Rabu, 13 Oktober 2010

HASIL RAPAT KOORDINASI DAN BREVING DIREKTUR RSUD SUKA DEMAK SELASA, 12 OKTOBER 2010

• MOMEN
Momentum adalah sesuatu yang menggerakkan kita untuk berpikir kristis dan tidak akan terlupakan dalam hidup ini
Momen harganya mahal, maka kita harus melakukan agar kita mempunyai semangat.
Contoh momen seperti hari minggu tangal 10 bulan 10 tahun 2010 akan ada lagi beberapa abat yang akan datang.

• POLIKLINIK SORE HARI
Semakin ditunda pelaksanaannya semakin banyak kerugian dan kehilangan
Mengajak melakukan kerja sama terhadap tim terhadap teman yang dilakukan.

• SATU HARI SAJA
Orang memberikan kesan bahwa sepuluh hari dimulai dari satu hari saja.
Beri yang terbaik untuk hari ini
Setiap orang mempunyai potensi.
• SUKSES Kepemimpinan
a. Dimulai dari pimpinan kulaitas dan integritas pimpinan
b. Kualitas seseorang dilihat dari tidak ada orang
c. Kualitas sesorang dimulai dilihat dari tidak ada orang
d. Kebersamaan
e. Usahakan dekat dengan staf
f. Ada dukungan seluruh karyawan harus mau melayani dan profesional
g. Lingkungan internal yang kondusif

• KUNCI GAGAL
a. Tidak percaya diri
b. Ragu-ragu
c. Malas

• INDIKATOR SUSKSES
A. Sehat
B. Makmur/Sejahtera/Kaya
C. Punya hubungan bagus dengan Tuhan
D. Punya hubungan harmonis dengan keluarga
E. Punya Harapan
F. Tidak punya musuh
G. Merasa Aman

------------------------- catatan Humas RSUD Sunan Kalijaga Demak ----------------------------

Senin, 11 Oktober 2010

SISTEM REMUNERASI TENAGA KEPERAWATAN PADA BLUD RSUD BAGIAN DARI MANAJEMEN KEPERAWATAN

SUKARDJO ( PRAKTISI MENEJEMEN KEPERAWATAN) HUMAS RSUD SUNAN KALIJAGA KABUPATEN DEMAK

Penerapan BLU atau BLUD bagi rumah sakit di Indonesia, berefek pada remunerasi bagi pegawai di institusi tersebut, tidak terkecuali perawat sebagai sebuah profesi yang mandiri dan mesti selayaknya juga dihargai. Sehingga pemahaman tentang remunerasi juga mestinya dikuasai oleh perawat, minimal di tingkat bidang perawatan atau komite perawatan.
Ketika tidak ada perawat yang mau intens memikirkan masalah ini, maka lagi lagi, profesi perawat hanya akan dijadikan sebagai pelengkap penderita dalam urusan remunerasi.
Prinsip prinsip universal dalam remunerasi, juga mestinya ditujukan untuk profesi yang 24 jam mendampingi pasien ini. Semacam keadilan, keterbukaan, tanggung jawab, beban kerja dll, menjadi pertimbangan pokok dalam pembagian jasa pelayanan.

Disamping itu, prinsip jasa langsung dan jasa tidak langsung musti juga diakomodasi, agar kinerja perawat bisa diukur dan dihargai seoptimal mungkin.
Di bawah ini, beberapa panduan atau simulasi yang dapat digunakan untuk menghitung remunerasi bagi perawat. Masing masing kategori menggunakan nilai/poin/indek, untuk membedakan dari masing masing kategori itu :

1.Golongan dan Kepangkatan.
Dikategorikan dengan Gol 2a, 2b, 2c dst sampai 4d. Masing masing golongan memiliki nilai sendiri sendiri, misalnya : 2a = 7 index, 2b = 8 indek, 2c = 9 indek dst. Bagi rumah sakit swasta yang tidak memiliki golongan kepangkatan, bisa diasosiasikan dengan golongan yang berlaku di rumah sakit tersebut.

2. Masa Kerja.
Masa kerja bisa dihitung dari 0-3 bulan, 3-1 tahun, 1-2 tahun, 2-3 tahun dst. Masing masing juga dengan indek berbeda. Misal 0-3 bulan = 0,0 indek, 3-1 tahun = 0,5 indek, 1-2 tahun = 1 indek, 2-3 tahun = 1,5 indek dst.

3. Volume Kerja.
Volume kerja dihitung berdasar absensi harian. Misal selama satu bulan cuti 12 hari = 4 indek, cuti 8 hari = 5 indek, cuti 4 hari = 6 indek, tidak cuti = 6 indek.


4. Pendidikan.
Pendidikan dikategorikan dari SPK, D1, D3, D4, S1, S1 Profesi, S2 Profesi dst. Misal : SPK = 1 indek, D1 = 1,5 indek, D3 = 2,5 indek, D4 = 3 indek, S1 = 5 indek, S1 Profesi 6 indek dst.

5. Volume Tanggung Jawab.
Volume Tanggung jawab bisa dikategorikan menjadi Supervisor, Kepala Ruang, PN/Ka Team, Perawat Pelaksana, Perawat pelaksana VIP, Perawat Pelaksana Unit Khusus (ICU, IGD) dll. Masing masing juga sama dengan indek yang berbeda.

6. Tunjangan Jabatan.
Tunjangan Jabatan bisa dikategorikan dari Supervisor, Kepala Ruang, Wakil Kepala Ruang, PN/Ketau Team.

7. Tunjangan Fungsional.
Tunjangan Fungsional dapat dikategorikan menjadi perawat shift, perawat non shift dan perawat administrasi.
Dengan pedoman ini, masing masing perawat dilihat dan dihitung jumlah indek yang dimiliki, kemudian dikalikan dengan harga indek pada bulan itu.
Sebagai contoh : Perawat Nurul Ngaini, seorang Kepala Ruang ICU dengan masa kerja 10 tahun, Gol 3A, Pendidikan S1. Maka bisa dihitung jumlah indeknya. Bila jumlah indeknya 40, dan harga indek pada bulan itu adalah Rp.75.000,- maka jasa pelayanan yang diterima oleh perawat Nurul adalah 40 x Rp.75.000 = Rp. 3.000.000,-. Inipun masih ditambah dengan Indek langsung, yang didapat dari kinerja ruang yang ditempati perawat Nurul.

Kamis, 07 Oktober 2010

MENEJEMEN KESEHATAN MASYARAKAT

Oleh : *) H. SUKARDJO, SKM, M.Kes ( PEMASARAN/ HUMAS RSUD SUNAN KALIJAGA KAB DEMAK)

Dalam kegiatan apa saja, agar kegiatan tersebut dapat mencapai tujuannya secara efektif diperlukan pengaturan yang baik. Demikian juga kegiatan dan atau pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan pengaturan yang baik, agar tujuan tiap kegiatan atau program itu tercapai dengan baik.

Proses pengaturan kegiatan ilmiah ini disebut manajemen, sedangkan proses untuk mengatur kegiatan-kegiatan atau pelayanan kesehatan masyarakat disebut "manajemen pelayanan kesehatan masyarakat".

Sebagian orang menyatakan bahwa proses pengaturan kegiatan untuk mencapai tujuan ini disebut "administrasi" sehingga proses pengaturan kegiatan dan atau pelayanan kesehatan masyarakat disebut "administrasi kesehatan masyarakat". Disini timbul kerancuan karena proses kegiatan sama namun istilah berbeda "manajemen" dan "administrasi".

Dalam hal ini tidak perlu diperdebatkan mana yang benar "manajemen" atau "administrasi" menurut pendapat penulis melihat dari proses atau kegiatannya sama maka kedua hal tersebut sama. Sedangkan pemakaiannya, apakah menggunakan "manajemen" atau "administrasi" terserah kepada kita masing-masing yang memakainya (tergantung selera).

Dalam uraian ini penulis lebih cenderung menggunakan "manajemen" daripada "administrasi". Banyak ahli yang telah membuat batasan tentang manajemen ini antara lain :

a. The accomplishing of a predetermined objectives through the effort other people
atau manajemen adalah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan dengan
menggunakan orang lain. (Robert D. Terry)
b. Manajemen adalah "the process, by which the excution of given purpose is put in
to operation and supervised atau manajemen adalah proses dimana
pelaksanaan dari suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi. (Encyclopedia of
social sciences)
c. Manajemen adalah membuat tujuan tercapai melalui kegiatan-kegiatan orang lain
dan fungsi-fungsinya dapat dipecah sekurang-kurangnya 2 tanggung jawab
utama, yakni perencanaan dan pengawasan.
d. Management is the process under taken by one or more persons to coordinate
the activities of other persons to achieve results not attainable by any one person
acting alone atau manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu
orang atau lebih untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain guna
mencapai hasil (tujuan) yang tidak dapat dicapai oleh hanya 1 orang saja.
(Evancovich, 1989)

Dari batasan-batasan tersebut di atas dapat diambil suatu kesimpulan umum bahwa manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Seorang manajer dalam mencapai tujuan adalah secara bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya.

Pengertian Menejemen kesehatan Masyarakat

Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat dapat dikatakan sebagai berikut "Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas kesehatan dan non petugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan."

Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (sub sistem) yang saling berhubungan didalam suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu.

Oleh sebab itu kalau berbicara sistem pelayanan kesehatan masyarakat adalah struktur atau gabungan dari sub sistem didalam suatu unit atau didalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif, kuratif, promotif maupun rehabilitatif.

Sehingga sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah sakit, Balkesmas dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan. Dengan demikian maka manajemen kesehatan masyarakat adalah proses manajemen di tiap-tiap sub sistem pelayanan.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa manajemen itu suatu seni mengatur orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi atau unit pelayanan maka manajemen tersebut mempunyai fungsi-fungsi. Dan berbagai pendapat para ahli dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fungsi-fungsi manajemen itu pada garisnya terdiri dari :

a. Perencanaan (planning)
b. Pengorganisasian (organizing)
c. Penyusunan personalia (staffing)
d. Pengkoordinasian (coordinating)
e. Penyusunan anggaran (budgeting)


Setelah perencanaan telah dilakukan atau telah selesai (menjadi rencana) maka selanjutnya harus dilakukan pengorganisasian. Yang dimaksud pengorganisasian adalah mengatur personel atau staf yang ada didalam institusi tersebut agar semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana tersebut dapat berjalan dengan baik, yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai.

Dengan kata lain pengorganisasian adalah pengkoordisasian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan suatu institusi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengorganisasian mencakup beberapa unsur pokok, antara lain :

1. Hal yang diorganisasikan ada 2 macam, yakni :

a. Pengorganisasian kegiatan ialah pengaturan berbagai kegiatan yang ada
didalam rencana sehingga membentuk satu kesatuan yang terpadu untuk
mencapai tujuan.
b. Pengorganisasian tenaga pelaksana ialah mencakup pengaturan hak dan
wewenang setiap tenaga pelaksana sehingga setiap kegiatan mempunyai
penanggung jawabnya.
2. Proses pengorganisasian ialah langkah-langkah yang harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga semua kegiatan dan tenaga pelaksana dapat berjalan
sebaik-baiknya.
3. Hasil pengorganisasian ialah terbentuknya wadah atau sering disebut struktur
organisasi yang merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga pelaksana.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian ialah suatu proses yang menghasilkan organisasi (struktur organisasi). Struktur organisasi ialah visualisasi kegiatan dan pelaksana kegiatan (personel) didalam suatu institusi.

Dilihat dari segi pembagian kegiatan dan pelaksanaan tugas, fungsi dan wewenang maka organisasi secara umum dibedakan atas 3 jenis, yakni :

1. Organisasi Lini (Line Organization)

Dalam jenis organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pimpinan dalam hal ini sangat dominan dimana semua kekuasaan di tangan pimpinan. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan kegiatan yang utama adalah wewenang dan perintah.

Memang bentuk organisasi semacam ini, khususnya didalam institusi-institusi yang kecil sangat efektif karena keputusan-keputusan cepat diambil dan pelaksanaan keputusan juga cepat. Kelemahannya jenis organisasi semacam ini kurang manusiawi, lebih-lebih para pelaksana tugas bawahan hanya dipandang sebagai robot yang senantiasa siap melaksanakan perintah.

2. Organisasi Staf (Staff Organization)

Dalam organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksana. Peran staf bukan sekedar pelaksana perintah pimpinan namun staf berperan sebagai pembantu pimpinan. Bentuk organisasi semacam ini muncul karena makin kompleksnya masalah-masalah organisasi sehingga pimpinan sudah tidak dapat lagi menyelesaikan semuanya dan memerlukan bantuan orang lain (biasanya para ahli) yang dapat memberikan masukan pemikiran-pemikiran terhadap masalah-masalah yang dihadapi.

Meskipun organisasi ini lebih baik dari yang pertama karena keputusan-keputusan dapat lebih baik namun kadang-kadang keputusan-keputusan tersebut akan memakan waktu yang lama karena melalui perdebatan-perdebatan yang kadang-kadang melelahkan.

3. Organisasi Lini dan Staf

Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yang terdahulu disebutkan (line dan staf). Dalam organisasi ini staf bukan sekedar pelaksana tugas tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah atau nasehat tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasehat tersebut.

Keuntungan organisasi ini antara lain ialah keputusan yang diambil oleh pimpinan lebih baik karena telah dipikirkan oleh sejumlah orang dan tanggung jawab pimpinan berkurang karena mendapat dukungan dan bantuan dari staf.

Contoh sederhananya lihat bagan organisasi lini dan staf dibawah ini.

Dalam kehidupan sehari-hari apabila unit kerja (departemen, perusahaan dan sebagainya) akan melaksanakan suatu rencana tidak selalu langsung diikuti oleh penyusunan organisasi baru. Struktur organisasi itu biasanya sudah ada terlebih dahulu dan ini relatif cenderung permanen, lebih-lebih struktur organisasi departemen.

Disamping itu unit-unit kerja tersebut dijabarkan kedalam unit-unit yang lebih kecil dan masing-masing unit-unit kerja yang lebih kecil ini mempunyai tugas dan wewenang yang berbeda-beda (dirjen, direktorat, bidang, seksi, devisi, dan sebagainya). Masing-masing unit kerja tersebut sudah barang tentu akan menyusun perencanaan dan kegiatan-kegiatan. Untuk pelaksanaan rencana rutin cukup oleh staf yang ada sehingga tidak perlu menyusun organisasi baru.

Apabila rencana atau kegiatan tersebut tidak dapat ditangani oleh struktur organisasi yang telah ada biasanya dibentuk, misalnya panitia tim kerja (kelompok kerja), komisi dan sebagainya.


Sumber :

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

MENEJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang
Adapun yang melatarbelakangi penulisan makalah ini selain merupakan tugas kelompok juga merupakan materi bahasan dalam mata kuliah Keperawatan Medical Bedah. Dimana mahasiswa dari setiap kelompok akan membahas materi, sesuai judul materi yang telah ditugaskan kepada masing-masing kelompok. Adapun dalam makalah ini akan dibahas tentang “AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome)” yang merupakan penyakit yang menyerang system kekebalan tubuh manusia, yang dapat memudahkan atau membuat rentan si pendertia terhadap penyakit dari luar maupun dari dalam tubuh. AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh Human Immuno-deficiency Virus (HIV). Sampai dengan 30 November 2000, tercatat 1113 orang mengidap infeksi HIV dan telah 446 orang yang telah manifes sebagai AIDS. Jumlah ini bertambah 45 % dari tahun sebelumnya

1.2. Tujuan Penulisan
Adapun beberapa tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1.2.1. Bagi Pendidikan
a) Sebagai bahan pertanggungjawaban mahasiswa dalam mengerjakan tugas kelompok dari mata kuliah Keperawatan Medical Bedah.
b) Sebagai bahan penilaian terhadap tugas yang di berikan terhadap mahasiswa ; baik dalam penyusunan makalah maupun presentasi makalah.
1.2.2. Bagi Mahasiswa
a) Sebagai bahan pembelajaran dalam diskusi kelompok.
b) Mahasiswa mampu menguasai bahan makalah dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok
1.3. Batasan Masalah
1.3.1. Pendahuluan
1.3.1.1. Latar Belakang
1.3.1.2. Tujuan Penulisan
1.3.1.3. Batasan Masalah
1.3.1.4. Metode penulisan
1.3.2. Pembahasan
1.3.2.1. Pengertian
1.3.2.2. Etiologi
1.3.2.3. Patofisiologi
1.3.2.4. Gejala Penyakit AIDS
1.3.2.5. Komplikasi
1.3.2.6. Penyakit yang Sering Menyerang Perilaku AIDS
1.3.2.7. Pengobatan
1.3.2.8. Penularan Penyakit AIDS
1.3.2.9. Cara Penularan
1.3.2.10. Manajemen Keperawatan
1.3.2.11. Pengkajian
1.3.2.12. Diagnosa Keperawatan
1.3.2.13. Perencanaan
1.3.2.14. Evaluasi
1.3.3. Kesimpulan dan Saran
1.3.3.1. Kesimpulan
1.3.3.2. Saran

1.4. Metode Penulisan
1.4.1. Library research/kepustakaan.
Dimana data dikumpulkan dari buku-buku yang membahas tentang AIDS, sampai kepada asuhan keperawatan pada pasien dengan AIDS.
1.4.2. Situs Website
Data dikumpulkan dari beberapa situs website di internet yang membahas tentang AIDS.











BAB 2
ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME
(AIDS)



2.1. Pengertian
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala.

2.2. Etiologi
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan demikian, gejala AIDS amat bervariasi.
Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek.

2.3. Patofisiologi
Setelah terinfeksi HIV, 50-70% penderita akan mengalami gejala yang disebut sindrom HIV akut. Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya yaitu berupa demam, sakit kepala, sakit tenggorok, mialgia (pegal-pegal di badan), pembesaran kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran menurun. Sindrom ini biasanya akan menghilang dalam beberapa mingggu. Dalam waktu 3 – 6 bulan kemudian, tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk antibodi. Masa 3 – 6 bulan ini disebut window periode, di mana penderita dapat menularkan namun secara laboratorium hasil tes HIV-nya masih negatif.

Setelah melalui infeksi primer, penderita akan masuk ke dalam masa tanpa gejala. Pada masa ini virus terus berkembang biak secara progresif di kelenjar limfe. Masa ini berlangsung cukup panjang, yaitu 5 10 tahun. Setelah masa ini pasien akan masuk ke fase full blown AIDS.

2.4. Gejala Penyakit AIDS
Gejala penyakit AIDS sangat bervariasi. Berikut ini gejala yang ditemui pada penderita AIDS :
• Panas lebih dari 1 bulan,
• Batuk-batuk,
• Sariawan dan nyeri menelan,
• Badan menjadi kurus sekali,
• Diare ,
• Sesak napas,
• Pembesaran kelenjar getah bening,
• Kesadaran menurun,
• Penurunan ketajaman penglihatan,
• Bercak ungu kehitaman di kulit.
Gejala penyakit AIDS tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena dapat merupakan gejala penyakit lain yang banyak terdapat di Indonesia, misalnya gejala panas dapat disebabkan penyakit tipus atau tuberkulosis paru. Bila terdapat beberapa gejala bersama-sama pada seseorang dan ia mempunyai perilaku atau riwayat perilaku yang mudah tertular AIDS, maka dianjurkan ia tes darah HIV.

2.5. Komplikasi
Berdasarkan data-data hasil penilaian komplikasi yang mungkin terjadi mencakup : (Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare, Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudarth ed. 8, EGC, Jakarta, 2001: 1734)
1) Infeksi oportunistik
2) Kerusakan pernapasan atau kegagalan respirasi
3) Syndrome pelisutan dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
4) Reaksi yang merugikan terhadap obat-obatan.
2.6. Penyakit yang Sering Menyerang Perilaku AIDS
Dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh, penderita menjadi lebih mudah terserang penyakit infeksi maupun kanker. Bahkan penyakit-penyakit inilah yang sering menjadi penyebab kematian penderita. Infeksi yang timbul karena melemahnya kekebalan tubuh ini disebut infeksi oportunistik. Sebagian besar penyakit infeksi yang timbul merupakan reaktivasi (pengaktifan kembali) kuman yang sudah ada pada penderita, jadi bukan merupakan infeksi baru. Sementara itu, untuk infeksi parasit/jamur tergantung prevalensi parasit/jamur di daerah tersebut. Berikut penyakit yang ditemukan pada penderita AIDS :
• Kandidiasis oral dan esophagus,
• Tuberkulosis paru/ekstrapulmoner,
• Infeksi virus sitomegalo,
• Pneumonia rekurens,
• Ensefalitis toksoplasma,
• Pneumonia P. Carinii,
• Infeksi virus herpes simpleks.

2.7. Pengobatan
Walau belum ada obat penyembuh AIDS, namun telah ditemukan beberapa obat yang dapat menghambat infeksi HIV dan beberapa obat yang secara efektif dapat mengatasi infeksi. Jadi sebagian besar masalah klinik dapat diobati, kualitas hidup dapat diperbaiki dan harapan hidup dapat ditingkatkan.
Pada umumnya pengobatan penderita AIDS dapat dibagi menjadi 3 yaitu pengobatan terhadap HIV, pengobatan terhadap infeksi oportunistik, dan pengobatan pendukung seperti nutrisi, olahraga, tidur, psikososial, dan agama.

2.8. Penularan Penyakit AIDS
Biaya pengobatan penyakit ini amat mahal, padahal hasilnya pun masih belum memuaskan, karena itu akan lebih baik mencegah timbulnya penyakit ini bila dibandingkan mengobati. Untuk melakukan upaya pencegahan perlu diketahui bagaimana cara penularan penyakit ini.
Pada prinsipnya penularan penyakit ini dapat melalui hubungan seksual, parenteral, dan perinatal. Kendati efektifitas penularan seksual sangat kecil dibandingkan jalur penularan lain, yaitu berkisar 0,1 – 1 %, tetapi karena frekuensi kejadiannya sangat besar maka prosentase penularan HIV secara seksual akhirnya menjadi sangat besar.

2.9. Cara Penularan
Berikut cara penularan pada 446 kasus AIDS di Indonesia (data sampai 30 November 2000).
• Hubungan seksual
• Pengguna narkotika suntik
• Perinatal
• Tranfusi darah

































BAB 3
MANAJEMEN KEPERAWATAN




3.1. Pengkajian
pengkajian keperawatan mencakup pengenalan factor risiko yang potensial, termasuk praktik seksual yang berisiko dan penggunaan obat-obatan Intravena. Status fisik dan psikologis pasien harus di nilai. Semua factor yang mempengaruhi fungsi system imun perlu digali dengan seksama.
Status nutrisi dinilai dengan menanyakan riwayat diet dan mengenalai factor-faktor yang dapat menggangu asupan oral seperti anoreksia, mual, vomitus, nyeri oral atau kesulitan menelan. Disamping itu, kemampuan pasien untuk membeli dan mempersiapkan makanan harus dinilai. Pertimbangan berat badan, pengukuran antropometrik, pemeriksaan kadar BUN (blood urea nitrogen), protein serum, albumin dan transperin akan memberikan parameter status nutrisi yang objektif.
Kulit dan membrane mukosa diinspeksi setiap hari untuk menemukan tanda-tanda lesi, ulserasi atau infeksi. Rongga mulut diperiksa untuk memantau gejala kemerahan , ulserasi dan adanya bercak-bercak putih seperti krim yang menunjukkan kandidiasis. Daerah perianal harus diperiksa untuk menemukan ekskoriasi dan infeksi pada pasien dengan diare profus. Pemeriksaan kultur luka dapat dimintakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang infeksius.
Status respiratorius dimulai dengan pemantauan pasien untuk mendeteksi gejala batuk, produksi sputum, napas yang pendek dan ortopnea, takipnea, dan nyeri dada. Keberadaan suara pernapasan dan sifatnya juga harus diperiksa. Ukuran fungsi paru yang lain mencakup hasil foto roentgen thoraks, hasil pemeriksaan gas darah arteri dan hasil tes faal paru.
Status neurologist ditentukan dengan menilai tingkat kesadaran pasien, orientasinya terhadap orang, tempat dan waktu serta ingatan yang hilang. Pasien juga di nilai untuk mendeteksi gangguan sensorik (perubahan visual, sakit kepala, patirasa dan parestesia pada ekstremitas) serta gangguan motorik (perubahan gaya jalan, paresis atau paralysis) dan serangan kejang.
Status cairan dan elektrolit dinilai dengan memeriksa kulit serta membrane mukosa untuk menetukan turgor dan kekeringan. Peningkatan rasa haus, penurunan haluaran urin, tekanan darah yang rendah dan penurunan tekanan sistolik antara 10 dan 15 mm Hg dengan disertai kenaikan frekuensi denyut nadi ketika pasien duduk, denyut nadi yang lemah serta cepat dan berat jenis urin sebesar 1,025 atau lebih, menunjukkan dehidrasi. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit seperti penurunan kadar natrium, kalium, kalsium, magnesium dan klorida dalam serum secara khas akan terjadi karena diare hebat. Pemeriksaan pasien juga dilakukan untuk menilai tanda-tanda dan gejala deplesi elektrolit ; tanda-tanda ini mencakup penurunan status mental, kedutan otot, denyut nadi yang tidak teratur, mual serta vomitus, dan pernapasan yang dangkal.
Tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya dan cara-cara penularan penyakit harus di evaluasi. Disamping itu, tingkat tingkat pengetahuan keluarga dan sahabat perlu dinilai. Reaksi psikologis pasien terhadap diagnosis penyakit AIDS merupakan informasi penting yang harus di gali. Reaksi dapat bervariasi antara pasien yang satu dengan yang lainnya dan dapat mencakup penolakan, amarah, rasa takut, rasa malu, menarik diri dari pergaulan social dan depresi. Pemahaman tentang cara pasien menghadapi sakitnya dan riwayat stress utama yang pernah dialami sebelumnya kerapkali bermanfaat. Sumber-sumber yang dimiliki pasien untuk memberikan dukungan kepadanya juga harus diidentifikasi.

3.2. Diagnosa
Daftar diagnosa keperawatan yang mungkin dibuat sangat luas karena sifat penyakit AIDS yang amat kompleks.
1) Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan manifestasi HIV ekskoriasi dan diare.
2) Diare yang berhubungan dengan kuman pathogen pada usus dan atau infeksi HIV.
3) Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan imunodefisiensi.
4) Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan keadaan mudah letih, kelemahan, malnutrisi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dan hipoksia yang yang menyertai infeksi paru.
5) Perubahan proses pikir yang berhubungan dengan penyempitan rentang perhatian, gangguan daya ingat, kebingungan dan disorientasi yang menyertai ensefelopati HIV.
6) Bersihan saluran napas tidak efektif yang berhubungan dengan pneumonia pneumocystis carinii (PCP), peningkatan sekresi bronkus dan penurunan kemampuan untuk batuk yang menyertai kelemahan serta keadaan mudah letih.
7) Nyeri yang berhubungan dengan gangguan integritas kulit perianal akibat diare, sarcoma Kaposi dan neuropati perifer.
8) Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh, yang berhubungan dengan penurunan asupan oral.
9) Isolasi social yang berhubungan dengan stigma penyakit, penarikan diri dari system pendukung, prosedur isolasi dan ketakutan apabila dirinya menulari orang lain.
10) Berduka diantisipasi yang berhubungan dengan perubahan gaya hidup serta peranannya dan dengan prognosis yang tidak menyenangkan.
11) Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara mencegah HIV dan perawatan mandiri.

3.3. Intervensi Keperawatan
1) Meningkatkan integritas kulit
 Kulit dan mukosa oral harus dinilai secara rutin untuk mendeteksi perubahan dalam penampakan, lokasi serta ukuran lesi dan menemukan bukti infeksi serta kerusakan kulit.
 Anjurkan pasien sedapat mungkin mempertahankan keseimbangan antara istirahat dan mobilitas. Pasien yang immobile (tidak dapat bergerak) harus dibantu untuk mengubah posisi tubuhnya setiap 2 jam sekali.
 Alat-alat seperti kasur dengan tekanan yang berubah-ubah dan tempat tidur khusus (low and high-air loss beds) digunakan untuk mencegah disrupsi kulit.
 Pasien diminta untuk tidak menggaruk dan mau menggunakan sabun yang nion abrasive serta tidak membuat kulit menjadi kering, dan memakai pelembab kulit tanpa parfum untuk mencegah kekeringan, kulit. Perawatan oral yang rutin harus dianjurkan pula.
 Lotion, salep, dan kasa steril yang dibubuhi obat (medicated) dapat digunakan pada kulit yang sakit sesuai ketentuan dokter. Penggunaan plester harus dihindari.
 Permukaan kulit dilindungi terhadap gesekan dengan menjaga agar kain sprei tidak berkerut dan menghindari pemakaian pakaian yang ketat. Pasien dengan lesi kaki dianjurkan menggunakan kaus kaki katun berwarna putih dan sepatu yang tidak membuat kaki berkeringat.
 Obat-obat antipruritus, antibiotic dan analgetik diberikan menurut ketentuan medik.
 Sering periksa daerah perianal nilai perubahan gangguan integritas kulit dan infeksi. Bersihkan setiap selesai defekasi dengan sabun nonabrasive.
2) Meningkatkan kebiasaan defekasi yang lazim.
 Nilai pola defekasi
 Pantau frekuensi defekasi serta konsistensi feses serta rasa sakit dan kram pada perut berkaitan dengan defekasi.
 Nilai faktor-faktor yang membuat diare yang frekuen kambuh kembali, ukur kuantitas dan volume feses, kultur feses dilakukan untuk mengidentifikasi mikroorganisme pathogen penyebab diare.
 Kolaborasi untuk cara-cara mengurangi diare yang perlu dilakukan pasien, pembatasan asupan oral serta control jenis makanan yang boleh di konsumsi.
3) Mencegah infeksi.
 Kepada pasien dan orang yang merawatnya diminta untuk memantau tanda-tanda infeksi ; seperti gejala demam/panas, menggigil, keringat malam, batuk dengan atau tanpa produksi sputum, napas yang pendek, kesulitan bernapas, rasa sakit pada mulut atau kesulitan menelan, bercak-bercak putih pada rongga mulut, penurunan berat badan, pembengkakan kelenjar limfe, mual, muntah, diare persisten, sering berkemih, sulit untuk mulai dan nyeri saat berkemih, sakit kepala, perubahan visual dan penurunan daya ingat, kemerahan, pembngkakan atau pengeluaran secret pada kulit, lesi vaskuler pada wajah, bibir atau daerah perianal.
 Pantau hasil laboratorium yanmg menunjukkan infeksi.
 Penyuluhan pasien mencakup strategi pencegahan infeksi.
4) Memperbaiki toleransi terhadap aktivitas.
 Pantau kemampuan pasien untuk bergerak (ambulasi), dan ADL pasien.
 Susun rencana rutinitas harian yang menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat yang mungkin diperlukan.
 Berikan terapi relaksasi dan imajinasi.
 Kolaborasi untuk pengungkapan penyebab mudah lelah serta strategi menghadapinya.
5) Memperbaiki proses berpikir.
 Periksa keadaan status mental pasien.
 Bantu pasien dan keluarga untuk memahami dan mengatasi semua perubahan yang terjadi dalam proses berpikir.
 Lakukan tindakan untuk melindungi pasien dari cedera, seperti ; penempatan lonceng dan tombol pemanggil yang mudah dijangkau.
6) Memperbaiki bersihan jalan napas.
 Kaji status respiratorius, mencakup frekuensi, irama, penggunaan otot-otot aksesorius dan suara pernapasan.
 Lakukan pengambilan specimen sutum untuk dianalisis.
 Terapi pulmoner dilakukan sedikitnya setiap dua jam sekali untuk mencegah stasis sekresi dan meningkatkan bersihan jalan napas.
 Berikan bantuan dalam merubah posisi.
 Berikan kesempatan istirahat yang cukup.
 Berikan oksigen yang sudah dilembabkan untuk tindakan pengisapan lender (suctioning) untuk mempertahankan ventilasi yang memadai.
7) Meredakan Nyeri dan Ketidaknyamanan.
 Nilai kualitas dan kuantitas nyeri pasien yang berkaitan dengan terganggunya integritas kulit perianal, lesi sarcoma Kaposi dan neuropati perifer.
 Bersihkan daerah perianal untuk memberikan kenyamanan.
 Preparat anastesi topical atau salep dapat diresepkan
 Gunakan bantal yang lunak atau busa untuk kenyamanan saat duduk.
 Kolaborasi untuk penggunaan preparat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) pada nyeri akibat sarcoma Kaposi. Dan opoid, antidepresan untuk neuropati perifer.
8) Memperbaiki status nutrisi.
 Pantau berat badan, asupan makanan, hasil pengukuran antropometrik.
 Kaji faktor-faktor yang mengganggu asupan oral seperti anoreksia, infeksi kandida pada mulut serta esophagus, mual, nyeri, kelemahan dan keadaan mudah letih seerta intoleransi laktosa.
 Berikan obat antiemetik secara teratur untuk mengendalikan mual dan muntah.
 Anjurkan pasien memakan makanan yang mudah ditelan dan meghindari makanan yang kasar, pedas ataupun lengket serta terlalu panas atau dingin.
 Anjurkan pasien melakukan hygiene oral sebelum dan atau sesudah makan.
 Anjurkan pasien istirahat sebelum makan, jika keadaan pasien mudah lelah.
 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk masalah diet atau asupan gizi yang diperlukan pasien.

9) Mengurangi isolasi social.
 Lakukan penilaian tingkat interaksi social pasien.
 Lakukan tindakan pengendalian infeksi dirumah sakit atau dirumah untuk memberikan kontribusi atas emosi pasien.
 Perawat harus memahami dan menerima penderita AIDS dan keluarga serta pasangan seksualnya.
 Berikan informasi tentang cara melindungi diri sendiri dan orang lain dapat membantu pasien agar tidak menghindar kontak social.
 Pendidikan bagi dokter, perawat akan megurangi faktor-faktor yang turut membuat pasien meras terisolasi.
10) Koping terhadap kesedihan.
 Bantu pasien mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaannya.
 Motivasi pasien untuk mempertahankan kontak dengan keluarga serta sahabatnya dan memanfaatkan kelompok-kelompok pendukung AIDS local maupun nasional serta saluran telepon hotline.
11) Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah.
 Beritahukan kepada keluarga dan sahabat-sahabat pasien tentang cara-cara penularan AIDS. Bicarakan masalah ketakutan dan kesalahpahaman dengan seksama.
 Sampaikan tindakan penjagaan yang diperlukan untuk mencegah penularan virus HIV, termasuk penggunaan kondom selama melakukan hubungan seksual.

3.4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1. Mempertahankan integritas kulit.
2. mendapatkan kembali kebiasaan defekasi yang normal.
3. Tidak mengalami infeksi.
4. Mempertahankan tingkat toleransi yang memadai terhadap aktivitas.
5. Mempertahankan tingkat proses berpikir yang lazim.
6. mempertahankan klirens saluran napas yang efektif.
7. Mengalami peningkatan rasa nyaman, penurunan rasa nyeri.
8. Mempertahankan status nutrisi yang memadai.
9. Mengalami pengurangan perasaan terisolir dari pergaulan social.
10. melewati proses kesedihan/dukacita.
11. melaporkanpeningkatan pemahaman tentang penyakit AIDS serta turut berpartisipasi sebanyak mungkin dalam kegiatan keperawatan mandiri.
12. tidak adanya komplikasi.





























BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN



4.1. Kesimpulan
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala.
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan demikian, gejala AIDS amat bervariasi.
Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek.

4.2. Saran
Perawat dari segala bidang pekerjaan dapat diminta untuk memberikan perawatan kepada penderita infeksi HIV. Tantangan yang dihadapi perawat disini bukan hanya tantangan fisik penyakit yang bersifat epidemic tapi juga masalah emosi dan etis. Kekhawatiran, ketakutan akan tertular penyakit tersebut dialami oleh perawat, tetapi di satu sisi itu merupakan tanggung jawab untuk memberikan perawatan, penghargaan terhadap klarifikasi, kerahasiaan pasien.
Perlu diingat bahwa disini perawat tetap bertanggung jawab terhadap kerahasiaan dan privasi pasien. Perawat setiap hari bergelut dengan orang-orang yang sakit dan kematian, dan AIDS adalah penyakit dengan tingkat mortalitas yang tinggi, yang kematiannya relative cepat, dan yang terutama adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Maka akan terjadi peningkatan stressor perawat, untuk menghindari itu pahami betul apa yang sedang kita hadapi. Proteksi diri kita sendiri, cegah infeksi dan penularan penyakit tersebut pada saat kita harus berhadapan dengannya, karena itu merupakan tanggungg jawab kita. Jangan sampai menunjukkan perasaan takut dan cemas tersebut dihadapan pasien karena itu sangat tidak etis, sebab kita merupakan orang yang dituntut untuk tahu banyak tentang penyakit AIDS dan pencegahan penularannya.































DAFTAR PUSTAKA





Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare, Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudarth ed. 8, EGC, Jakarta, 2001.
Marylinn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan Ed.3, EGC, Jakarta, 1999.
Dr. H. Sujudi, Mikrobiologi Kedokteran, Binarupa Aksara, Jakarta, 1994.
http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0604_aids.htm

SUPERVISI DALAM MENEJEMEN KEPERAWATAN

SUPERVISI DALAM KEPERAWATAN

PENDAHULUAN
Supervisi dan evaluasi merupakan bagian yang penting dalam manajemen serta keseluruhan tanggung jawab pemimpin. Pemahaman ini juga ada dalam manajemen keperawatan. Untuk mengelola asuhan keperawatan dibutuhkan kemampuan manajemen dari Perawat profesional. Oleh karena itu sebagai seorang manajer keperawatan atau sebagai Perawat profesional diharapkan mempunyai kemampuan dalam supervisi dan evaluasi.

Supervisi merupakan bagian dari fungsi directing pengarahan (dalam fungsi manajemen yang berperan untuk mempertahankan agar segalam kegiatan yang telah diprogram dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Supervisi secara langsung memungkinkan manajer keperawatan menemukan berbagai hambatan/permasalahan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di ruangan dengan mencoba memandang secara menyeluruh faktor-faktor yang mempengaruhi dan bersama dengan staf keperawatan untuk mencari jalan pemecahannya.

Sukar seorang manajer keperawatan untuk mempertahankan mutu asuhan keperawatan tanpa melakukan supervisi, karena masalah –masalah yang terjadi di unit keperawatan tidak seluruhnya dapat diketahui oleh manajer keperawatan melalui informasi yang diberikan oleh staf keperawatan yang mungkin sangat terbatas tanpa melakukan supervisi keperawatan.

PENGERTIAN SUPERVISI
Supervisi mempunyai pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi segalam bantuan dari pemimpin/penanggung jawab keperawatan yang tertuju untuk perkembangan para perawat dan staf lainnya dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan.
Kegiatan supervisi semacam ini adalah merupakan dorongan, bimbingan dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan para perawat.

Prajudi Atmosudiro (1982), Supervisi diartikan sebagai pengamatan atau pengawasan secara langsung terhadap pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya rutin.

Swansburg (1999), Supervisi adalah suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan untuk penyelesaian tugas-tugasnya.

Thora Kron (1987), Supervisi adalah merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong, memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi secara terus menerus pada setiap perawat dengan sabar, adil serta bijaksana sehingga setiap perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik, terampil, aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dari perawat.

Supervisi mengandung pengertian yang lebih demokratis. Dalam pelaksanaannya supervisi bukan hanya mengawasi apakah seluruh staf keperawatan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan instruksi atau ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga bersama para perawat bagaimanan memperbaiki proses keperawatan yang sedang berlangsung. Jadi dalam kegiatan supervisi seluruh staf keperawatan bukan sebagai pelaksanan pasif, melainkan diperlukan sebagai patner kerja yang memiliki ide-ide, pendapat dan pengalaman yang perlu didengar, dihargai dan diikutsertakan dalam usaha-usaha perbaikan proses keperawatan. Dengan demikian supervisi diartikan sebagai suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para tenaga keperawatan dan staf lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Supervisor harus mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman. Ini tidak hanya meliputi lingkungan fisik, tetapi juga suasana kerja diantara para tenaga keperawatan dan tenaga lainnya. Juga meliputi jumlah persediaan dan kelayakan peralatan agar memudahkan pelaksanaan tugas. Lingkungan yang sehat bila dapat memberikan rasa bebas dan keinginan untuk bekerja lebih baik. Supervisor juga mengusahakan semangat kebersamaan dengan lebih menekankan “kita” daripada “saya”.

Pada suatu saat supervisor akan memerlukan bantuan dalam mengambil keputusan melalui pengamalan dalam tugas untuk menemukan metoda yang lebih baik guna melaksankan pendelegasian tugas dalam kelompok kerja, tentu memerlukan dukungan dari anggota kelompok. Walaupun supervisor memperhatikan kondisi dan hasil kerja, tetapi perhatian utama ialah manusianya, untuk itu harus mengenal tiap individu dan mampu merangsang agar tiap pelaksana mau meningkatkan diri. Salah satu tujuan utama dari supervisi adalah orientasi, latihan dan bimbingan individu, berdasarkan kebutuhan individu dan mengarah pada pemanfaatan kemampuan dan pengembangan ketrampilan yang baru.

Dalam pelaksanaan supervisi, supervisor membuat suatu keputusan tentang suatu pekerjaan yang akan dilaksanakan, kemudian siapa yang akan melaksanakan. Untuk itu supervisor perlu memberikan penjelasan dalam bentuk arahan kepada para pelaksana.

SASARAN SUPERVISI
Sasaran yang harus dicapai dalam supervisi adalah sebagai berikut :
1. Pelaksanan tugas sesuai dengan pola
2. Struktur dan hirarki sesuai dengan rencana
3. Staf yang berkualitas dapat dikembangkan secara kontinue/sistematis
4. Penggunaan alat yang efektif dan ekonomis.
5. Sistem dan prosedur yang tidak menyimpang
6. Pembagian tugas, wewenang ada pertimbangan objek/rational
7. Tidak terjadi penyimpangan/penyelewengan kekuasaan, kedudukan dan keuangan.

TUJUAN SUPERVISI

Mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman, ini tidak hanya meliputi lingkungan fisik, tetapi juga suasana kerja diantaranya para tenaga keperawatan dan tenaga lainnya , juga meliputi jumlah persediaan dan kelayakan perawatan agar memudahkan pelaksanaan tugas. Oleh karena itu tujuan supervisi adalah :

1.Mengorganisasikan staf dan pelaksanan keperawatan
2.Melatih staf dan pelaksana keperawatan
3.Memberikan arahan dalam pelaksanaan tugasnya agar menyadari dan mengerti terhadap peran, fungsi sebagai staf dan pelaksana asuhan keperawatan.
4.Memberikan layanan kemampuan staf dan pelaksana keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan.

KOMPETENSI

Seorang supervisor harus memiliki kemampuan dalam :
1.Memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas, sehingga dapat dimengerti oleh staf dan pelaksana keperawatan.
2.Memberikan saran, nasehat dan bantuan kepada staf/pelaksana keperawatan
3.Memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja staf dan pelaskanaan keperawatan
4.Proses kelompok (dinamika kelompok)
5.Memberikan latihan dan bimbingan yang diperlukan oleh staf dan pelaksanaan keperawatan
6.Melakukan penilaian terhadap penampilan kinerja perawat
7.Mengadakan pengawasan agar asuhan keperawatan lebih baik.

FUNGSI

1.Dalam keperawatan fungsi supervisi adalah untuk mengatur dan mengorganisir proses pemberian pelayanan keperawatan yang menyangkut pelaksanaan kebijakan pelayanan keperawatan tentang standar asuhan yang telah disepakati.
2.Fungsi utama supervisi modern adalah menilai dalam memperbaiki factor-factor yang mempengaruhi proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan.
3.Fungsi utama supervisi dalam keperawatan adalah mengkoordinasikan, menstimuli, dan mendorong ke arah peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
4.Fungsi supervisi adalah membantu (assisting), memberi support (supporting) dan mangajak untuk diikutsertakan (sharing).

PRINSIP

Prinsip-prinsip supervisi dalam keperawatan adalah :
1.Didasarkan atas hubungan profesional dan bukan pribadi
2.Kegiatan yang direncanakan secara matang
3.Bersifat edukatif, supporting dan informal
4.Memberikan perasaan aman pada staf dan pelaksanaan keperawatan
5.Membentuk suatu kerjasama yang demokratis antara supervisor dan staf dan pelaksana keperawatan.
6.Harus objektif dan sanggup mengadakan “self evaluation”.
7.Harus progresif, inovatif, fleksibel dan dapat mengembangkan kelebihan masing-masing
8.Konstruktif dan kreatif dalam mengembangkan diri disesuaikan dengan kebutuhan.
9.Dapat meningkatkan kinerja bawahan dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.

KARAKTERISTIK

Dalam keperawatan, supervisi yang baik apabila memiliki karekteristik :
1.mencerminkan kegiatan asuhan keprawatan yang sesungguhnya
2.mencerminkan pola organisasi/struktur organisasi keperawatan yang ada
3.kegiatan yang berkesinambungan yang teratur atau berkala
4.dilaksanakan oleh atasan langsung (Kepala unit/Kepala Ruangan atau penanggung jawab yang ditunjuk).
5.Menunjukkan kepada kegiatan perbaikan dan peningkatan kualitas asuhan keperawatan.

CARA SUPERVISI

1.Langsung

Supervisi dilakukan langsung pada kegiatan yang sedang berlangsung. Pada supervisi modern diharapkan supervisor terlibat dalam kegiatan agar pengarahan dan pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai perintah. Cara memberikan pengarahan yang efektif adalah :
Pengarahan harus lengkap
Mudah dipahami
Menggunakan kata-kata yang tepat
Berbicara dengan jelas dan lambat
Berikan arahan yang logis
Hindari memberikan banyak arahan pada satu saat
Pastikan bahwa arahan dipahami
Yakinkan bahwa arahan anda dilaksanakan atau perlu tindak lanjut


2.Tidak langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan,. Supervisor tidak melihat langsung kejadian di lapangan, sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis.

KEGIATAN RUTIN SUPERVISOR

Tugas-tugas rutin yang harus dilakukan oleh supervisor setiap harinya (bittel,a987) adalah sebagai berikut:

1.Sebelum pertukaran shift (15-30 menit)

Mengecek kecukupan fasilitas/peralatan/sarana untuk hari itu
Mengecek jadwal kerja

2.Pada waktu mulai shift (15-30 menit)

Mengecek personil yang ada
Menganalisa keseimbangan personil dan pekerjaan
Mengatur pekerjaan
Mengidentifikasi kendala yang muncul
Mencari jalan supaya pekerjaan dapat diselesaikan.

3.Sepanjang hari dinas (6-7 jam):

Mengecek pekerjaan setiap personil, dapat mengarahkan, instruksi, mengoreksi atau memberikan latihan sesuai kebutuhannya.
Mengecek kemajuan pekerjaan dari personil sehingga dapat segera membantu apabila diperlukan
Mengecek pekerjaan rumah tangga
Mengecek kembali pekerjaan personil dan kenyamanan kerja, terutama untuk personil baru.
Berjaga-jaga di tempat apabila ada pertanyaan, permintaan bantuan atau hal-hal yang terkait.
Mengatur jam istirahat personil
Mendeteksi dan mencatat problem yang muncul pada saat itu dan mencari cara memudahkannya.
Mengecek kembali kecukupan alat/fasilitas/sarana sesuai kondisi operasional
Mencatat fasilitas/sarana yang rusak kemudian melaporkannya
Mengecek adanya kejadian kecelakaan kerja
Menyiapkan dan melaporkan secara rutin mengenai pekerjaan.

4.Sekali dalam sehari (15-30 menit)

Mengobservasi satu personil atau area kerja secara kontinu untuk 15 menit. Melihat dengan seksama hal-hal yang mungkin terjadi seperti : Keterlambatan pekerjaan, lamanya mengambil barang, kesulitan pekerjaan dan lain sebagainya.

5.Sebelum pulang

Membuat daftar masalah yang belum terselesaikan dan berusaha untuk memecahkan persoalan tersebut keesokan harinya.
Pikirkan pekerjaan yang telah dilakukan sepanjang hari dengan mengecek hasilnya, kecukupan material dan peralatannya.
Lengkapi laporan harian sebelum pulang
Membuat daftar pekerjaan untuk harinya, membawa pulang memperlajari di rumah sebelum pergi bekerja kembali.

SUPERVISOR KEPERAWATAN

Yang termasuk supervisor keperawatan adalah:

1.Kepala ruangan, kepala ruangan bertanggung jawab dalam supervisi pelayanan keperawatan diunit kerjanya. Kepala rungan merupakan ujung tombak penentu tercapai tidaknya tujuan pelayanan dalam memberikan asuhan keperawatan dan pendokumentasian di unit kerjanya.

2.Pengawas Keperawatan, beberapa ruangan atau unit pelayanan berada di bawah satu instalasi, pengawas perawatan bertanggung jawab dalam melakukan supervisi pada areanya yaitu beberapa kepala ruangan yang berada dalam satu instalasi tertentu, misalnya instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan dan lain-lain.

3.Kepala seksi, beberapa instansi digabung dibawah satu pengawasan kepala seksi. Kepala seksi mengawasi pengawas keperawatan dalam melaksanakan tugas secara langsung dan seluruh perawat secara tidak langsung.

4.Kepala Bidang keperawatan, Kabid Keperawatan bertanggung jawab untuk melakukan supervisi kepada kepala seksi secara langsung dan semua perawat secara tidak langsung.

Dengan demikian supervisi berikatan dengan struktur organisasi yang menggambarkan garis tanggung jawab, siapa yang menjadi supervisor dan siapa yang disupervisi.

PERAN DAN FUNGSI KEPALA RUANGAN
Pada kesempayan ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah peran dan fungsi kepala ruangan dalam meningkatkan asuhan keperawatan, melalui supervisi.

Menutur Depkes RI 1994, “ Kepala ruangan adalah seorang tenaga perawat profersional yang diberi tanggung jawab dan wewenang dalam mengelola kegiatan pelayanan keperawatan di satu ruang rawat.”

Tanggung jawab kepala rungan dapat diidentifikasi sesuai dengan perannya meliputi:

1.Manajemen personalia/ketenagaan, meliputi penerimaan, seleksi, orientasi, pengembangan tenaga, penilain penampilan kerja, promosi dan penyediaan ketenagaan staf keperawatan.
2.Manajemen operasional, meliputi perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan dalam pelayanan keperawatan.
3.Manajemn kuliatas pelayan, meliputi pengembangan standar asuhan keperarawatan, program kendali mutu, program evaluasi team dan persiapan untuk akreditasi pelayanan keperawatan.
4.Manajemen finansial, meliputi budget, cost control dalam pelayanan keperawatan.

Penerapan kepemimpinan dalam keperawatan
Pemberian pelayanan dan asuhan keperawatan merupakan suatu kegiatan yang kompleks dan melibatkan berbagai individu. Agar tujuan keperawatan tercapai maka diperlukan berbagai kegiatan dalam menerapkan kepeminpinan khususnya bagi kepala rungan menurut Kron (1981) kegiatan tersebut meliputi: Perencanaan dan pengorganisasian, membuat penugasan dan memberi pengarahan, pemberian bimbingan, mendorong kerja sama dan berpartisipasi, melakukan koordinasi kegiatan dan melakukan evaluasi hasil penampilan kerja.

Melalui kegiatan-kegiatan ini diharapkan kepala ruangan dapat melakukan tanggung jawabnya sebagai manajer dan pemimpin yang efektif.

Dalam melaksanakan pelayanan dan asuhan keperawatan kepala ruangan sebagai pemimpin bertanggung jawab dalam :
1)Membantu perawat lain mencapai tujuan yang ditentukan
2)Mengarahkan kegiatan-kegiatan keperawatan
3)Bertanggung jawab atas tindakan keperawatan yang dilakukan
4)Pelaksanaan keperawatan sebagai standar
5)Penyelesaian pekerjaan dengan benar
6)Pencapaian tujuan keperawatan
7)Memperhatikan kesejahteraan bawahan
8)Memotivasi bawahan

PENUTUP

Supervisi keperawatan diperlukan untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan di rumah sakit, supervisi bukan berarti menghukum tetapi memberikan pengarahan dan petunjuk agar perawat dapat menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien.
Supervisor diharapkan mempunyai hubungan interpersonal yang memuaskan dengan staf agar tujuan supervisi dapat tercapai untuk meningkatkan motivasi, kreativitas dan kemampuan perawat yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.

MATUR NUWUN.......

Kamis, 16 September 2010

HASIL PENELITIAN DM TIPE 1 DI RSUD SUKA DEMAK

A. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini berusaha mengutarakan perbedaan efektifitas antara metode diskusi dan metode problem solving pada upaya peningkatan pengetahuan dan sikap penderita terhadap DM, sehingga dapat dikatakan bahwa beberapa hal menyangkut penelitian yang dilakukan sebagai berikut.
1. Materi lebih menitikberatkan pada upaya penanganan dan pencegahan terhadap penyakit DM.
2. Metode pendidikan kesehatan yang digunakan adalah diskusi dan problem solving.
3. Responden adalah pasien DM pada RSD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak.
Apabila melihat kekhususan yang penulis terapkan dalam proses penelitian yang dilaksanakan, maka tetap ada beberapa keterbatasan yang penulis temukan. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode diskusi dan metode problem solving, padahal untuk melaksanakan promosi kesehatan terutama pencegahan penyakit DM ini dapat dilakukan dengan metode lain.
Lingkup responden yang kecil, yang hanya diwakili 3 (tiga) kelompok responden dalam satu rumah sakit masih dapat diperluas dengan jumlah responden yang lebih banyak serta lingkup daerah penelitian yang lebih luas. Namun karena keterbatasan sumber daya yang ada, maka penulis hanya melakukan seperti yang diuraikan di atas.

B. Karakteristik Responden
1. Umur.
Tabel 4.1
Umur Responden
No. Kelompok Umur Diskusi Problem
Solving Kontrol Jumlah Persentase
(%)

1 40 - 44 7 7 4 18 20.00
2 45 - 49 6 5 5 16 17.78
3 50 - 54 8 8 8 24 26.67
4 55 - 59 7 7 8 22 24.44
5 60 - 64 1 2 3 6 6.67
6 65 - 69 1 1 0 2 2.22
7 70 - 74 0 0 1 1 1.11
8 75 - 79 0 0 1 1 1.11
9 80 - 84 0 0 0 0 0,00


J u m l ah 30 30 30 90 100.00

Berdasarkan hasil rekapitulasi data umum dari ketiga kelompok responden penelitian yaitu kelompok diskusi, problem solving dan kontrol, diketahui bahwa umur termuda adalah 40 tahun dan yang tertua 76 tahun. Selanjutnya guna memudahkan pembacaan data, peneliti melakukan pengelompokkan umur dengan interval 5 pada setiap kelompok responden. Gambaran selengkapnya deskripsi umur ini tercantum pada tabel 4.1 di bawah ini.
Merujuk pada data tabel 4.1, diketahui bahwa kelompok umur 50-54 adalah yang terbanyak yaitu 24 orang atau sebesar 26,67%. Sedangkan untuk kelompok umur yang tidak ada anggotanya adalah kelompok umur 80 -84.
2. Pendidikan.
Tabel 4.2
Pendidikan Responden
No. Tingkat Pendidikan Diskusi Problem
Solving Kontrol Jumlah Persentase
(%)

1 SLTP 5 3 4 12 13.33
2 SLTA 17 15 15 47 52.22
3 Diploma III 2 5 4 11 12.22
4 Sarjana (S-1 / S-2) 6 7 7 20 22.22

J u m l ah 30 30 30 90 100.00

Merujuk pada data tabel di atas diketahui bahwa tingkat pendidikan SLTA adalah yang terbanyak yaitu 47 orang atau sebesar 52,22%. Sedangkan pendidikan Diploma III adalah yang paling sedikit yaitu 11 orang atau sebesar 12.22%.

3. Pekerjaan.
Tabel 4.3
Pekerjaan Responden
No. Jenis Pekerjaan Diskusi Problem
Solving Kontrol Jumlah Persentase
(%)

1 PNS / ABRI / POLRI 19 23 25 67 74.44
2 Swasta 3 6 5 14 15.56
3 Petani 2 0 0 2 2.22
4 Nelayan 0 0 0 0 0.00
5 Ibu Rumah Tangga 0 0 0 0 0.00
6 Lain-lain 6 1 0 7 7.78

J u m l ah 30 30 30 90 100.00

Berdasarkan data yang tercantum pada tabel di atas diketahui bahwa jenis pekerjaan PNS / ABRI / POLRI adalah yang terbanyak yaitu 67 orang atau 74,44%. Sedangkan jenis pekerjaan nelayan dan ibu rumah tangga tidak ada perwakilannya. Perlu disampaikan di sini bahwa jenis pekerjaan lain-lain diperuntukkan bagi jenis-jenis pekerjaan yang belum termasuk pada kelima pekerjaan sebelumnya. Pada kelompok diskusi dan problem solving, jenis pekerjaan lain-lain diisi oleh responden dengan jenis pekerjaan pensiunan.

4. Pendapatan.
Tabel 4.4
Pendapatan Responden
No. Pendapatan Diskusi Problem
Solving Kontrol Jumlah Persentase
(%)

1 < Rp. 1.000.000 8 2 8 18 20.00
2 Rp. 1.000.000 - 2.000.000 20 21 20 61 67.78
3 > Rp. 2.000.000 2 7 2 11 12.22

J u m l ah 30 30 30 90 100.00

Merujuk pada data yang tercantum pada tabel di atas diketahui bahwa responden dengan pendapatan antara Rp. 1.000.000,- sampai dengan Rp. 2.000.000,- adalah yang terbanyak yaitu 61 orang atau sebesar 67,78%. Sementara itu untuk responden dengan pendapatan lebih besar dari (>) Rp. 2.000.000,00 adalah yang paling sedikit yaitu 11 orang atau sebesar 12,22%.
5. Asal / Alamat Responden.
Tabel 4.5
Alamat Responden
No. Alamat
Responden Diskusi Problem
Solving Kontrol Jumlah Persentase
(%)

1 Dalam Kota 18 22 22 62 68.89
2 Desa / Luar Kota 12 8 8 28 31.11

J u m l ah 30 30 30 90 100.00

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa asal / alamat responden sebagian besar adalah dari dalam kota, yaitu sebanyak 62 orang atau sebesar 68,89%. Sementara itu sisanya yaitu 28 orang atau 31,11% berasal dari luar kota.

C. Analisis Pengetahuan dan Sikap dengan Metode Diskusi dan Problem Solving
1. Pengetahuan
Pengetahuan dalam penelitian ini adalah kemampuan responden untuk menjawab tes pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus dan penatalaksanaannya, sebelum dan sesudah perlakuan dengan menggunakan bentuk soal pilihan salah satu benar sebanyak 30 buah, setiap jawaban yang benar mendapatkan nilai 2 dan jawaban yang salah bernilai 1. Berikut hasil penelitian yang didapat.
a. Hasil Pre-Test Pengetahuan
Tabel 4.6
Deskripsi Nilai Pengetahuan Responden Tahap Pre-Test
Diskusi Problem Solving Kontrol
N 30 30 30
Nilai Minimum 30 33 35
Nilai Maksimum 47 48 48
Rata-rata 40.5000 41.3667 41.9333
Standar Deviasi 4.4548 4.5295 3.3726

Nilai N menyatakan jumlah observasi yang dinyatakan valid (tersedia) yaitu 30 untuk setiap kelompok, dengan demikian karena pada setiap kleompok jumlah N nya adalah 30 maka bisa dikatakan bahwa tidak ada data yang hilang (missing).
Mean atau nilai rata-rata menunjukkan bahwa sebaran kumulatif jawaban responden ada di sekitar angka tersebut. Hasil pengukuran terhadap tingkat pengetahuan 30 responden sebelum perlakuan (pre-test) diperoleh rerata 40,5000 untuk kelompok diskusi, 41,3667 untuk kelompok problem solving dan 41,9333 untuk kelompok kontrol.
Standar deviasi menyatakan rerata jarak masing-masing responden dengan rerata jawaban bersama. Semakin kecil standar deviasi, maka semakin kecil sebaran terjadi terhadap skor jawaban. Secara berurutan nilai standar deviasi mulai dari yang terkecil adalah : kelompok kontrol (3.3726), kelompok diskusi (4.4548) dan terakhir kelompok problem solving (4.5295).
Hasil uji-t terhadap skor jawaban antara kelompok diskusi dengan problem solving didapatkan nilai –1,819 dengan probabilitas 0,079 > 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna darihasil pre-test kelompok diskusi dan problem solving. Dengan kata lain kedua kelompok berangkat dari pengetahuan yang sama mengenai penyakit diabetes mellitus.

b. Hasil Post-Test Pengetahuan
Tabel 4.7
Deskripsi Nilai Pengetahuan Responden Tahap Post-Test
Diskusi Problem Solving Kontrol
N 30 30 30
Nilai Minimum 35 38 35
Nilai Maksimum 50 50 48
Rata-rata 45.0333 46.7667 42.5667
Standar Deviasi 4.0042 3.02977 3.0703

Selanjutnya berikut ini dideskripsikan nilai post-test dari variabel pengetahuan untuk ketiga kelompok penelitian. Jumlah observasi yang dinyatakan valid (tersedia) yaitu N=30 untuk masing-masing kelompok, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada data yang hilang (missing). Berdasarkan data yang tercantum pada tabel di atas diketahui bahwa mean atau nilai rata-rata yang menunjukkan besaran nilai yang mempunyai jarak sama antara nilai minimum dengan maksimum untuk kelompok diskusi sebesar 45.0333; kelompok problem solving sebesar 46.7667 dan kelompok kontrol sebesar 42.5667. Kemudian untuk nilai standar deviasi, kelompok kontrol mempunyai nilai sebaran yang paling kecil yaitu 3.0703 kemudian kelompok problem solving sebesar 3.02977 dan kelompok diskusi 4.0042.
Selanjutnya untuk melihat perbedaan yang terjadi antara sebelum perlakuan dengan sesudah perlakukan, dilakukan uji t-test dengan maksud untuk mendapatkan informasi tentang efektivitas perlakuan yang telah diberikan. Hasil uji t-test untuk variabel pengetahuan pada kelompok diskusi antara sebelum dengan sesudah diskusi sebesar -5.321. Nilai tersebut lebih besar dari nilai t-table pada derajat kebebasan (dk) = 29 dengan alpha (α) = 0,05 yaitu sebesar 2,042. Secara grafis untuk menggambarkan keberadaan nilai t hitung tersebut pada daerah penolakan hipotesis nol adalah :
Daerah penolakan Ho Daerah penolakan Ho



Daerah penerimaan
Ho


- 2,042 + 2,042
Gambar 4.1
Nilai t-test Variabel Pengetahuan untuk Kelompok Diskusi
Kemudian untuk hasil uji t-test variabel pengetahuan pada kelompok problem solving antara sebelum dengan sesudah perlakuan, sebesar –7,187. Nilai tersebut lebih besar dari nilai t-table pada derajat kebebasan (dk) = 29 dengan alpha (α) = 0,05 yaitu sebesar 2,042. Selanjutnya hasil uji t-test untuk kelompok terakhir yaitu kelompok kontrol memberikan informasi bahwa nilai t hitung sebesar sebesar –1,841. Nilai tersebut lebih besar dari nilai t-table pada derajat kebebasan (dk) = 29 dengan alpha (α) = 0,05 yaitu sebesar 2,042.


Daerah penolakan Ho Daerah penolakan Ho



Daerah penerimaan
Ho


- 2,042 + 2,042
Gambar 4.2
Nilai t-test Variabel Pengetahuan untuk Kelompok
Problem Solving

2. Sikap
Sikap dalam penelitian ini merupakan respon atau tanggapan responden tentang penyakit Diabetes Mellitus dan penatalaksanaannya, diukur dengan menggunakan Skala Likert berisi empat alternatif jawaban yaitu sangat setuju (4), setuju (3), tidak setuju (2) dan sangat tidak setuju (1). Selanjutnya deskripsi hasil penelitian untuk variabel sikap tercantum pada table berikut ini.

a. Hasil Pre-Test Variabel Sikap
Tabel 4.8
Deskripsi Nilai Sikap Responden Tahap Pre-Test
Diskusi Problem Solving Kontrol
N 30 30 30
Nilai Minimum 45 46 45
Nilai Maksimum 79 80 80
Rata-rata 62.0000 64.0000 63.4667
Standar Deviasi 9.5267 8.7494 9.9749

Berdasarkan hasil pengolahan data, jumlah observasi yang dinyatakan valid (tersedia) yaitu N=30 untuk masing-masing kelompok, atau bisa dikatakan tidak terdapat data yang hilang (missing). Nilai minimum untuk kelompok diskusi adalah 45, nilai maksimum 79 dengan rerata sebesar 62,0000 dan standar deviasi sebesar 9.5267. Kemudian untuk kelompok problem solving, nilai minimumnya sebesar 46, nilai maksimum sebesar 80, mean atau rerata sebesar 64.000 dan standar deviasi 8.7494. Sedangkan untuk kelompok kontrol, nilai minimumnya adalah 45, maksimum sebesar 80, nilai rata-rata 63,4667 dan standar deviasi senilai 9.9749.
Merujuk pada data tabel tersebut bisa diketahui pula bahwa nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi untuk kelompok diskusi dan kontrol adalah sama. Apabila dibandingkan dengan kelompok problem solving maka nilai rerata kelompok diskusi lebih besar dan nilai standar deviasinya lebih kecil.
Hasil uji-t terhadap skor jawaban antara kelompok diskusi dengan problem solving didapatkan nilai –1,980 dengan probabilitas 0,0057 > 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna dari hasil pre-test kelompok diskusi dan problem solving. Dengan kata lain kedua kelompok berangkat dari sikap yang sama mengenai penyakit diabetes mellitus.
b. Hasil Post-Test Variabel Sikap
Tabel 4.9
Deskripsi Nilai Sikap Responden Tahap Post-Test
Diskusi Problem Solving Kontrol
N 30 30 30
Nilai Minimum 49 50 50
Nilai Maksimum 80 80 80
Rata-rata 65.2333 67.5000 65.2000
Standar Deviasi 10.1155 9.6517 9.8380

Berdasarkan data yang tercantum pada tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata untuk kelompok diskusi sebesar 65,2333, sedangkan untuk kelompk problem solving adalah 67.5000 dan kelompok kontrol 65.2000.
Selanjutnya hasil uji t-test untuk varaibel sikap pada kelompok diskusi antara sebelum dengan sesudah diskusi sebesar –2,993. Nilai tersebut lebih besar dari nilai t-table pada derajat kebebasan (dk) = 29 dengan alpha (α) = 0,05 yaitu sebesar 2,042. Sementara itu untuk hasil uji t-test pada kelompok problem solving sebesar –2.968. Nilai tersebut lebih besar dari nilai t-table pada derajat kebebasan (dk) = 29 dengan alpha (α) = 0,05 yaitu sebesar 2,042. Sedangkan untuk kelompok kontrol hasil uji t-test nya menyebutkan bahwa nilai t hitung yang diperoleh sebesar –1,756 dengan nilai signifikansi 0,090. Nilai tersebut lebih besar dari nilai t-table pada derajat kebebasan (dk) = 29 dengan alpha (α) = 0,05 yaitu sebesar 2,042.
Daerah penolakan Ho Daerah penolakan Ho



Daerah penerimaan
Ho


- 2,042 + 2,042
Gambar 4.4
Nilai t-test Variabel Sikap untuk Kelompok Diskusi
Daerah penolakan Ho Daerah penolakan Ho



Daerah penerimaan
Ho


- 2,042 + 2,042
Gambar 4.5
Nilai t-test Variabel Sikap untuk Kelompok Problem Solving

D. Perbandingan Efektivitas Metode Diskusi dan Problem Solving terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Perubahan Sikap Responden
Merujuk pada perbandingan nilai mean antara kelompok diskusi dengan kelompok problem solving di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa metode problem solving yang diterapkan pada pendidikan kesehatan mempunyai efektivitas yang lebih besar dibandingkan metode diskusi. Namun hal ini masih perlu dibuktikan dengan t-test.

Gambar 4.3
Perbandingan Mean Variabel Pengetahuan Kelompok
Diskusi, Problem Solving dan Kontrol

Berdasarkan gambar di atas nampak nilai mean skor jawaban responden untuk pengetahuan pada ketiga kelompok penelitian yaitu kelompok diskusi dan problem solving. Nilai mean terbesar adalah kelompok problem solving, diikuti mean skor jawaban kelompok diskusi dan terakhir kelompok kontrol. Hasil uji t antara hasil post-test kelompok diskusi dengan problem solving didapatkan nilai –3,078 dengan probabilitas = 0,005 < 0,05, yang berarti ada perbedaan yang bermakna antara peningkatan pengetahuan kelompok problem solving dengan kelompok diskusi sebelum mendapat perlakuan dengan sesudah mendapat perlakuan.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi : Pendidikan kesehatan dengan metode pemecahan masalah (problem solving) lebih efektif, dibandingkan metode diskusi terhadap perubahan pengetahuan pasien DM tipe-2 rawat jalan di RSD Sunan Kalijaga kabupaten Demak terbukti benar.

Gambar 4.6
Perbandingan Mean Variabel Sikap Pada Kelompok
Diskusi, Problem Solving dan Kontrol

Berdasarkan gambar 4.6 nampak nilai mean skor jawaban responden untuk sikap pada ketiga kelompok penelitian yaitu kelompok diskusi dan problem solving. Nilai mean terbesar adalah kelompok problem solving, kemudian diskusi dan terakhir kelompok kontrol. Hasil uji t antara hasil post-test kelompok diskusi dengan problem solving didapatkan nilai –-2591 dengan probabilitas = 0,015 < 0,05, yang berarti ada perbedaan yang bermakna antara perubahan sikap kelompok problem solving dengan kelompok diskusi sebelum mendapat perlakuan dengan sesudah mendapat perlakuan.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi : Pendidikan kesehatan dengan metode pemecahan masalah (problem solving) lebih efektif, dibandingkan metode diskusi terhadap perubahan sikap pasien DM tipe-2 rawat jalan di RSD Sunan Kalijaga kabupaten Demak terbukti benar.

PEDOMAN PELAYANAN KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS SECARA SUKARELA (VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING)

I PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Dengan meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV khususnya pada kelompok penggunaan napsa suntik (penasun/IDU = Injecting Drug User), pekerja seks (Seks Worker) dan pasangan, serta waria di beberapa propinsi di Indonesia pada saat ini, maka kemungkinan terjadinya risiko penyebaran infeksi HIV ke masyarakat umum tidak dapat diabaikan. Kebanyakan dari mereka yang berisiko tertular HIV tidak mengetahui akan status HIV mereka, apakah sudah terinfeksi atau belum.
Estimasi yang dilakukan pada tahun 2003 diperkirakan di Indonesia terdapat sekitar 90.000-130.000 orang terinfeksi HIV, sedangkan data yang tercatat oleh Departemen Kesehatan RI sampai dengan maret 2005 tercatat 6.789 orang hidup dengan HIV/AIDS.
Melihat tingginya prevalensi di atas maka masalah HIV/AIDS saai ini bukan hanya masalah kesehatan dari penyakit menular semata, tetapi sesudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas. Oleh karena itu penanganan tidak hanya dari segi medis tetapi juga dari psikososial dengan berdasarkan pendekatan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan primer, sekunder, dan tertier. Salah satu upaya tersebut adalah deteksi dini untuk mengetahui status seseorang sudah terinfeksi HIV/AIDS atau belum melalui konseling dan testing HIV/AIDS sukarela, bukan dipaksa atau diwajibkan. Mengetahui status HIV lebih dini memungkinkan pemanfaatan layanan-layanan terkait dengan pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan sehingga konseling dan testing HIV/AIDS secara sukarela merupakan pintu masuk semua layanan tersebut di atas.
Perubahan perilaku seseorang dari berisiko menjadi kurang berisiko terhadap kemungkinan tertularnya HIV memerlukan bantuan perubahan emosional dan pengetahuan dalam suatu proses yang mendorong nurani dan logika. Proses mendorong ini sangat unik dan membutuhkan pendekatan individual. Konseling merupakan salah satu pendekatan yang perlu dikembangkan untuk mengelola kejiwaan dan proses menggunakan pikiran secara mandiri.
Layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela dapat dilakukan di sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, yang dapat diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela ini harus berlandaskan pada pedoman konseling dan testing HIV/AIDS sukarela, agar mutu layanan dapat dipertanggungjawabkan.

B Tujuan
1. Tujuan Umum adalah menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS melalui peningkatan mutu pelayanan kenseling dan testing HIV/AIDS sukarela dan perlindungan bagi petugas layanan VCT dan klien.
2. Tujuan Khusus :
• Sebagai pedoman penatalaksanaan pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS.
• Menjaga mutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan managemen yang sesuai.
• Memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS.
C Sasaran
Pedoman ini digunakan bagi sarana kesehatan maupun sarana kesehatan lainnya yang menyelenggarakan layanan konseling dan testing HIV/AIDS.

D Pengertian-pengertian
1. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV ke dalam tubuh seseorang.
2. Ante Natal Care (ANC) adalah suatu perawatan perempuan selama kehamilannya. Biasanya dilakukan di KIA (Klinik Ibu dan Anak), dokter kebidanan atau bidan.
3. Anti Retroviral Therapy (ART) adalah sejenis obat untuk menghambat kecepatan replikasi virus dalam tubuh orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Obat ini diberikan pada ODHA yang memerlukan berdasarkan beberapa kriteria klinis, juga dalam rangka Prevention of Mother To Child Transmission (PMTCT).
4. Humman Immuno-deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan AIDS.
5. Integrasi adalah pendekatan pelayanan yang membuat petugas kesehatan menangani klien secara utuh, menilai kedatangan klien berkunjung ke fasilitas kesehatan atas dasar kebutuhan klien, dan disalurkan kepada layanan yang dibutuhkannya ke fasilitas rujukan jika diperlukan.
6. Klien adalah seseorang yang mencari atau mendapatkan pelayanan konseling dan atau testing HIV/AIDS.
7. Konselor adalah pemberi pelayanan konseling yang telah dilatih ketrampilan konseling HIV dan dinyatakan mampu.
8. Konseling pasangan adalah konseling yang dilakukan terhadap pasangan seksual calon pasangan seksual dari klien.
9. Konseling pasca tes adalah diskusi antara konselor dengan klien, bertujuan menyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien beradaptasi dengan hasil tes. Materi diskusi adalah menyampaikan hasil secara jelas, menilai pemahaman mental emosional klien, membuat rencana menyertakan orang lain yang bermakna dalam kehidupan klien, menjawab respon emosional yang tiba-tiba mencuat, menyusun rencana tentang kehidupan yang mesti dijalani dengan menurunkan perilaku berisiko dan perawatan, membuat perencanaan dukungan.
10. Konseling pra tes adalah diskusi antaraklien dan konselor, bertujuan menyiapkan klien untuk testing HIV/AIDS. Isi diskusi adalah klarifikasi pengetahuan klien tentang HIV/AIDS, menyampaikan prosedur tes dan pengelolaan diri setelah menerima hasil tes, menyiapkan klien menghadapai hari depan, membantu klien memutuskan akan tes atau tidak, mempersiapkan inform consent, dan konseling seks yang aman.
11. Konseling pra tes kelompok adalah diskusi antara konselor dengan beberapa klien, biasanya tak lebih dari lima orang, bertujuan untuk menyiapkan mereka untuk testing HIV/AIDS. Sebelum melakukannya, ditanyakan kepada para klien tersebut apakah mereka setuju untuk berproses bersama.
12. Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah orang yang tubuhnya telah terinfeksi virus HIV/AIDS.
13. Perawatan dan dukungan adalah layanan komprehensif yang disediakan untuk ODHA dan keluarganya. Termasuk di dalamnya konseling lanjutan, perawatan, diagnosis, terapi, dan pencegahan infeksi oportunistik, dukungan sosioekonomi dan perawatan di rumah.
14. Periode jendela adalah suatu peride atau masa sejak orang terifeksi HIV sampai badan orang tersebut membentuk antibodi melawan HIV yang cukup untuk dapat dideteksi dengan pemeriksaan rutin tes HIV.
15. Persetujuan layanan adalah persetujuan yang dibuat secara sukarela oleh seseorang untuk mendapatkan layanan.
16. Inform consent (persetujuan tindakan medis) adalah persetujuan yang diberikan oleh orang dewasa ynag secara kognisi dapat mengambil keputusan dengan sadar untuk melaksanakan prosedur (tes HIV, operasi, tindakan medik lainnya) bagi dirinya atau atas spesimen yang berasal dari dirinya. Juga termasuk persetujuan memberikan informasi tentang dirinya untuk suatu keperluan penelitian.
17. Prevention of mother To Child Transmission (PMTCT) adalah pencegahan penularan HIV dari ibu kepada anak yang akan atau sedang atau sudah dilahirkannya. Layanan PMTCT bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada anak.
18. Sistem Rujukan adalah pengaturan dari institusi pemberi layanan yang memungkinkan petugasnya mengirimkan klien, sampel darah atau informasi, memberi petunjuk kepada institusi lain atas dasar kebutuhan klien untuk mendapatkan layanan yang lebih memadai. Pengiriman ini senantiasa dilakukan dengan surat pengantar, bergantung pada jenis layanan yang dibutuhkan. Pengaturannya didasarkan atas peraturan yang berlaku, atau persetujuan para pemberian layanan, dan disertai umpan balik dari proses atau hasil layanan.
19. Tuberculosa (TB) adalah penyakit infeksi oleh bakteri tuberkulosa. TB seringkali merupakan infeksi yang menumpang pada mereka yang telah terinfeksi virus virus HIV.
20. Konseling dan Testing (Counselling and Testing) adalah konseling dan testing HIV/AIDS sukarela, suatu prosedur diskusi pembelajaran antara konselor dan klien untuk memahami HIV/AIDS berserta risiko dan konsekuensi terhadap diri, pasangan dan keluarga serta orang disekitarnya. Tujuan utamanya adalah perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan lebih aman.

II KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS SUKARELA (VCT)
A Definisi Konseling dalam VCT
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan ARV dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS.










B Peran Konseling dan Testing Sukarela (VCT)


sumber : WHO, adaptasi

Konseling dan Testing Sukarela yang dikenal sebagai Voluntary Counselling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke dalam seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan.
1. Layanan VCT dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan klien pada saat klien mencari pertolongan medik dan testing yaitu dengan memberikan layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif atau negatif. Layanan ini termasuk konseling, dukungan, akses untuk terapi suportif, terapi infeksi oportunistik, dan ART.
2. VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk memperoleh intervensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan bantuan konselor terlatih, menggali dan memahami diri akan risiko infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV/AIDS, mempelajari status dirinya, dan mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku berisiko dan mencegah penuebaran infeksi kepada orang lain guna mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat.
3. Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksan dan tekanan, segera setelah klien memahami berbagai keuntungan, konsekuensi, dan risiko.

C Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)
1. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV.
Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa paksaan, dan tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan testing terletak ditangan klien. Kecuali testing HIV pada donor di unit transfusi dan transplantasi jaringan, organ tubuh dan sel. Testing VCT bersifat sukarela sehingga tidak direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan menikah, pekerja seksual, IDU, rekrutmen pegawai/tenaga kerja Indonesia, dan asueransi kesehatan.
2. Saling mempercayai dan terjaminya konfidensialitas.
Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien. Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya oleh konselor dan petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien. Semua informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus klien selanjutnya dengan seijin klien, informasi kasus dari klien dapat diketahui.
3. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien efektif.
Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku berisiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerimaan hasil testing positif.
4. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT
WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lainnya yng disetujui oleh klien.