Jumat, 12 Oktober 2012

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TENTANG KONTROL INFEKSI TERHADAP PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG




The Relationship of  Nurse Knowledge and Attitudes about Infection Control
toward Nosocomial Infection Prevention in Sultan Agung Islamic Hospital Semarang

Sukardjo,SKM,M.Kes, Rita Kartika Sari,SKM,M.Kes,
Moh Abdul Rouf ,S.Kep,Ners,Devi Anggita Sari
Program Studi S1 Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Sultan Agung Semarang

 ABSTRAK
Latar Belakang: Infeksi nosokomial merupakan infeksi akibat transmisi organisme patogen ke pasien yang berasal dari lingkungan rumah sakit. Sampai saat ini, infeksi nosokomial masih merupakan problem serius yang dihadapi oleh setiap rumah sakit. Data yang diperoleh dari tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang tentang infeksi nosokomial pada bulan Januari–November 2011 didapatkan jumlah kasus flebitis 365 pasien, infeksi saluran kemih 3 pasien, infeksi luka operasi 6 pasien, dan yang menderita dekubitus 19 pasien.
Tujuan Penelitian: Untuk menganalisa hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan angket observasi. Jumlah sampel 148 responden dari jumlah populasi 235 perawat yang bekerja di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Pengambilan sampel dengan teknik proportional stratified random sampling. Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan SPSS menggunakan uji regresi berganda.
Hasil: Tidak ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang  (p > 0,05, dimana p = 0,308). Ada hubungan antara sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang  (p < 0,05, dimana p = 0,019).
Simpulan: Perawat dengan pengetahuan kontrol infeksi yang baik belum tentu perilaku pencegahan infeksi nosokomialnya baik begitu juga sebaliknya. Perawat yang memiliki sikap positif tentang kontrol infeksi, maka akan diikuti pula dengan perilaku pencegahan infeksi nosokomial yang baik.

Kata Kunci: pengetahuan, sikap, infeksi nosokomial
Daftar Pustaka: 27  (1998-2011)









ABSTRACT
Background: Nosocomial infection are infection caused by the transmission of pathogenic organisms to patients from the hospital environment. Until recently, nosocomial infection remains a serious problem faced by every hospital. Data obtained from the Infection Prevention and Control Team Sultan Agung Islamic Hospital Semarang of nosocomial infection in January-November 2011 found the incidence of phlebitis 365 patients, 3 patients urinary tract infection, surgical wound infection 6 patients, and 19 patients suffering from pressure sores.
Research Objectives: To analyze the relationship of nurses knowledge and attitudes about infection control toward nosocomial infection prevention in Sultan Agung Islamic Hospital.
Methods: This study is a type of quantitative research with cross sectional design. Data was collected through questionnaires and observation questionnaire. Number of sample 148 respondents from number of population 235 nurses are working in Sultan Agung Islamic Hospital Semarang. Sample was taken of proportional stratified random sampling technique. The data obtained were processed statistically with SPSS using multiple regression test.
Results: There is no relationship of nurses knowledge and attitude about infection control toward nosocomial infection prevention in Sultan Agung Islamic Hospital (p > 0.05, where p = 0.308). There is relationship of nurses knowledge and attitude about infection control toward nosocomial infection prevention in Sultan Agung Islamic Hospital (p < 0.05, where p = 0.019).
Conclusion: Nurses with the knowledge of good infection control is not necessarily good their nosocomial infection prevention behavior and on the contrary likewise. Nurses who have a positive attitude about infection control, it will be followed by the behavior of a good prevention of nosocomial infection.

Key words: knowledge, attitudes, nosocomial infection
Bibliographies: 27 (1998-2011)

PENDAHULUAN
Infeksi nosokomial yaitu infeksi yang didapatkan waktu pasien dirawat di rumah sakit (Yenni, 2003), yang merupakan masalah besar yang dihadapi rumah sakit, tidak hanya menyebabkan kerugian sosial ekonomi, tetapi juga meningkatkan angka mortalitas pasien, serta mengakibatkan penderita lebih lama di rumah sakit.
Menteri Kesehatan Endang Rahayu mengatakan data infeksi nosokomial tahun 2011 terus meningkat dari 1% di beberapa negara Eropa dan Amerika. Bahkan di negara Asia, Amerika Latin, dan Afrika, infeksi nosokomial mengalami peningkatan lebih dari 40%. Sedangkan di Indonesia data presentase infeksi nosokomial tahun 2011 belum dapat diketahui (Dimyati, 2011, http://www.jurnas.com, diunduh 14 Maret 2012). Dalam acara seminar Nasional “Global Patients Safety Challange: Clean care is safer care” di Hotel Shangri-la, Minggu, (8/11/2009). Didier Pittet (ketua program WHO First Global Patient Safety Challange) mengatakan bahwa infeksi nosokomial biasanya mengalami peningkatan 2-10 kali lipat di beberapa negara berkembang. (Farah, 2009, http://www.detikhealth.com, diunduh 08 Desember 2011).
Hasil penelitian SENIC (Study Of Nosokomial  Infection Control), ditemukan bahwa kira-kira sepertiga dari semua infeksi nosokomial dapat dicegah dengan melakukan program kontrol infeksi secara efektif (Joanne C, 1998). Upaya pengendalian untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial adalah dengan melakukan kegiatan cuci tangan, pemakaian sarung tangan, prinsip aseptik, dan juga dengan pemakaian alat pelindung diri guna mencegah kontak dengan darah maupun cairan infeksius dan juga penatalaksanaan limbah atau sanitasi ruangan.
Perawat sebagai praktisi yang dihasilkan dari pendidikan tinggi harus mampu mengetahui, mengerti, dan memahami terhadap ketrampilan perawatan profesional yang antara lain adalah kontrol infeksi. Adapun wujud dari kontrol infeksi adalah memantau dan mencegah penularan infeksi, membantu melindungi pasien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit.
Pernyataan di atas sesuai dengan visi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang yaitu menjadi rumah sakit terkemuka dalam pelayanan kesehatan yang selamat menyelamatkan. Rumah Sakit Islam Sultan Agung adalah rumah sakit tipe B yang telah memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang meliputi 16 bidang, yaitu: Administrasi Medis, Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Rekam Medis, Farmasi, Pelayanan Peristi, Pelayanan Infeksi Nosokomial, Pelayanan Gizi, K3, Pelayanan Kamar Operasi, Radiologi, Pelayanan Darah, Rehabilitasi Medik, Keperawatan dan Laboratorium. Sekarang ini Rumah Sakit Islam Sultan Agung juga sebagai Teaching Hospital yaitu sebuah konsep yang mengarahkan Rumah Sakit Islam Sultan Agung untuk menjadi  pusat pendidikan.
Rumah Sakit Islam Sultan Agung menggalakan budaya hidup bersih dan mengurangi infeksi silang dengan cuci tangan yang di galakan oleh bagian PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) yang sudah dicanangkan pada bulan Agustus 2008. Dalam melakukan perawatan, banyak tindakan yang dilakukan perawat kepada pasien untuk membantu diagnosa maupun terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dari petugas kesehatan, kateter iv, kateter urin, dan cara yang keliru dalam menangani luka.
Data yang diperoleh dari tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit Islam Sultan Agung tentang infeksi nosokomial pada bulan Januari-November 2011 didapatkan  jumlah kasus flebitis 365 pasien, dimana perawat sudah melaksanakan kebijakan rumah sakit yaitu dengan mengganti infus pasien selama 4 hari sekali. Flebitis ini bisa disebabkan oleh faktor usia pasien, agent infeksius, dan faktor kimia (jenis obat atau cairan yang masuk melalui selang infus). Infeksi saluran kemih 3 pasien, dimana perawat juga sudah mengganti kateter pasien selama 4 hari sekali, ISK bisa juga disebabkan karena pasien kurang menjaga kebersihan vital. Infeksi luka operasi 6 pasien, perawat sudah mengganti balut sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Pasien yang menderita dekubitus sebanyak 19 orang, pasien yang menderita dekubitus tidak hanya didapat saat dirawat, tetapi memang sudah menderita dekubitus saat masih di rumah terutama pada pasien stroke. Perawat sudah melakukan ganti sprei setiap hari, dan melakukan perawatan dekubitus pada pasien.
Berdasarkan fenomena di atas dan mengingat perawat adalah petugas kesehatan yang selalu berinteraksi dengan pasien, serta memiliki peran dalam upaya pencegahan terjadinya infeksi nosokomial. Maka, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang berupa pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena yang terjadi pada masa kini (Nursalam, 2003). Rancangan pada penelitian ini yaitu cross sectional adalah jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada saat itu   (Notoatmodjo, 2005). Sehingga diperoleh efek suatu fenomena (variabel dependent) dihubungkan dengan penyebab (variabel independent) yaitu mencari hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial.
Responden dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang sebagai pegawai tetap, calon karyawan, kontrak,  pendidikan minimal DIII keperawatan, dan bukan perawat yang menjabat struktural. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2012 dengan jumlah responden 148 orang.
Data karakteristik responden yang dikumpulkan adalah jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, status pegawai dan apakah pernah mengikuti pelatihan tentang pencegahan infeksi nosokomial.
Instrumen pengukuran variabel pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi menggunakan 16 pertanyaan multiple choice, jawaban “benar” skor 5, bila “salah” skor 0. Nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah 0, dengan kategori “baik”, bila nilai 54-80, “sedang” bila nilai 27-53, “kurang” bila nilai 0-26 (Sudjono, 2002).
Instrumen pengukuran variabel sikap perawat tentang kontrol infeksi menggunakan pertanyaan 12 item dengan  skala likert dengan pernyataan forable yaitu : “sangat setuju” skor 5, “setuju” skor 4, “tidak tentu” skor 3, “tidak setuju” skor 2 dan “sangat tidak setuju” skor 1 dan pernyataan unforable yaitu: “sangat tidak setuju” skor 5, “tidak setuju” skor 4, “tidak tentu” skor 3, “setuju” skor 2, “sangat setuju” skor 1. Nilai tertinggi adalah 60 dan nilai terendah adalah 12 dengan kategori “positif” bila skor 37-60 , “negatif” bila skor 12-36 (Sunaryo, 2004).
Pengumpulan data pencegahan infeksi nosokomial oleh perawat dengan menggunakan angket observasi berisi 20 pertanyaan, bila dilakukan oleh perawat maka jawaban “ya” nilai 1 dan bila tidak dilakukan oleh perawat maka jawaban “tidak” nilai 0. Nilai tertinggi adalah 20 dan nilai terendah adalah 0, dengan kategori “baik” bila skor 14-20, “sedang” bila skor 7-13, dan “kurang” bila skor 0-6.
Pengolahan data dan analisis dilakukan dengan menggunakan program SPSS. Pengujian korelasi antar variabel menggunakan uji regresi berganda, jika p > 0,05 maka maka Ho diterima dan H1 ditolak berarti tidak ada hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, dan jika p < 0,05 maka ada hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang (Sarosa, 2011) .

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.  Karakteristik Responden
Penelitian ini dilakukan pada 148 responden dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 118 responden (79,7%), dan laki-laki 30 responden (20,3%). Jumlah perawat perempuan lebih banyak dari laki-laki, karena proporsi perempuan dalam bangku pendidikan keperawatan juga lebih banyak dari laki-laki. Menurut Bady  (2007), output perawat yang dihasilkan perguruan tinggi yang rata-rata lebih banyak perempuan dari pada laki-laki.
Hasil karakteristik usia didapatkan frekuensi terbesar pada rentang usia 21-30 tahun 124 responden (83,8%), rentang usia 31-40 tahun 21 responden (14,2%), dan rentang usia 41-50 tahun 3 responden (2,0%). Menurut Kusmiati (1997) bahwa usia akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang karena dengan bertambahnya usia maka intelektual seseorang akan bertambah. Teori tersebut dapat dijelaskan bahwa semakin tua usia seseorang maka semakin banyak pula informasi yang diperoleh.
Frekuensi pendidikan terbesar pada jenjang pendidikan DIII keperawatan 131 responden (88,5%), jenjang pendidikan S1 keperawatan 9 responden (6,1%), dan jenjang pendidikan Ners 8 responden (5,4%). Latar belakang pendidikan yang dimiliki perawat mungkin dapat dijadikan sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan bagi seorang perawat, karena pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang salah satunya adalah tingkat pendidikan (Notoatmodjo, 2007).
Pada status pegawai frekuensi terbesar adalah pada status pegawai tetap 106 responden (71,62%), status pegawai kontrak 27 responden (18,24%), dan status pegawai calon karyawan 15 responden (10,14%). Perawat pegawai tetap rata-rata memiliki masa kerja lebih dari 2 tahun. Seseorang yang memiliki masa kerja yang sudah cukup lama akan lebih berpengalaman dan dengan pengalaman tersebut maka seseorang akan cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik. Sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2007) bahwa pengalaman seseorang merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.
Hasil penelitian tentang pelatihan didapatkan data masih banyak perawat yang belum pernah mengikuti pelatihan pencegahan infeksi nosokomial yaitu 92 responden (62,2%), dan yang pernah mengikuti pelatihan 56 responden (37,8%). Seseorang yang mempunyai dasar pendidikan yang baik dan juga didukung pelatihan yang sesuai dengan kompetensinya maka ada kecenderungan mempunyai sikap dan perilaku yang juga lebih baik. Menurut Bady (2007), dimana pelatihan tentang pencegahan infeksi nosokomial sangat berhubungan dengan ketrampilan yang dilakukan perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial.

B.  Pengetahuan Perawat tentang Kontrol Infeksi
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi yang menjadi responden di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
Pengetahuan Perawat
Frekuensi
Prosentase
Baik
107
72,3%
Sedang
41
27,7%
Total
148
100,0%

Data tabel 4.1 menunjukkan distribusi frekuensi pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi yang menjadi responden di Rumah Sakit Islam Sultan Agung, frekuensi terbanyak pada pengetahuan baik dengan jumlah 107 responden (72,3%), dan responden dengan pengetahuan sedang dengan jumlah 41 responden (27,7%).
Hal ini menunjukan bahwa perawat yang bekerja di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang merupakan perawat yang telah memiliki kemampuan yang cukup baik dalam pengetahuan bidang keperawatan terutama tentang kontrol infeksi. Sehingga, dengan jumlah mayoritas perawat yang memiliki pengetahuan baik tentang kontrol infeksi diharapkan dapat membantu menurunkan angka kejadian kasus infeksi nosokomial, karena menurut Green dalam buku Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi terhadap kualitas kesehatan.

C.  Sikap Perawat tentang Kontrol Infeksi
Tabel 4.2
Distribusi frekuensi sikap perawat tentang kontrol infeksi yang menjadi responden di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
Sikap Perawat
Frekuensi
Prosentase
Negatif
2
1,4%
Positif
146
98,6%
Total
148
100,0%

Data tabel 4.2 menunjukkan distribusi frekuensi sikap perawat tentang kontrol infeksi di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, frekuensi sikap perawat positif sebanyak 146 responden (98,6%), dan jumlah responden dengan sikap negatif  2 responden (1,4%).
Menurut Saifuddin (2007) sikap adalah kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap suatu objek. Sikap mengandung motivasi, sikap bukan sekedar rekaman masa lalu tetapi juga menentukan apakah perawat harus pro dan kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan, dan apa yang harus dihindari terutama dalam pencegahan infeksi nosokomial. Jadi, banyaknya perawat yang memiliki sikap positif tentang kontrol infeksi ini perlu dikembangkan, karena sikap positif ini akan berpengaruh terhadap perubahan sikap yang lebih baik melalui pengamatan dan penilaian model peran sikap yang baik, sehingga sikap positif yang diterapkan akan memberikan manfaat untuk klien yaitu mempercepat kesembuhan dan mengurangi biaya perawatan klien.

D.  Pencegahan Infeksi Nosokomial oleh Perawat
Tabel 4.3
Distribusi frekuensi pencegahan infeksi nosokomial oleh perawat yang menjadi responden di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
Pencegahan Infeksi Nosokomial
Frekuensi
Prosentase
Baik
130
87,8%
Sedang
18
12,2%
Total
148
100,0%

Data tabel 4.3 menunjukkan distribusi frekuensi pencegahan infeksi nosokomial yang dilakukan oleh perawat yang menjadi responden di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, frekuensi pencegahan infeksi nosokomial baik sebanyak 130 responden  (87,8%), dan frekuensi pencegahan infeksi nosokomial sedang dengan jumlah 18 responden (12,2%).
Jadi, jumlah mayoritas ada pada perawat yang memiliki perilaku pencegahan infeksi nosokomial baik. Data tersebut sesuai dengan data banyaknya perawat yang memiliki sikap positif tentang kontrol infeksi. Jadi, dari sikap yang positif akan terbentuk perilaku yang baik, sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003), bahwa perilaku yang baik merupakan perwujudan dari sikap yang positif.



E.  Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat tentang Kontrol Infeksi terhadap Pencegahan Infeksi Nosokomial
Tabel 4.4
Distribusi frekuensi hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial yang menjadi responden di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
Variabel
Frekuensi
Prosentase
Pengetahuan Perawat
Sikap Perawat
Pencegahan Infeksi Nosokomial
Baik
Positif
Baik
94
63,5%
Baik
Positif
Sedang
12
8,1%
Baik
Negatif
Sedang
1
0,7%
Sedang
Positif
Baik
36
24,3%
Sedang
Positif
Sedang
4
2,7%
Sedang
Negatif
Sedang
1
0,7%
Total
148
100%

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan data tentang pengetahuan perawat baik dan sikap positif terhadap pencegahan infeksi nosokomial baik berjumlah 94 responden (63,5%), pengetahuan perawat sedang dan sikap positif terhadap pencegahan infeksi nosokomial baik berjumlah 36 responden (24,3%), pengetahuan perawat baik dan sikap positif terhadap pencegahan infeksi nosokomial sedang berjumlah 12 responden (8,1%), pengetahuan perawat sedang dan sikap positif terhadap pencegahan infeksi nosokomial sedang berjumlah 4 responden (2,7%), pengetahuan perawat baik dan sikap negatif terhadap pencegahan infeksi nosokomial sedang berjumlah 1 responden (0,7%), dan pengetahuan perawat sedang dan sikap negatif terhadap pencegahan infeksi nosokomial sedang berjumlah 1 responden (0,7%).
Seorang perawat adalah petugas kesehatan yang sering berinteraksi dengan pasien, jadi perawat mempunyai peran penting terhadap pencegahan infeksi yang ada di rumah sakit. Pery dan Poter (2005), menyatakan bahwa salah satu yang harus dikuasai perawat sehubungan dengan ketrampilan seorang perawat profesional yaitu kontrol infeksi (pengendalian infeksi) yang berfungsi untuk melindungi diri perawat sendiri dan pasien terhadap paparan agen-agen infeksius selama pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Setelah dilakukan analisa multivariat dengan menggunakan uji regresi berganda didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.5  Correlations

Pencegahan infeksi nosokomial
Pengetahuan perawat
Sikap perawat

Pearson Correlation
Pencegahan infeksi nosokomial

Pengetahuan perawat

Sikap perawat
1,000



-,042


,171
-,042



1,000


,073
,171



,073


1,000
Sig. (1-tailed)
Pencegahan infeksi nosokomial

Pengetahuan perawat

Sikap perawat
.



,308


,019
,308



.


,189
,019



,189


.
N
Pencegahan infeksi nosokomial

Pengetahuan perawat

Sikap perawat
148



148


148
148



148


148
148



148


148

Data dari tabel 4.5 bahwa hasil uji statistik dengan uji regresi berganda didapatkan nilai p = 0,308 pada pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial. Karena nilai p > 0,05 yang mempunyai arti Ho diterima dan H1 ditolak berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Hasil uji yang menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara pengetahuan perawat terhadap pencegahan infeksi nosokomial, dikarenakan disamping dari pengetahuan perawat, proses kontrol infeksi banyak dipengaruhi juga oleh kebiasaan pasien, lingkungan, dan keluarga. Sehingga dalam proses pencegahan infeksi, perawat tidak dapat dijadikan satu-satunya parameter, karena pengetahuan pasien tentang infeksi, kebiasaan pasien dan keluarga di ruangan, serta faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi tingkat kejadian infeksi nosokomial  (Susilowati, 2009).
Sedangkan nilai p pada sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial sebesar 0,019. Karena nilai p < 0,05 yang mempunyai arti bahwa Ho ditolak dan H1 diterima berati ada hubungan antara sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Perawat yang memiliki sikap yang positif tentang kontrol infeksi mempunyai kecenderungan untuk melaksanakan  pencegahan infeksi nosokomial yang baik pula (Fathoni, 2009). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pencegahan infeksi nosokomial yang baik lebih banyak ditunjukkan pada perawat yang mempunyai sikap positif tentang kontrol infeksi yaitu dengan jumlah 130 responden dari jumlah sampel 148 responden.

KESIMPULAN
Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah:
1.    Pengetahuan perawat mengenai kontrol infeksi dalam pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang frekuensi terbanyak pada pengetahuan baik sebesar 72,3%.
2.    Sikap perawat mengenai kontrol infeksi dalam pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, frekuensi terbanyak pada kategori sikap positif sebesar 98,6%.
3.    Prosedur pencegahan infeksi nosokomial yang dilakukan oleh kejadian perawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, frekuensi terbanyak pada kategori baik sebesar 87,8%.
4.    a. Tidak ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, karena memiliki nilai p = 0,308 yang berarti p > 0,05.
b. Ada hubungan antara sikap perawat tentang kontrol infeksi terhadap pencegahan infeksi nosokomial di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, karena memiliki nilai p = 0,019 yang berati p < 0,05.
       
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.
Alimul, A. (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penelitian Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.
Bady, Marwoto Agus. (2007). Analisis Kinerja Perawat dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial di Ruang IRNA 1 RSUP. Dr. Sardjito. Yogyakarta. http://irc-kmpk.ugm.ac.id. Diunduh 14 Juni 2012.
Dimyati, Vien. (2011). Infeksi Rumah Sakit Ancam Kematian Pasien. http://www.jurnas.com/halaman/9/2011-11-08/188268. Diunduh 14 Maret 2012.
Effendi, Ferry & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Farah, Vera B. (2009). Ancaman Infeksi di Rumah Sakit. http://www.detikhealth.com/read/2009/11/09/101700/1237864/775. Diunduh 08 Desember 2011.
Fathoni, Ahmad. (2009). Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Perawat Mengenai Kontrol Infeksi dengan Standart Operating Procedur Pencegahan Kejadian Flebitis di Ruang Rawat Inap RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak. Tidak Dipublikasikan.
Habni, Yulia. (2009). Perilaku Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial di Ruang Rindu A, Rindu B, ICU, IGD, Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. http://www.inos.com/2009. Diunduh 15 Januari 2012.
Joanne C, La Rocca, Shieley e Otto. (1998). Pedoman Praktis Terapi Intravena.EGC, Edisi 2, Jakarta.
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
                          . (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
                          . (2005). Promosi Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nursalam. (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Susilowati, Ovie. (2009). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat tentang Kontrol Infeksi terhadap Prosedur Pencegahan Flebitis di RS Islam Sultan Agung Semarang. Tidak Dipublikasikan.
Perry, Patricia & Pooter. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Saifuddin, A. (2007). Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sarosa, H., Endang. (2011). Biostatik. Semarang. Tidak Dipublikasikan.
Schaffer, G. (2000). Seri Pedoman Praktis Pencegahan Infeksi dan Praktik yang Aman. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Scharwtz. (2000). Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Soekanto, S. (2003). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sudjono. (2002). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Suyanto, Halimatul M., Furaida K. (2011). Buku Panduan Penulisan dan Bimbingan Skripsi. Semarang. Tidak Dipublikasikan.
Swearingen. (2000). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Tietjen, L., Debora B., Noel M. (2004). Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wasis. (2008). Pedoman Riset Praktis untuk Profesi Keperawatan. Jakarta: EGC.
Yenni, S. (2003). Hubungan Antara Lamanya Pemasangan Infus dengan Tingkat Keparahan Flebitis di Ruang Rawat Inap RS Roemani Muhammadiyah Semarang. Tidak dipublikasikan.


Kamis, 11 Oktober 2012

PERILAKU KESEHATAN





PERILAKU KESEHATAN


Derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan. Diantara faktor – faktor tersebut pengaruh perilaku terhadap status kesehatan , baik kesehatan individu maupun
kelompok sangatlah besar. Salah satu usaha yang sangat penting di dalam upaya merubah perilaku adalah dengan melakukan kegiatan pendidikan kesehatan atau yang biasa dikenal dengan penyuluhan. Sejauh mana kegiatan tersebut bisa merubah perilaku masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh faktor – faktor lain yang ikut berperan dan saling berkaitan dalam proses perubahan perilaku itu sendiri.

Konsep Perilaku

Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilakumanuasia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, berpakaian dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti
berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia.
Skinner ( 1933 ) mengemukakan bahwa perilaku merupakan hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon. Ia membedakan adanya dua stimulus :

1.     Respondent response atau reflektife response ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan tertentu. Perangsang semacam ini disebut elicting stimuli karena menimbulkan respon yang relatif tetap misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat menyebabkan mata tertutup , menangis karena sedih, muka merah karena marah dan lain sebagainya.
2.     Operant response atau instrumental response ialah respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu . Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh sebab itu perangsang ini mengikuti ataumemperkuat perilaku yang sudah dilakukan. Sebagai contoh apabila seorang anak belajar atau sudah melakukan suatu perbuatan kemudian dia memperoleh hadiah maka dia akan lebih giat belajar atau lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain respon yang diberikannya akan lebih intensif dan kuat.

Di dalam kehidupan sehari – hari respon yang pertama sangat terbatas keberadaanya hal ini disebabkan hubungan yang pasti antara stimulus dan respon sehingga kemungkinan untuk memodifikasinya sangat kecil, bahkan hampir tidak mungkin. Sebaliknya respon yang kedua merupakan bagian besar daripada perilaku manusia dan kemungkinan untuk memodifikasinya sangat besar.

Bentuk Perilaku

Secara operasional perilaku dapat diartikan sebagai respon organisme terhadap rangsangan tertentu dari luar subyek. Respon ini berbentuk dua macam yaitu :

1.     Bentuk pasif atau covert behaviour adalah respon internal yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung bisa dilihat orang lain, misalnya berpikir, tanggapan, sikap atau pengetahuan. Misalnya seorang ibu yang tahu bahwa membawa anak untuk diimunisasi dapat mencegah penyakit tertentu akan tetapi dia tidak membawa anaknya ke puskesmas atau posyandu.
2.     Bentuk aktif atau overt behaviour , apabila perilaku ini jelas bisa dilihat. Misalnya pada contoh di atas si ibu membawa anaknya ke posyandu atau puskesmas untuk diimunisasi.






Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Secara lebih rinci perilaku kesehatan mencakup :

1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun aktif sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya berhubungan dengan tingkat pencegahan penyakit

Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan misalnya makan makanan  bergizi, dan olahraga.
Perilaku pencegahan penyakit misalnya memakai kelambu untuk mencegah malaria, pemberian imunisasi. Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
 Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan misalnya usaha mengobati penyakitnya sendiri, pengobatan di fasilitas kesehatan atau pengobatan ke fasilitas kesehatan tradisional. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari penyakit misalnya melakukan diet, melakukan anjuran dokter selama masa pemulihan.
2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat – obat.
3. Perilaku terhadap makanan. Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya., pengelolaan makanan dan lain sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.
3. Perilaku terhadap lingkungan sehat adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu determinan kesehatan manusia.

 Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan.itu sendiri.

Faktor Penentu ( Determinan ) Perilaku

Perilaku kesehatan seperti halnya perilaku pada umumnya melibatkan banyak faktor. Menurut Lawrence Green ( 1980 ) kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor perilaku dan di luar perilaku. Selanjutnya perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :

Faktor pembawa ( predisposing factor ) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai – nilai dan lain sebagainya
Faktor pendukung ( enabling factor ) yang terwujut dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.
Faktor pendorong ( reinforcing factor ) yang terwujut di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan maupun petugas lain , teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Dari faktor – faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas kesehatan dan perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya , dapat disebabkan karena dia memang belum tahu manfaat imunisasi ( predisposing factor ),.atau karena jarak posyandu dan puskesmas yang jauh dari rumahnya ( enabling factor ) sebab lain bisa jadi karena tokoh masyarakat di wilayahnya tidak mau mengimunisasikan anaknya ( reinforcing factor )
Model di atas dengan jelas menggambarkan bahwa terjadinya perilaku secara umum tergantung faktor intern ( dari dalam individu ) dan faktor ekstern ( dari luar individu ) yang saling memperkuat . Maka sudah selayaknya kalau kita ingin merubah perilaku kita harus memperhatikan faktor – faktor tersebut di atas.

Upaya Perubahan Perilaku Kesehatan
Hal yang penting di dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan
perilaku merupakan tujuan dari pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program kesehatan lainnya. Perubahan yang dimaksud bukan hanya sekedar covert behaviour tapi juga overt behaviour. Di dalam program – program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma – norma kesehatan diperlukan usaha – usaha yang konkrit dan positip.

Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa
dikelompokkan menjadi tiga bagian

1. Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga ia mau melakukan perilaku yang diharapkan. Misalnya dengan peraturan – peraturan / undang – undang yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di masyarakat untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba / penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat.

2.Pemberian informasi

Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan , cara menghindari penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.

3. Diskusi partisipatif

Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana penyampaian informasi kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupun pertama akan tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebih mantap dan mendalam sehingga perilaku mereka juga akan lebih mantap. Apapun cara yang dilakukan harus jelas bahwa perubahan perilaku akan terjadi ketika ada partisipasi sukarela dari masyarakat, pemaksaan, propaganda politis yang mengancam akan tidak banyak berguna untuk mewujutkan perubahan yang langgeng.

Daftar Pustaka
1. Anonim , Paradigma Sehat menuju Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, 1999
2. Anonim, Pengelolaan Yang Berkesinambungan Dalam Program Penyediaan Air Bersih Dan Sanitasi, IRC/Unicef/ Yayasan Dian Desa.
3. Boot,Marieke T, Aduk Saja Dengan Lembut , IRC, Delft, Netherlands, 1991
4. Curtis, Valerie & Bernadette Kanki, Bersih, Sehat Dan Sejahtera : Bagaimana Menyusun Program Promosi Higiene, Unicef/WHO/Yayasan Dian Desa
5. Notoatmodjo, Soekidjo, Pengantar Perilaku Kesehatan, FKM-UI, Jakarta, 1990


PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PROMOSI KESEHATAN

. Pendahuluan
Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran utama dari promosi kesehatan. Masyarakat atau komunitas merupakan salah satu dari strategi global promosi kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. 
II. Pembahasan
Tujuan pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2007). Batasan pemberdayaan dalam bidang kesehatan meliputi upaya untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan sehingga secara bertahap tujuan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk:
· Menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan individu, kelompok, dan masyarakat.
· Menimbulkan kemauan yang merupakan kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan atau sikap untuk meningkatkan kesehatan mereka.
· Menimbulkan kemampuan masyarakat untuk mendukung terwujudnya tindakan atau perilaku sehat.
Suatu masyarakat dikatakan mandiri dalam bidang kesehatan apabila:
1) Mereka mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan terutama di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang penyakit, gizi dan makanan, perumahan dan sanitasi, serta bahaya merokok dan zat-zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
2) Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan menggali potensi-potensi masyarakat setempat.
3) Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan.
4) Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran, olahraga, konsultasi dan sebagainya.
Prinsip pemberdayaan masyarakat
1) Menumbuhkembangkan potensi masyarakat.
2) Mengembangkan gotong-royong masyarakat.
3) Menggali kontribusi masyarakat.
4) Menjalin kemitraan.
5) Desentralisasi.
Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat
1) Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat.
2) Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program tersebut.
3) Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.
Ciri pemberdayaan masyarakat
1) Community leader: petugas kesehatan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu. Misalnya Camat, lurah, kepala adat, ustad, dan sebagainya.
2) Community organization: organisasi seperti PKK, karang taruna, majlis taklim, dan lainnnya merupakan potensi yang dapat dijadikan mitra kerja dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
3) Community Fund: Dana sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang dikembangkan dengan prinsip gotong royong sebagai salah satu prinsip pemberdayaan masyarakat.
4) Community material : setiap daerah memiliki potensi tersendiri yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan. Misalnya, desa dekat kali pengahsil pasir memiliki potensi untuk melakukan pengerasan jalan untuk memudahkan akses ke puskesmas.
5) Community knowledge: pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan berbagai penyuluhan kesehatan yang menggunakan pendekatan community based health education.
6) Community technology: teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan untuk pengembangan program kesehatan misalnya penyaringan air dengan pasiratau arang.
Masalah teoretis kunci
Pertanyaan yang harus diajukan dalam pendekatan pemberdayaan masyarakat di dalam promosi kesehatan adalah:
Pertama, siapakah masyarakat yang menjadi konteks program ; Pengenalan karakter masyarakat ini penting dan dilatar belakangi oleh bukti-bukti bahwa masyarakat bersifat heterogen dan memiliki energi, waktu, motivasi, dan kepentingan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dalam sebuah kasus promosi kesehatan, terdapat lokasi-lokasi tertentu yang tidak memiliki ketua RT, misalnya di perumahan yang penghuninya baru pulang setelah jam 8 malam. Dapat diperkirakan bahwa rencana program penyuluhan secara oral kepada mereka akan sulit dilaksanakan. Dengan demikian, pendekatan lain bisa dilakukan misalnya melalui situs jika mereka mudah mengakses internet, atau menggunakan fasilitas mobile messaging.
Pertanyaan kedua berkaitan dengan faktor-faktor apa saja yang sekiranya dapat mempengaruhi pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan penelitian Laverack, faktor-faktor tersebut antara lain partisipasi, kepemimpinan, analisis masalah, struktur organisasi, mobilisasi sumber daya, link (tautan) terhadap yang lain, manajemen program, dan peran dari pihak luar.
Pertanyaan ketiga adalah apakah pemberdayaan masyarakat ini merupakan proses atau merupakan outcome. Dalam hal ini, banyak literatur yang menyebutkan bahwa jawabannya adalah bisa kedua-duanya. Hampir semua bersepakat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah proses yang dinamis dan melibatkan berbagai hal, seperti pemberdayaan personal, pengembangan kelompok kecil yang bersama-sama, organisasi masyarakat, kemitraan, serta aksi sosial politik. Sebagai outcome, pemberdayaan merupakan perubahan pada individu maupun komunitas yang bersifat saling mempengaruhi.
Indikator hasil pemberdayaan masyarakat
1) Input, meliputi SDM, dana, bahan-bahan, dan alat-alat yang mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat.
2) Proses, meliputi jumlah penyuluhan yang dilaksanakan, frekuensi pelatihan yang dilaksanakan, jumlah tokoh masyarakat yang terlibat, dan pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan.
3) Output, meliputi jumlah dan jenis usaha kesehatan yang bersumber daya masyarakat, jumlah masyarakat yang telah meningkatkan pengetahuan dan perilakunya tentang kesehatan, jumlah anggota keluarga yang memiliki usaha meningkatkan pendapatan keluarga, dan meningkatnya fasilitas umum di masyarakat.
4) Outcome dari pemberdayaan masyarakat mempunyai kontribusi dalam menurunkan angka kesakitan, angka kematian, dan angka kelahiran serta meningkatkan status gizi masyarakat.
III. Kesimpulan
Pemberdayaan masyarakat merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan yang bertujuan untuk memandirikan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan status kesehatannya menjadi lebih baik dengan menggunakan prinsip pemberdayaan dimana petugas kesehatan berperan untuk memfasilitasi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuannya untuk memlihara dan meningkatkan status kesehatannnya.
Referensi
Marasabessy, N.B,. (2007). Program pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pemberantasan malaria di kabupaten Maluku tengah.pdf. Universitas Gadjah Mada.
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi kesehatan & ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Wass, A. (1995). Promoting health: the primary health approach. Toronto: W.B. Sanders.