang didapat dari rumah sakit akibat penularan melalui tangan, sebagai contoh suatu rumah sakit di Swiss dengan menggalakkan program cuci tangan dapat menurunkan angka prevalensi penyakit infeksi yang didapat dari rumah sakit dari 16,9% pada tahun 1994 menjadi   9,9% pada tahun 1998.
Seandainya kita sakit , selain mengeluarkan biaya untuk pemeriksaan dokter, laboratorium serta pemeriksaan lain yang diperlukan, dan pembelian obat , produktivitas serta kegiatan baik dalam pekerjaan dan lainnya akan terhenti karena sakit, dan juga akan mengalami rasa sakit atau kenyamanan kita terganggu. Keuntungan dari tindakan sederhana dan hanya memerlukan waktu yang singkat seperti cuci tangan dengan benar akan membantu mencegah penyakit infeksi.
Sumber :
Luby SP, Agboatwalla M, Feikin DR, Painter J, Billhimer W, Altaf A, Hoekstra RM (2005). Effect   of   handwashing   on   child   health:   a   randomised   controlled  trial.   Lancet.   16-22;366(9481):225-33

Kamis, 06 Desember 2012

PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN



Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit, telah disusun standar pelayanan rumah sakit yang diberlakukan melalui SK Menkes No. 436/MENKES/SKVI/1993 dan Standar Asuhan Keperawatan yang diberlakukan melalui SK Dirjen Yan Med No.YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993. Standar pelayanan dan standar asuhan keperawatan tersebut harus diterapkan secara bertahap. Standar pelayanan dan standar asuhan keperawatan tersebut berfungsi sebagai alat ukur untuk mengetahui, memantau dan menyimpulkan apakah pelayanan/asuhan keperawatan yang diselenggarkan di rumah sakit sudah mengikuti dan memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut. Bila pelayanannya sudah mengikuti dan sesuai dengan persyaratan maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan paling sedikit sudah dapat dipertanggungjawabkan maka dapat dikatakan bahwa mutu pelayanannya juga harus dianggap baik. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan standar ini, perlu dilakukan penilaian secara obyektif dengan menggunakan metode dan instrumen penilaian yang baku. Instrument evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan ini terdiri dari (1) pedoman studi dokumentasi asuhan keperawatan yang selanjutnya disebut instrumen A, (2) angket yang ditujukan kepada pasien dan keluarga untuk memperoleh gambaran tentang persepsi pasien terhadap mutu asuhan keperawatan yang selanjutnya disebut instrument B, (3) pedoman observasi pelaksanaan tindakan keperawatan selanjutnya disebut instrumen C (DepKes, 1998). Menurut Gillies (1994) prosentase dari masing-masing instrumen akan menentukan tingkat mutu asuhan keperawatan yang dilakukan. Rentang nilai untuk instrumen ABC adalah : 1.76-100% adalah baik : Keterangan : dipertahankan 2.56-75% adalah cukup : Keterangan : Ditingkatkan 3.40-55% adalah kurang : Keterangan : Perlu dilakukan pelatihan.


Standar Asuhan Keperawatan


Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif , ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup kehidupan manusia. Demikian pengertian keperawatanmenurut lokakarya Nasional tahun 1983.

Sedangkan maksud dari
 standar adalah suatu pernyataan diskriptif yang menguraikan penampilan kerja yang dapat diukur melalui kualitas struktur, proses dan hasil (Gillies, 1989,hal 121). Sedangkan yang dimaksud dengan standar asuhan keperawatanadalah merupakan penyataan kualitas yang diinginkan dan dapat dinilai dari pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien. Standar ini akan memberikan petunjuk kinerja mana yang tidak sesuai atau tidak dapat diterima. Demikian yang dimaksud dengan pengertian standar asuhan keperawatan.

Kita yang berprofesi sebagai perawat yang terjun sebagai pelaksana di lapangan tentunya dalam bekerja yang menjadi salah satu acuan dalam penilaian kerja adalah dilihat serta diukur dari terlaksananya
 asuhan keperawatan. Sedangkan pendekatan dalam memberikan asuhan keperawatan ini tentunya dilaksanakan melalui proses keperawatan, berupa aktivitas perawat yang dilakukan secara sistematis melalui lima tahapan yang telah kita kenal yaitu , yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan atau implementasi, evaluasi keperawatan.


Tujuan standar asuhan keperawatan
 ini digunakan untuk mengetahui proses dan hasil pelayanan keperawatan yang diberikan dalam upaya mencapai pelayanan keperawatan. Melalui standar praktek dapat diketahui apakah intervensi atau pun tindakan keperawatan itu yang telah diberikan sesuai dengan yang direncanakan dan apakah klien dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Point pentingnya penerapan dari
 standar praktek keperawatan adalah dalam rangka untuk meningkatkan asuhan atau pelayanan keperawatan dengan cara memfokuskan kegiatan atau proses pada usaha pelayanan untuk memenuhi kriteria pelayanan yang diharapkan. Standar asuhan keperawatan tentunya bermanfaat dan juga berguna bagi perawat itu sendiri, tempat pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, dsb), bagi pasien, profesi keperawatan dan juga tenaga kesehatan yang lainnya. 

Kegunaan dan
 manfaat standar asuhan keperawatan diantaranya yaitu :

1.     Bagi Perawat. Bagi seorang perawat standar praktek keperawatan ini akan digunakan sebagai pedoman dalam hal membimbing perawat dalam penentuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan teradap pasien dan juga perlindungan dari kelalaian dalam melakukan tindakan keperawatan dengan membimbing perawat dalam melakukan tindakan keperawatan yang tepat dan juga benar.
2.     Bagi Rumah Sakit. Dengan penggunaan standar praktek keperawatan ini tentunya akan meningkatkan efisiensi serta juga efektifitas pelayanan keperawatan dan ini akan berefek kepada penurunan lama rawat pasien di rumah sakit.
3.     Bagi Pasien. Dengan perawatan yang tidak memakan waktu yang lama maka biaya perawatan serta pengobatan yang ditanggung pasien dan keluarganya akan menjadi semakin ringan.
4.     Bagi Profesi. Standar ini digunakan sebagai alat perencanaan untuk mencapai target dan sebagai tolak ukur untuk mengevaluasi penampilan, dimana standar ini digunakan sebagai alat pengontrolnya.
5.     Bagi Tenaga Kesehatan Lainnya. dapat digunakan untuk mengetahui batas kewenangan dengan profesi lain sehingga dapat saling menghormati dan bekerja sama secara baik dalam menjalankan pekerjaan sesuai profesinya dan meningkatkan pelayanan tentunya.
Di Indonesia secara legal telah ditetapkan Standar Asuhan Keperawatan (SAK) dan diberlakukan dan juga diterapkan di seluruh Rumah Sakit di Tanah Air Indonesia ini melalui SK Direktorat Pelayanan Medik No. YM 00.03 .2.6.7637 tahun 1993 tentang berlakunya SAK di rumah sakit. Dan semoga dengan artikel tentang Standar asuhan keperawatan bisa berguna dan juda dapat memberikan manfaat. 

Sabtu, 13 Oktober 2012

HUBUNGAN PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA KARYAWAN DALAM PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN DI PABRIK SUPER ROTI CIREBON




RELATIONSHIP OF HEALTH AND SAFETY EMPLOYES PROTECTIVE EQUIPMENT IN USE OF SELF EMPLOYEE PRODUCTIVITY IN THE BREAD FACTORY SUPER ROTI CIREBON

RitaKartika Sari,SKM,M.Kes,Sukardjo,SKM,M.Kes, 
Diah Lubis, S.Kep,Ners ,Frieska Dessy Alamanda
Program Studi S1 Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Latar Belakang: Kepentingan perusahaan adalah apabila manajemen mengambil langkah-langkah menjamin kesehatan dan keselamatan para karyawannya, karena jika karyawan yang di serang penyakit atau mengalami kecelakaan di tempat pekerjaan, tingkat produktivitas kerja akan menurun, tingkat kemangkiran akan naik, keinginan pindah akan makin besar, dan kepuasan kerja mereka akan makin rendah. Berdasarkan hasil studi pendahuluan didapatkan data bahwa pemilik pabrik mengusulkan kepada para karyawannya untuk menggunakan alat pelindung diri tetapi para karyawan tidak menyetujuinya.
Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Populasi yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang berjumlah 40 orang. Sampel yang diambil berjumlah 40 orang atau keseluruhan dari populasi yang disebut dengan teknik total sampling. Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan menggunakan rumus pearson.
Hasil: berdasarkan hasil analisa diperoleh bahwa dari 40 (100,0%) responden penelitian sebagian besar memiliki karakteristik umur dewasa muda sebanyak 16 orang (40,0%), jenis kelamin didominasi laki-laki sebanyak 21 orang (52,5%), pendidikan terbanyak SMP sebanyak 27 orang (67,5%), dan masa kerja terbanyak antara 2-10 tahun sebanyak 31 orang (77,5%). Hasil penelitian juga menunjukkan sebanyak 38 orang (95,0%) karyawan telah melaksanakan program K3 yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri sedangkan 2 orang (5,0%) karyawan tidak menggunakan alat pelindung diri, dan sebanyak 39 orang (97,5%) karyawan produktivitas kerjanya baik sedangkan 1 orang (2,5%) karyawan produktivitas kerjanya buruk.
Simpulan: ada hubungan pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja karyawan dalam penggunaan alat pelindung diri terhadap produktivitas kerja karyawan di pabrik super roti cirebon (p value < 0,05).

Kata Kunci : Pelaksanaan program K3, Alat pelindung diri, Produktivitas kerja
Daftar Pustaka: 25 (1985-2012)

ABSTRACT

Background: The important of the company is the management takes steps to ensure the health and safety of its employes, because if the employes attract of the illness or accident at work, the level of labor productivity will decrease, absenteism will increase, the desire to move will be greater, and their job satisfaction will be lower. Based on the results of a preliminary study of data obtained suggest that the factory owners to their employes to use personal protective equipment, but the employes do not agree.
Methods: The study design used quantitative correlation with the cross sectional approach. The data was collected by questionnaire. Population in this study were all employes, amounting to 40 people. Samples taken are 40 people or the whole of the population is called the total sampling technique. The data obtained were processed statistically using the Pearson’s formula.
Results: based on the results of the analysis found that of 40 (100.0%) survey respondents characterized the majority of young adulthood as many as 16 people (40.0%), sex, male-dominated as many as 21 people (52.5%), Most junior high school education by 27 people (67.5%), and the majority of work between 2-10 years as many as 31 people (77.5%). The results also showed as many as 38 people (95.0%) of employes K3 has implemented a program that is using personal protective equipment while 2 persons (5.0%) of employes not using personal protective equipment, and as many as 39 people (97.5%) employee productivity, while a person works well (2.5%) of employes working poor productivity.
Conclusion: there is a program implementing health and safety of employ
es in the use of personal protective equipment for employee productivity at the factory super bread Cirebon (p value <0 .05=".05" span="span">

Keywords: Implementation of the K3 program, personal protective equipment, labor productivity.
Bibliography: 25 (1985-2012)

PENDAHULUAN
Karyawan pada saat ini mengharapkan perusahaan agar memberikan lingkungan kerja yang aman, terjamin, dan sehat, akan tetapi banyak pemberi kerja menganggap kecelakaan dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai hasil kerja yang tidak diinginkan dan tidak dapat dihindari. Pemikiran ini mungkin masih lazim di banyak lokasi industri di negara berkembang. Pada sebagian besar negara maju, pemikiran ini telah diganti dengan konsep pencegahan dan pengendalian untuk memperkecil atau meniadakan resiko di tempat kerja. Pada banyak negara berkembang, terdapat persoalan kesehatan dan keselamatan yang signifikan di tempat kerja (Mathis, R.L, & Jackson, J. H, 2004).
Penyediaan perlindungan terhadap bahaya, prioritas pertama seorang majikan adalah melindungi pekerjanya secara keseluruhan ketimbang secara individu. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) hanya dipandang perlu jika metode-metode perlindungan yang lebih luas ternyata tidak praktis dan tidak terjangkau. Dengan seluruh jenis Alat Perlindungan Diri yang tersedia, pemasok akan menyarankan jenis yang paling sesuai untuk kebutuhan perlindungan pekerja dan dapat menawarkan beberapa pilihan berdasarkan material, desain, warna, dan sebagainya (Ridley, 2006).
Kondisi fisik yang menyenangkan sangat berperan dalam pemeliharaan  kesehatan dan keselamatan kerja dan bahkan juga dapat mencegah terjadinya kejenuhan dan kebosanan. Sesungguhnya kepentingan perusahaan adalah apabila manajemen mengambil langkah-langkah menjamin kesehatan dan keselamatan para karyawannya, karena jika karyawan yang di serang penyakit atau mengalami kecelakaan di tempat pekerjaan, tingkat produktivitas kerja akan menurun, tingkat kemangkiran akan naik, keinginan pindah akan makin besar, dan kepuasan kerja mereka akan makin rendah (Siagian, 2002). Berdasarkan fenomena diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja karyawan dalam penggunaan alat pelindung diri terhadap produktivitas kerja karyawan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perusahaan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehubungan dengan pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja karyawan dalam penggunaan alat pelindung diri terhadap produktivitas kerja karyawan

METODOLOGI
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada beberapa populasi yang diamati pada waktu yang bersamaan (Hidayat, 2007). Penelitian korelasi bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antarvariabel (Nursalam, 2008)
Responden dalam penelitian ini adalah semua karyawan tetap di pabrik super roti Cirebon. Penelitian ini dilaksanakan pada 29 Mei-03 Juni 2012 dengan jumlah responden sebanyak 40 orang.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan close ended yang menggunakan skala Likert, skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang tentang gejala atau masalah yang ada di masyarakat atau yang dialaminya (Hidayat, 2003). Ada dua bagian kuesioner, yaitu kuesoner A yang berisi pertanyaan tentang K3 dalam penggunaan alat pelindung diri di pabrik terdiri dari 15 pertanyaan dengan kriteria jawaban responden ya bernilai 2 dan tidak bernilai 1, kategori baik skor 16-30 dan buruk skor 1-15 menggunakan skala ukur nominal. Kuesioner B yang berisi pertanyaan tentang produktivitas kerja terdiri dari 15 pertanyaan dengan kriteria jawaban responden ya bernilai 2 dan tidak bernilai 1, kategori baik skor 16-30 dan buruk 1-15 menggunakan skala ukur nominal. Maka menggunakan rumus Pearson Product Moment.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Pelaksanaan Program Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri

Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelaksanaan Program K3 Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri di Pabrik Super Roti Cirebon, Juni 2012 (n=40)
Pelaksanaan Program K3 Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Baik
38
95,0
Buruk
2
5,0
Total
40
100,0

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari 40 responden sebagian besar telah menerapkan pelaksanaan program K3 dalam penggunaan Alat Pelindung Diri yaitu sebanyak 38 orang (95,0%), sedangkan responden yang tidak menerapkan yaitu sebanyak 2 orang (5,0%).
Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmah Azmi (2008), dengan judul penerapan sistem manajemen K3 oleh P2K3 untuk meminimalkan kecelakaan kerja di PT. Wijaya Karya Beton Medan yaitu dengan hasil bahwa dari 16 responden 12 orang (75%) diantaranya melaksanakan program K3 dengan baik.
Hasil penelitian ini menurut peneliti adalah pelaksanaan dan penerapan SMK3 yang maksimal dibutuhkan kerja sama dan peran serta semua pihak baik itu manajemen, pengurus P2K3 maupun tenaga kerja. PT Wika Beton Sumut telah memperlihatkan kerjasama yang baik. Pelaksanaan SMK3 yang baik inilah yang mungkin menjadi penyebab turunnya angka kecelakaan kerja di perusahaan hingga sampai pada angka 0 (nol) di tahun 2008.
Di Pabrik Super Roti Cirebon sudah memulai pencegahan penyakit dan kecelakaan kerja, yaitu dengan membagikan alat pelindung diri bagi karyawan saat sedang bekerja di pabrik. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan angka penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat menurun.

B.   Produktivitas Kerja Karyawan
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Produktivitas Kerja Karyawan di Pabrik Super Roti Cirebon, Juni 2012 (n=40)
Produktivitas Kerja Karyawan
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Baik
39
97,5
Buruk
1
2,5
Total
40
100,0

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui dari 40 responden sebagian besar produktivitas kerjanya baik yaitu sebanyak 39 orang (97,5%), sedangkan responden yang produktivitas kerjanya buruk ada 1 orang (2,5%).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ida Ekawati (1999), dengan judul pengaruh absensi dan motivasi kerja terhadap produktivitas tenaga kerja pada PT Pos Indonesia (Persero) di Purwodadi Kabupaten Grobogan yaitu dengan hasil dari 30 responden 16 orang (53,3%) diantaranya sudah mematuhi peraturan dengan baik, selebihnya dirasakan cukup mematuhi peraturan perusahaan. Disini terlihat bahwa responden menganggap produktivitas tenaga kerja sangat mempengaruhi hasil kerja manusia dengan segala masalah yang dihadapi dan bervariasi.
Menurut Soeprihanto (1996) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas diantaranya adalah pendidikan dan latihan keterampilan, gizi/nutrisi, kesehatan, bakat atau bawaan, motivasi atau kemauan, kesempatan kerja, kesempatan manajemen dan kebijakan pemerintah. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pabrik Super Roti Cirebon untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan adalah dengan mengikutsertakan karyawan-karyawannya dalam pelatihan keterampilan yang diadakan oleh Bogasari, dengan begitu pimpinan pabrik berharap selain mendapatkan keterampilan baru, karyawannya juga dapat lebih giat bekerja untuk menghasilkan roti yang berkualitas.

C.    Hubungan Pelaksanaan Program Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Karyawan Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan.
Tabel 4.7
Tabel Silang Hubungan Pelaksanaan Program Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Karyawan Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan di Pabrik Super Roti Cirebon, Juni 2012 (n=40)

Produktivitas Kerja Karyawan
Total
P Value
r

Baik
Buruk



Pelaksanaan Program K3 Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri
Baik
38
(95,0%)
0
(0%)
38
(95,0%)
0,000
0,698
Buruk
1
(2,5%)
1
(2,5%)
2
(5,0%)
Total
39
(97,5%)
1
(2,5%)
40
(100,0%)


Berdasarkan tabel 4.8 diatas dari hasil perhitungan tabulasi silang dapat diketahui bahwa responden yang menggunakan alat pelindung diri dan produktivitas kerjanya baik adalah 38 orang (95,0%), sedangkan responden yang tidak menggunakan alat pelindung diri dan produktivitas kerjanya baik adalah sebanyak 1 orang (2,5%). Responden yang menggunakan alat pelindung diri dan produktivitas kerjanya buruk tidak ada (0%), sedangkan responden yang tidak menggunakan alat pelindung diri dan produktivitas kerjanya baik adalah 1 orang (2,5%).
Hasil analisa uji Pearson diperoleh nilai significancy 0,000 karena nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kedua variabel, sedangkan r Pearson adalah 0,698 ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel adalah kuat.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2007), dengan judul hubungan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dengan produktivitas karyawan (studi kasus : bagian pengolahan PTPN VIII Gunung Mas Bogor) dengan uji korelasi Spearman Brown diperoleh nilai significancy 0,000 karena nilai  p < 0,01 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara K3 dengan produktivitas karyawan. Menurut peneliti hal ini menunjukkan kontrol lingkungan kerja dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan memadai akan mendukung pelaksanaan kerja karyawan serta menciptakan suasana kerja yang menyenangkan sehingga karyawan akan bekerja semakin produktif.
Pabrik Super Roti Cirebon sedang menjalankan program K3 khususnya dalam penggunaan alat pelindung diri, hal ini bermaksud selain untuk melindungi karyawan dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja juga untuk meningkatkan produktivitas kerja dengan menekan angka absensi (tidak masuk kerja) karyawan karena alasan sakit.



KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan tentang hubungan pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam penggunaan alat pelindung diri terhadap produktivitas kerja karyawan di Pabrik Super Roti Cirebon, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Pelaksanaan program K3 dalam penggunaan alat pelindung diri pada karyawan sebagian besar adalah baik yaitu sebanyak 38 orang (95,0%).
2.    Produktivitas kerja responden sebagian besar sudah baik yaitu sebanyak 39 orang (97,5%).
3.    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan secara signifikan (bermakna) antara pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam penggunaan alat pelindung diri terhadap produktivitas kerja karyawan di Pabrik Super Roti Cirebon yang dibuktikan dengan nilai p-value 0,000 < 0,05.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. A. (2003). Teknik Penulisan Ilmiah (Edisi 1), Jakarta : Widya Medika.
                     (2007). Teknik Penulisan Ilmiah (Edisi 2), Jakarta : Widya Medika.
Mathis, R. L. (2004). Manajemen Sumber Daya Alam (Edisi 10), Jakarta : Salemba Empat.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta :Salemba Medika.
Ridley, J. (2006). Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, Jakarta : Erlangga.
Siagian, S. P. (2002). Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Jakarta : Rineka Cipta.
Soeprihanto, J. (1996). Manajemen Personalia, Yogyakarta : BPFEE.