Kamis, 16 September 2010
PEDOMAN PELAYANAN KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS SECARA SUKARELA (VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING)
A Latar Belakang
Dengan meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV khususnya pada kelompok penggunaan napsa suntik (penasun/IDU = Injecting Drug User), pekerja seks (Seks Worker) dan pasangan, serta waria di beberapa propinsi di Indonesia pada saat ini, maka kemungkinan terjadinya risiko penyebaran infeksi HIV ke masyarakat umum tidak dapat diabaikan. Kebanyakan dari mereka yang berisiko tertular HIV tidak mengetahui akan status HIV mereka, apakah sudah terinfeksi atau belum.
Estimasi yang dilakukan pada tahun 2003 diperkirakan di Indonesia terdapat sekitar 90.000-130.000 orang terinfeksi HIV, sedangkan data yang tercatat oleh Departemen Kesehatan RI sampai dengan maret 2005 tercatat 6.789 orang hidup dengan HIV/AIDS.
Melihat tingginya prevalensi di atas maka masalah HIV/AIDS saai ini bukan hanya masalah kesehatan dari penyakit menular semata, tetapi sesudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas. Oleh karena itu penanganan tidak hanya dari segi medis tetapi juga dari psikososial dengan berdasarkan pendekatan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan primer, sekunder, dan tertier. Salah satu upaya tersebut adalah deteksi dini untuk mengetahui status seseorang sudah terinfeksi HIV/AIDS atau belum melalui konseling dan testing HIV/AIDS sukarela, bukan dipaksa atau diwajibkan. Mengetahui status HIV lebih dini memungkinkan pemanfaatan layanan-layanan terkait dengan pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan sehingga konseling dan testing HIV/AIDS secara sukarela merupakan pintu masuk semua layanan tersebut di atas.
Perubahan perilaku seseorang dari berisiko menjadi kurang berisiko terhadap kemungkinan tertularnya HIV memerlukan bantuan perubahan emosional dan pengetahuan dalam suatu proses yang mendorong nurani dan logika. Proses mendorong ini sangat unik dan membutuhkan pendekatan individual. Konseling merupakan salah satu pendekatan yang perlu dikembangkan untuk mengelola kejiwaan dan proses menggunakan pikiran secara mandiri.
Layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela dapat dilakukan di sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, yang dapat diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela ini harus berlandaskan pada pedoman konseling dan testing HIV/AIDS sukarela, agar mutu layanan dapat dipertanggungjawabkan.
B Tujuan
1. Tujuan Umum adalah menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS melalui peningkatan mutu pelayanan kenseling dan testing HIV/AIDS sukarela dan perlindungan bagi petugas layanan VCT dan klien.
2. Tujuan Khusus :
• Sebagai pedoman penatalaksanaan pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS.
• Menjaga mutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan managemen yang sesuai.
• Memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS.
C Sasaran
Pedoman ini digunakan bagi sarana kesehatan maupun sarana kesehatan lainnya yang menyelenggarakan layanan konseling dan testing HIV/AIDS.
D Pengertian-pengertian
1. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV ke dalam tubuh seseorang.
2. Ante Natal Care (ANC) adalah suatu perawatan perempuan selama kehamilannya. Biasanya dilakukan di KIA (Klinik Ibu dan Anak), dokter kebidanan atau bidan.
3. Anti Retroviral Therapy (ART) adalah sejenis obat untuk menghambat kecepatan replikasi virus dalam tubuh orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Obat ini diberikan pada ODHA yang memerlukan berdasarkan beberapa kriteria klinis, juga dalam rangka Prevention of Mother To Child Transmission (PMTCT).
4. Humman Immuno-deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan AIDS.
5. Integrasi adalah pendekatan pelayanan yang membuat petugas kesehatan menangani klien secara utuh, menilai kedatangan klien berkunjung ke fasilitas kesehatan atas dasar kebutuhan klien, dan disalurkan kepada layanan yang dibutuhkannya ke fasilitas rujukan jika diperlukan.
6. Klien adalah seseorang yang mencari atau mendapatkan pelayanan konseling dan atau testing HIV/AIDS.
7. Konselor adalah pemberi pelayanan konseling yang telah dilatih ketrampilan konseling HIV dan dinyatakan mampu.
8. Konseling pasangan adalah konseling yang dilakukan terhadap pasangan seksual calon pasangan seksual dari klien.
9. Konseling pasca tes adalah diskusi antara konselor dengan klien, bertujuan menyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien beradaptasi dengan hasil tes. Materi diskusi adalah menyampaikan hasil secara jelas, menilai pemahaman mental emosional klien, membuat rencana menyertakan orang lain yang bermakna dalam kehidupan klien, menjawab respon emosional yang tiba-tiba mencuat, menyusun rencana tentang kehidupan yang mesti dijalani dengan menurunkan perilaku berisiko dan perawatan, membuat perencanaan dukungan.
10. Konseling pra tes adalah diskusi antaraklien dan konselor, bertujuan menyiapkan klien untuk testing HIV/AIDS. Isi diskusi adalah klarifikasi pengetahuan klien tentang HIV/AIDS, menyampaikan prosedur tes dan pengelolaan diri setelah menerima hasil tes, menyiapkan klien menghadapai hari depan, membantu klien memutuskan akan tes atau tidak, mempersiapkan inform consent, dan konseling seks yang aman.
11. Konseling pra tes kelompok adalah diskusi antara konselor dengan beberapa klien, biasanya tak lebih dari lima orang, bertujuan untuk menyiapkan mereka untuk testing HIV/AIDS. Sebelum melakukannya, ditanyakan kepada para klien tersebut apakah mereka setuju untuk berproses bersama.
12. Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah orang yang tubuhnya telah terinfeksi virus HIV/AIDS.
13. Perawatan dan dukungan adalah layanan komprehensif yang disediakan untuk ODHA dan keluarganya. Termasuk di dalamnya konseling lanjutan, perawatan, diagnosis, terapi, dan pencegahan infeksi oportunistik, dukungan sosioekonomi dan perawatan di rumah.
14. Periode jendela adalah suatu peride atau masa sejak orang terifeksi HIV sampai badan orang tersebut membentuk antibodi melawan HIV yang cukup untuk dapat dideteksi dengan pemeriksaan rutin tes HIV.
15. Persetujuan layanan adalah persetujuan yang dibuat secara sukarela oleh seseorang untuk mendapatkan layanan.
16. Inform consent (persetujuan tindakan medis) adalah persetujuan yang diberikan oleh orang dewasa ynag secara kognisi dapat mengambil keputusan dengan sadar untuk melaksanakan prosedur (tes HIV, operasi, tindakan medik lainnya) bagi dirinya atau atas spesimen yang berasal dari dirinya. Juga termasuk persetujuan memberikan informasi tentang dirinya untuk suatu keperluan penelitian.
17. Prevention of mother To Child Transmission (PMTCT) adalah pencegahan penularan HIV dari ibu kepada anak yang akan atau sedang atau sudah dilahirkannya. Layanan PMTCT bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada anak.
18. Sistem Rujukan adalah pengaturan dari institusi pemberi layanan yang memungkinkan petugasnya mengirimkan klien, sampel darah atau informasi, memberi petunjuk kepada institusi lain atas dasar kebutuhan klien untuk mendapatkan layanan yang lebih memadai. Pengiriman ini senantiasa dilakukan dengan surat pengantar, bergantung pada jenis layanan yang dibutuhkan. Pengaturannya didasarkan atas peraturan yang berlaku, atau persetujuan para pemberian layanan, dan disertai umpan balik dari proses atau hasil layanan.
19. Tuberculosa (TB) adalah penyakit infeksi oleh bakteri tuberkulosa. TB seringkali merupakan infeksi yang menumpang pada mereka yang telah terinfeksi virus virus HIV.
20. Konseling dan Testing (Counselling and Testing) adalah konseling dan testing HIV/AIDS sukarela, suatu prosedur diskusi pembelajaran antara konselor dan klien untuk memahami HIV/AIDS berserta risiko dan konsekuensi terhadap diri, pasangan dan keluarga serta orang disekitarnya. Tujuan utamanya adalah perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan lebih aman.
II KONSELING DAN TESTING HIV/AIDS SUKARELA (VCT)
A Definisi Konseling dalam VCT
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan ARV dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS.
B Peran Konseling dan Testing Sukarela (VCT)
sumber : WHO, adaptasi
Konseling dan Testing Sukarela yang dikenal sebagai Voluntary Counselling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke dalam seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan.
1. Layanan VCT dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan klien pada saat klien mencari pertolongan medik dan testing yaitu dengan memberikan layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif atau negatif. Layanan ini termasuk konseling, dukungan, akses untuk terapi suportif, terapi infeksi oportunistik, dan ART.
2. VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk memperoleh intervensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan bantuan konselor terlatih, menggali dan memahami diri akan risiko infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV/AIDS, mempelajari status dirinya, dan mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku berisiko dan mencegah penuebaran infeksi kepada orang lain guna mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat.
3. Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksan dan tekanan, segera setelah klien memahami berbagai keuntungan, konsekuensi, dan risiko.
C Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)
1. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV.
Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa paksaan, dan tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan testing terletak ditangan klien. Kecuali testing HIV pada donor di unit transfusi dan transplantasi jaringan, organ tubuh dan sel. Testing VCT bersifat sukarela sehingga tidak direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan menikah, pekerja seksual, IDU, rekrutmen pegawai/tenaga kerja Indonesia, dan asueransi kesehatan.
2. Saling mempercayai dan terjaminya konfidensialitas.
Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien. Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya oleh konselor dan petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien. Semua informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus klien selanjutnya dengan seijin klien, informasi kasus dari klien dapat diketahui.
3. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien efektif.
Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku berisiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerimaan hasil testing positif.
4. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT
WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lainnya yng disetujui oleh klien.
PERAN DAN FUNGSI KEPALA RUANG DALAM MPKP
Keperawatan adalah salah satu bentuk pelayanan profesional yang dilakukan oleh seorang perawat untuk menyelesaikan masalah kesehatan klien dengan melaksanakan asuhan keperawatan. Menurut University of South Alabama Medical Center dalam Swansburg and Swansburg (1999), menyebutkan bahwa asuhan keperawatan adalah tindakan yang diterima oleh klien yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien/keluarga untuk meningkatkan derajat kesehatannya.
Asuhan keperawatan yang professional haruslah diorganisir dengan pendekatan professional pula. Pengelolaan asuhan keperawatan yang selanjutnya disebut sebagai metode penugasan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Metode penugasan yang memungkikan dilaksanakan asuhan keperawatan secara professional adalah: Metode tim dan metode primary nurse seperti yang dilkaksanakan pada MPKP (model praktek keperawatan professional) di ruang rawat RSCM.
Pada makalah ini akan dibahas pelaksanaan 2 metode penugasan tersebut berdasarkan peran dari masing-masing komponen dalam organisasi tersebut.
B. Pembahasan
Metode Tim
Peran Kepakla Ruang dalam tahap:
1. Pengkajian : Mengidentifikasi masalah terkait fungsi manajamen
2. Perencanaan :
Fungsi perencanaan dan fungsi ketenagaan
• Menunjuk ka Tim
• Mengikuti serah terima klien
• Mengidentifikasi tingkat ketergantungan
• Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien
• Merencanakan strategi pelaksanaan keeperawatan
• Merencanakan lgistik ruangan/failitas ruangan
• Melakukan pendokumentasian
3. Implementasi :
Fungsi pengorganisasian
• Merumuskan system penugasan
• Menjelaskan rincian tugas ketua Tim
• Menjelaskan rentang kendali di ruang rawat
• Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan diruang rawat
• Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan/fsilitas ruangan
• Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik
• Mendelegasikan tugas kepada ketua Tim
Fungsi pengarahan:
• Mmebrikan pengarahan kepada ketua Tim
• Memberikan motivasi dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap anggota Tim
• Memberi pujian kepada anggota Tim yang melaksanakan tugas dengan baik
• Membimbing bawahan
• Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim
• Melakukan supervisi
• Memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan yankep diruangan
• Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
4. Evaluasi
Fungsi pengendalian:
• Mengevaluasi kinerja katim
• Memberikan umpan balik pada kinserja katim
• Mengatasi masalah di ruang rawat dan menetapkan tidak lanjut
• Memperhatikan aspek legal dan etik keperawatan
• Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
Peran Ketua Tim dalam tahap
1 Pengkajian : mengumpukan data kesehatan klien
2. Perencanaan :
Fungsi perencanaan dan ketenagaan:
• Bersama Karu melaksanakan serah terima tugas
• Bersama karu melaksanakan pembagian tugas
• Menyusun rencana asuhan keperawatan
• Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan
• Melakukan ronde keperawatan bersama kepala ruangan
• Mengorientasikan klien baru pada lingkungan
• Melakukan pelaporan dan pendokumantasian
3. Implementasi
Fungsi pengorganisasian:
• Menjelaskan tujuan pengorganisasian tim keperawatan
• Membagi pekerjaan sesuai tingkat ketergantungan pasien
• Membuat rincian tugas anggota tim dalam keperawatan
• Mampu mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan bersama tim kesehatan lain
• Mengatur waktu istirahat anggota tim
• Mendelegasikan proses asuhan keperawatan pada anggota tim
• Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
Fungsi pengarahan:
• Memberikan pengarahan kepada anggota tim
• Memberikan bimbingan pada anggota tim
• Memberikan infromasi yang berhubungan dengan askep
• Mengawasi proses pemberian askep
• Melibat anggota tim sampai awal dan akhir kegiatan
• Memberikan pujian/motivasi kepada anggota tim
• Melakukan pelaporan dan pendokumentasian
4. Evaluasi:
Fungsi pengendalian:
• Mengevaluasi asuhan keperawatan
• Memberikan umpan balik pada pelaksana
• Memperhatikan aspek legal dan etik
• Melakukan pelaporan dan pendokumantasian
Peran pelaksana dalam tahap
1. Pengkajian : mengkaji kesiapan klien dan diri sendiri untuk
melaksanakan suhan keperawatan.
1. Perencanaan:
Fungsi perebncanaan dan ketenagaan:
• Bersama Karu mengadakan serah terima tugas
• Menerima pembagian tugas dari katim
• Bersama katim menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan
• Mengikuti ronde keperawatan
• Menerima klien baru
2. Implementasi
Fungsi pengorganisasian:
• Menerima penjelasan tujuan pengorganisasian tim
• Menerima pembagian tugas
• Melaksanakan tugas yang diberikan oleh katim
• Melaksanakan program kolaborasi dengan tim kesehatan lain
• Menyesuiakn waktu istirahat dengan anggota tim lainnya
• Melaksanakan asuhan keperawatan
• Menunjang pelaporan, mencatat tindakan keperawatan yang dilaksanakan
Fungsi pengarahan:
• Menerima pengarahan dan bimbingan dari katim
• Menerima informasi yang berkaitan dengan askep dan melaksanakan askep dengan etik dan legal
• Memehami pemahaman yang telah dicapai
• Menunjang pelaporan dan pendokumentasian
3. Evaluasi
Fungsi pengendalian:
• Menyiapkan menunjukkan bahan yang diperlukan untuk proses evaluasi serta ikut mengevaluasi kondisi pasien.
Peran Karu, Perawat primer dan perawat asosiat dalam MPKP (metode primary team) yang dilaksanakan di ruangan.
Peran Kepala Ruang
Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawatan primer
Orientasi dan merencanakan karyawan baru
Menyusun jadual dinas
Memberi penugasan pada perawat asisten/asosiat (PA)
Evaluasi kerja
Merencanakan /menyelenggarakan pengembangan staf
Peran Perawat Primer
Menerima pasien
Mengkaji kebutuhan pasien untuk asuhan
Membuat tujuan
Membuat rencana keperawatan
Melakukan konferens untuk menjelaskan rencana asuhan kepada PA yang menjadi anggota timnya.
Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dinas bersama PA yang menjadi anggota timnya.
Melakukan kolaborasi dengan t9im kesehatan lainnya.
Memantau PA dalam melaksanakan rencana asuhan keperawatan.
Mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain
Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
Menerima dan menyesuaikan rencana
Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
Melakukan pendokumentasian (catatan perkembangan, catatan tindakan keperawatan)
Peran Perawat Asosiat
Mengikuti konferens untuk menerima penjelasan tentang asuhan yang direncanakan oleh PP.
Melaksanakan asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh PP
Memberi informasi/masukan yang diperlukan kepada PP tentang klien untuk keperluan asuahan keperawatan selanjutnya.
Mencatat tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam catatan tindakan keperawatan.
Penutup
Pelayanan keperawatan professional adalah pemberian asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan. Metode penugasan yang memungkinkan terlaksananya asuhan keperawatan secara professional diantaranya adalah metode Tim dan metode Perawat Primer. Mengingat metode perawatan primer diperlukan perawat yang mempunyai kompetensi yang tinggi (tingkat spesialis) dan jumlah yang cukup, sementara di Indonesia (utamanya RSCM) belum ada maka dalam MPKP digunakan metode PN dimodifikasi dengan pendekatan Tim (Primary team). Dalam pengorganisasiannya agar tujuan pelayanan keperawatan dapat tercapai dibutuhkan uraian tugas, tanggung jawab dan peran yang jelas dari masing-masing klasifikasi tenaga perawat yang ada yaitu sebagai kepala ruang, ketua tim, dan pelaksana (metode Tim) dan Kepala ruang, perawat primer dan perawat asosiat (MPKP).
Referensi:
1. Gillies, (1989), Nursing managament a system approach, 2nd edition, W.B. Saunders: Philadelphia
2. Marquis, Huston, (2000), Leadership roles and management functions in nursing theory & application, 3rd edition, Lippincott Williams & Wilkins:Philadelphia.
3. Pusat Pengembangan Keperawatan Carolus, (2000), Metode asuhan keperawatan, makalah dipresentasikan dalam lokakarya manajemen bidang keperawatan tgl. 1 mei – 11 mei, Jakarta.
4. Ratna Sitorus (makalah), 2000, Pengembangan model praktik keperawatan professional (MPKP) sebagai suatu upaya meningkatkan mutu asuhan keperawatan di rumah sakit, tidak dipublikasikan.
KATETERISASI
Pengertian
Kateterisasi kandung kemih mencakup memasukkan selang karet atau plastik melalu ueratra kedalam kandung kemih.
Tujuan
Menghilangkan distensi kandung kemih, penatalksanaan kandung kemih inkompeten, mendapatkan spesimen urine steril, dan pengkajian residu urine setelah berkemih.
Peralatan:
Kateter steril
Sarung tangan bersih
Pelumas
Larutan pembersih antiseptik
Kassa
Sputi yang telah berisi cairan untuk mengembangkan balloon pada kateter indweling
Wadah baskom
Urinal bag
Plester, gelang karet dan peniti
Selimut mandi kantung sampah
Handuk mandi
Prosedur
1. Jelaskan prosedur pada klien
2. Atur tempat tidur yang tepat
3. Tutup ruangan atau tirai ruangan
4. Cuci tangan
5. Berdiri disebelah kanan tempat tidur (bila pengguna tangan kanan) sebelah kiri (bila kidal)
6. Bantu klien untuk posisi terlentang dengan paha agak aduksi
7. Selimuti tubuh atas klien dengan selimut mandi dan tutup ekstrimitas bawah dengan selimut tidur
8. Tenpatkan handuk mandi dibawah genitalia
9. Kenakan sarung tangan dan cuci perineum dengan sabun dan air sesuai kebutuhan. Pada pria yang tidak disirkumsisi yakinkan untuk meretraksi prepusium untuk membersihkan meatus uretra
10. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
11. Buka kantung kateter sesuai petunjuk, pertahankan dasar wadah agar tetap steril
12. Gunakan sarung tangan steril
13. Oleskan pelumas pada dasar ujung kateter
14. Dengan tangan non dominan regangkan pegang penis batang tepat dibawah glend
15. Dengan tangan dominan ambil bola kapas dan bersihkan penis. Bersihkan dengan gerakan melingkar dari meatus bawah ke glens
16. Ambil kateter dengan tangan dominan yang telah menggunakan sarung tangan kurang lebih 7,5 sampai 10 cm dari jung kateter. Pegang ujunga kateter dan gulung ditelapak tangan dominan (atau dapat juga dipegang menggunakan pinset)
17. Minta klien untuk tidak mengedan dan masukan kateter 17,5 sampai 22 cm pada orang dewasa dan 5 sampai 7,5 pada anak atau sampai urine mengalir keluar dari kateter. Bila urine tampak, dorong kateter 5 cm
18. Jika menggunakan indwelling kateter, masukkan cairan pada balloon dengan spuit.
19. Turunkan penis dan pegang kateter dengan kuat pada tangan non dominan
20. hubungkan ujung kateter urinal bag.
21. Plester kateter pada bagian atas paha atau abdomen bagian bawah (dengan penis mengarah ke dada klien).
22. Lepaskan sarung tangan dan singkirkan semua peralatan.Cuci tangan
23. catat pada catatan perawat hasil prosedur, termasuk ukuran kateter, jumlah urine yang keluar, karakteristik urine, dan toleransi klien. Rasional
1. Memeinimalkan ansietas dan meningkatkan kerjasama
2. Meningkatkan penggunaan mekanika tubuh yang tepat
3. Mempertahankan privacy dan membantu relaksasi
4. Mengurangi transmisi mikroorganisme
5. Keberhasilan pemasangan kateter memerlukan anda mengatur posisi nyaman dengan semua peralatan yang mudah terjangkau.
6. Mencegah tegangan abdominal dan otot pelvic
7. Mencagah pemajanan tubuh yang tidak perlu
8. mencegah membasahi linen tempat tidur
9. Menurunkan/mengurangi jumlah mikroorganisme yang ada dekat meatus uretra
10. Mencegah transmisi dari tangan ke meatus uretra
11. Mencegah transmisi mikroorganisme
12. Mempertahankan asepsis selama prosedur
13. Mempermudah insersi kateter melalui meatus uretra
14. Genggaman yang kuat meminimalkan kesempatan terjadinya ereksi
15. Mengurangi jumlah mikroorganisme
16. Memegang kateter dekat ujung memungkinkan manipulasi lebih mudah selama memasukkan ke dalam meatus dan mencegah ujung distal menyentuh permukaan terkontaminasi.
17. relaksasi spinkter eksternal memudahkan insersi kateter. Uretra pria dewasa panjang. Keluarnya urine mengindikasikan ujung kateter berada di dalam kandung kemih. Mendorong kateter lebih jauh memastikan penempatan yang tepat.
18. Inflasi balon mencegah kateter keluar dari blader.
19. Kateter mungkin secara tak sengaja keluar akibat kontraksi kandung kemih atau uretra.
20. Menciptakan system terttutup untuk drainase urine.
21. Fiksasi yang kuat meminimalkan trauma pada uretra.
22. Mencegah transmisi mikroorganisme.
23. Mendokumentasikan respon klien dan hasil tindakan.
Kewaspadaan Perawat:
Jangan mendorong paksa kateter jika terjadi tahanan. Pada pria lansia, hipertropi prostat dapat menyumbat uraetra secara parsial dan menghambat kemudahan masuknya kateter. Bila terjadi tahanan beritahu dokter.
Referensi:
Perry, Potter, (1995), Buku saku ketrampilan dan prosedur dasar, edisi 3, EGC: Jakaerta.
PEMSANGAN INFUS
Pengertian:
Pemasangan infus mencakup penusukan vena melalui transkutan dengan menggunakan jarum tajam
Tujuan:
Untuk memberikan dan mempertahankan terapi cairan secara IV.
Peralatan:
Larutan IV yang tepat
Jarum / kateter vena yang sesuai (besar jarum dengan vena yang akan ditusuk)
Torniket
Sarung tangan sekali pakai
Kasa 2x2 san salep povidon yodin
Plester yang telah dipotong dan siap digunakan.
Handuk untuk diletakkan dibawah klien.
Tiang intra vena (standart infus)
Prosedur
1. cuci tangan
2. Atur peralatan disamping yang bebas dari kusust atau di atas meja tempat tidur
3. Buka kemasan steril dengan menggunakan teknik aseptic.
4. Untuk pemberian cairan IV:
a. Periksa larutan IV menggunakan “lima benar” pemberian obat. Periksa cairan terhadap warna, kejernihan dan tanngal kedaluwarsa
b. Bila menggunakan larutan IV dalam botol, lepaskan penutup logam dan lempeng karet. Untuk kantung larutan IV plastik lepaskan lapisan plastik di atas port selang IV.
c. Buka set infus, mempertahankan sterilitas pada kedua ujung.
d. Pasang klem rol sekitar 2 sampai 4 cm di bawah bilik drip dan pindahkan klem rol pada posisi “of”
e. Tusukan set infus kedalam kantung atau botol cairan.
• Lepaskan penutup pelindung kantung IV tanpa menyentuh lubangnya.
• Lepaskan penutup pelindung dari paku penusuk selang, jangan menyentuh paku penusuk dan, tusukan paku kelubang kantung. Atau tusukkan penusuk ke penyumbat karet hitam dari botol. Bersihkan penyumbat karet dengan antiseptik sebelum ditusuk.
f. Isi selang infus:
• Tekan bilik drip dan lepaskan, biarkan terisi 1/3 sampai ½ penuh.
• Lepaskan pelindung jarum dan klem rol untuk memungkinkan cairan memenuhi bilik drip melalui selang keadapter jaringan jarum. Kembalikan klem ke posisi of setelah selang terisi.
• Pastikan selang bersih dari udara dan gelembung udara.
• Lepaskan pelindung jarum.
5. Pilih jarum IV yang tepat
6. Pilih tempat distal (ujung) vena yang digunakan.
7. Letakkan torniket 10 sampai 12 cm diatas tempat penusukan. Torniket harus menyumbat aliran vena, bukan arteri. Periksa adanya nadi distal.
8. Kenakan sarung tangan sekali pakai. Pelindung mata dan masker dapat digunakan untuk mencegah cipratan darah pada membran mukosa perawat.
9. Letakkan ujung adapter jarum perangkat infus dekat dengan kasa steril atau handuk..
10. Pilih vena yang terdilatasi baik.
11. Bersihkan tempat insersi dengan gerakan sirkular yang kuat menggunakan larutan povidon yodin: hindari menyentuh tempat yang telah dibersihkan: biarkan tempat tersebut mongering selama sedikitnya 30 detik. Bila klien alergi terhadap yodin, gunakan alcohol 70% selama 60 detik.
12. l;akukan pungsi vena. Tusuk dengan bevel (lubang jarum) menghadap ke atas pada sudut 20 sampai 30 derajat.
13. Perhatikan keluarnya darah yang menandakan jarum masuk ke vena. Dorong kateter ONC (over the needle cateter/surflo) kedalam vena lalu lepaskan stiletnya (jarum).
14. Tahan kateter dengan satu tangan, lepaskan torniket dan dengan cepat hubungkan adapter jarum dari perangkat pemberian cairan IV.
15. Lepaskan klem roler untuk memulai infus dan mempertahankan patensi aliran.
16. Amankan kateter atau jarum IV,
• Pasang plester kecil di bawah kateter dengan sisi yang lengket menghadap ke atas dan silangkan plester di atas kateter.
• Bila digunakan balutan kasa, oleskan salep povidon yodin ditempat pungsi vena.
• Pasang plester kedua tepat menyilang hub (ujung) kateter.
• Letakkan bantalan kasa 2x2 diatas tempat insersi dan hub kateter dan amankan plester 2,5 cm atau pasang balutan transparan diatas tempat tusukan. Jangan menutup hubungan antara selang IV dan hub kateter
17. Atur kecepatan aliran sampai tetesan yang tepat permenit.
18. Tuliskan tanggal dan waktu pemsangan aliran serta ukuran jarum pada balutan.
19. Lepaskan sarung tangan. Singkirkan alat-alat (rapikan) dan cuci tangan.
20. catat pada catatan perawat jenis laruta, letak insersi, kecepatan aliran, dan bagaimana toleransi klien terhadap prosedur.
Rasional
1. Mengurangi transmisi mikroorganisme
2. Mengurangi risiko kontaminasi dan kecelakan
3. Mencegah kontaminasi pada obyek steril
4.
a. Larutan IV adalah obat dan harus diperiksa hati-hati untuk mengurangi risiko kesalahan, kandungan partikel atau yang telahkedaluwarsa untuk tidak digunakan.
b. Memungkinkan masuknya selang infus kedalam cairan.
c. Mencegah kontaminasi kedalam peralatan dan aliran darah.
d. Jarak terdekat klem rol ke bilik memungkinkan pengaturan kecepatan aliran lebih akurat. Memindahkan klem pada posisi of mencegah penetesan cairan pada klien, perawat, tempat tidur atau lantai.
• Mempertahankan kesterilan cairan
• Mencegah kontaminasi larutan dari paku penusuk yang terkontaminasi.
• Menciptakan efek penghisap cairan masuk ke ruang drip untuk mencegah udara masuk selang.
• Mengeluarkan udara dari selang dan memungkikan selang terisi oleh larutan. Penutupan klem mencegah kehilangan cairan yang tak disengaja.
• Gelembung udara yang besar dapat bertindak sebagai emboli
• Mempertahankan kesterilan system.
5. Untuk menghindari kerusakan vena akibat terlalu besar jarum.
6. Bila terjadi kerusakan pada vena, tempat proksimal (lebih atas) dari vena masih dapat digunakan.
7. Tidak terdapatnya aliran arterial menghambat pengisian vena.
8. Menurunkan pemajanan terhadap HIV, hepatitis dan organisme yang ditularkan melalui darah.
9. Memungkikan penghubungan infus yang cepat, lancarpada jarum IV setelah penusukan vena.
10. Memudahkan insersi jarum kateter.
11. Povidon yodin adalah antiseptik topical yang mengurangi bakteri permyukaan kulit. Sentuhan akan mengakibatkan perpindahan bakteri dari tangan perawat ke tempat fungsi. Povidon yodin harus kering untuk mendapatkan manfaat yang baik.
12. Risiko penusukan dinding vena posterior dikurangi.
13. keluarnya darah menandakan jarum masuk vena.
14. Penghubungan cepat perangkat infus mempertahankan patensi vena, kesterilan.
15. Memungkinkan aliran vena dan mencegah pembekuan vena.
16.
• Mencegah penglepasan kateter dari vena secara tidak sengaja.
• Mengurangi bakteri pada kulit dan menurunkan risiko infeksi.
• Untuk fiksasi dan mencegah pengelapasan.
• Melindungi tempat tusukan dari kontaminasi.
17. Mempertahankan kepatenan kecepatan aliran IV yang tepat.
18. Memberikan kecepatan akses data seperti kapan pemasangan dan kapan penggantian.
19. Mngurangi transmisi mikroorganisme
20. Diokumentasi dan berguna dalam aspek legal
Kewaspadaan perawat:
Pungsi vena merupakan kontraindikasi di tempat yang menunjukkan tanda-tanda infeksi, ifiltrasi atau trombosis. Pungsi atau pemsangan infus juga dapat menyebabkan infeksi. Infeksi ditandai oleh adanya kemerahan, nyeri tekan, bengkak, dan hangat dan dingin pada jaringan sekitar.Trombosis ditandai oleh pembengkakan dan inflamasi sepanjang vena. Untuk menghindari perubahan letak jarum/kateter gunakan papan lengan/spalek.
Referensi:
Perry, Potter, (1995), Buku saku ketrampilan dan prosedur dasar, edisi 3, EGC: Jakaerta.
PEMASANGAN NASO GASTRIK TUBE (NGT)
Pengertian
Insersi selang nasogastrik meliputi pemasangan selang plastik lunak melalui naso faring ke dalam lambung.
Tujuan:
Memberikan makanan atau cairan melalui NGT.
Mendapatkan spesimen cairan lambung.
Kumbah lambung pada pasien intoksikasi, perdarahan lambung.
Peralatan:
Selang NGT Pelumas larut dalam air
Spuit berujung kateter 60 ml.
Stetoskop
Plester hipoalergi dan benzoin tinktur
Spatel lidah
Handuk
Sarung tangan bersih
Tisu wajah
Larutan garam faal (NaCl)
Prosedur
1. Jelaskan prosedur dan tujuan pada klien
2. Cuci tangan
3. Susun semua peralatan disamping tempat tidur
4. Bantu klien untuk posisi fowler tinggi dengan bantal di belakang bahu
5. Letakkan handuk mandi di atas dada klien. Simpan tisu wajah dalam jangkauan klien
6. Berdiri disebelah kanan tempat tidur (bila pengguna tangan kanan) dan sebaliknya.
7. minta klien untuk rileks dan bernapas secara saat menutup satu lubang hidung. Kemudian ulangi prosedur untuk lubang hidung yang lain.
8. Tentukan panjang selang yang akan dimasukkan dan tandai dengan plester.
• Metode tradisional: ukur jarak dari ujung hidung sampai daun telinga hingga prosesus xifoideus sampai sternum.
9. Potong plester 10 cm
10. Siapkan selang NGT untuk intubasi
11. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
12. Masukkan selang NGT yang sudah diberi pelumas dengan perlahan melalui lubang hidung sampai tenggorok
13. Fleksikan kepala klien ke arah dada setelah selang melalui nasofaring. Biarkan klien rileks sebentar.
14. Dorong klien untuk menelan dengan memberikan sedikit air atau batu es bila mungkin. Masukkan selang saat klien menelan sampai selang masuk sepanjang yang dinginkan (sesuai tanda).
15. tekankan pentingnya untuk bernapas lewat mulut dan menelan selama prosedur.
16. jangan dorong paksa selang jika ada tahanan atau klien mulai tersedak, gag atau menjadi sianosis. Hentikan memasukkan selang dan periksa posisi selang dibelakang lidah dengan tong spatel.
17. Periksa letak selang di dalam lambung:
• Sambungkan spuit pada ujung selang. Letakkan stetoskop di atas kuadran kiri atas abdomen klien tepat dibawah garis kosta. Suntikan 10 sampai 20 ml udara dan auskultasi abdomen.
• Bila tidak terdengar (berarti selang belum masuk lambung) masukkan 2,5 – 5 cm lagi dan periksa kembali posisinya.
18. Oleskan benzoin tinktur pada ujung hidung klien dan ujung selang. biarkan mongering
19. Amankan selang dengan plester dan hindari tekanan pada lubang hidung.
20. Lepas sarung tangan, rapikan peralatan dan cuci tangan.
21. Catat jenis selang yang dipasang dan toleransi klien pada prosedur.
Rasional
1. Meningkatkan kerjasama klien
2. Mengurangi mikroorganisme
3. memudahkan kerja dan mempersingkat waktu prosedur.
4. Meningkatkan kemampuan klien untuk menelan
5. Mencegah membasahi pakaian klien. Tisu untuk membersihkan air mata klien karena insersi selang melalui nasal dapat menyebabkan keluar air mata.
6. memudahkan pelaksanaan prosedur.
7. Selang dapat masuk dengan mudah melalui lubang hidung yang paten.
8. memperkirakan dalamnya selang yang akan dimasukkan.
9. Untuk fiksasi
10.
11. Mengurangi penyebaran mikro organisme
12. Garis bentuk normal memudahkan masuknya NGT kesaluran gastrointestinal.
13. Menutup glottis dan mengurangi risiko selang masuk ke trakea. Memungkikan klien untuk bernapas dan tetap tenang.
14. Menelan memudahkan lewatnya selang melalui orofaring.
15. Membantu memudahkan lewatnya selang dan menghilangkan rasa takut klien selama prosedur.
16. Selang mungkin terlipat, menggulung, di orofaring atau masuk trakea.
17. Posisi yang tepat penting untuk diketahui sebelum mulai pemberian makan.
• Udara yang masuk kedalam lambung menciptakan bunyi desiran dan mengkonfirmasikan penempatan selang.
• Selang harus didalam lambung untuk memberikan makan maupun tujuan dekompresi.
18. membantu melekatkan plester lebih baik.
19. Mencegah trauma pada mukosa hidung dan memungkinkan mobilitas klien.
20. Mengurangi transmisi mikroorganisme.
21. Mendokumentasikan prosedur yang tepat.
Kewaspadaan perawat :
Penempatan selang nasogastrik hanya dapat dipastikan dengan sinar-X dan harus dikaji ulang setelah perubahan posisi klien atau bila terhadi batuk berat atau muntah. Pemasrtian menentukan bahwa selang tidak berubah posisi ke jalan napas.
Referensi:
Perry, Potter, (1995), Buku saku ketrampilan dan prosedur dasar, edisi 3, EGC: Jakaerta.
PENGAMBILAN DARAH VENA
Pengertian
Pengambilan darah vena adalah mencakup penusukan vena secara transkutan dengan jarum untuk mendapatkan smpel darah vena.
Tujuan
Mendapatkan spesimen darah untuk pemeriksaan
Peralatan:
Sarung tangan sekali pakai
Tabung spesimen
Swab pembersih alcohol dan betadine
Torniket karet
Handuk/alas plastik untuk diletakkan dibawah tangan klien
Bantalan kasa steril 2x2
Plester perekat
Spuit sesuai keperluan (3 cc, 5 cc, 10 cc, dll)
Langkah-langkah
Prosedur
1. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
2. Kumpulkan semua peralatan yang diperlukan dan bawa kedekat klien
3. Tutup tirai tempat tidur atau pintu ruangan
4. Atur peralatan dipermukaan yang bebas dari lipatan.
5. Bantu klien pada posisi terlentang atau semi fowler dengan lengan lurus. Letakkan handuk kecil di bawah lengan atas.
6. Buka kemasan steril menggunakan teknik steril.
7. Pilih tempat distal pada vena yang akan digunakan. Vena yang sering digunakan untuk pengambilan sampel adalah vena-vena yang terdapat pada ante kubiti dan vena lengan bawah.
8. Pasang torniket 5 – 15 cm di atas tempat pungsi vena.
9. palpasi nadi distal di bawah torniket.
10. pilih vena yang terdilatasi baik. Anjurkan klien mengepalkan tangan untuk membantu dilatasi. Jangan menahan torniket lebih dari 1 – 2 menit.
11. Bersihkan tempat pungsi vena dengan povidon yodin dan kemudian alcohol dengan gerakan melingkat kearah luar sekitar 5 cm.
12. lepaskan penutup jarum dari sputi dan beritahu klien bahwa ia akan merasakan tusukan.
13. letakkan tangan non dominan 2,5 cm dibawah tempat tusukan dan tarik kulit klien agar ke arah anda
14. Pegang spuit dan jarum pada sudut 15 – 30 derajat dari lengan klien dengan bevel (lubang jarum) ke atas.
15. Dengan perlahan tusukan jarum ke dalam vena.
16. Dengan spuit, tarik perlahan darah yang sudah masuk kedalam spuit sesuai yang diperlukan.
17. lepaskan torniket setelah darah didapatkan.
18. Lepaskan jarum dari vena: pasang kasa 2x2 atau bantalan alcohol di atas tempat pungsi vena tanpa memberikan tekanan. Dengan tangan yang lain tarik jarum dengan menarik lurus ke belakang dari tempat pungsi vena.
19. Berikan tekanan pada tempat tusukan.
20. Pindahkan darah spuit ke tempat(botol) spesimen
21. Perhatikan tempat pungsi terhadap perdarahan dan pasang plester.
22. tempelkan label identifikasi lengkap pada setiap tabung. Lekatkan daftar permintaan dan kririm ke laboratorium.
23. Buang jarum, spuit dan peralatan yang kotor, lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.
Rasional
1. Mengurangi transmisi mikroorganisme dan untuk keamanan.
2. Mempertahankan pengaturan dan menghindari meninggalkan klien saat memerlukan tambahan alat.
3. Memberikan privacy klien
4. Mengurangi risiko kontaminasi dan kecelakaan.
5. Menstabilkan lengan klien dan memudahkan akses pada tempat pungsi vena.
6. Mencegah kontaminasi obyek steril.
7. Bila terjadi sclerosis atau kerusakan lain pada vena, tempat proksimal (diatasnya) yang sama masih dapat digunakan.
8. memungkinkan vena untuk membesar oleh pengumpulan darah.
9. Tekanan dari torniket harus tidak mengganggu aliran nadi.
10. kontraksi otot dapat meningkatkan distensi vena. Pengikatan torniket yabng lama dapat menyebabkan stasis vena yang dapat mempengaruhi hasil test.
11. Betadine merupakan antiinfektif topikal yang dapat mengurnagi bakteri permukaan.
12. Klien mempunyai kontrol lebih baik terhadap ansietasnya jika ia mengetahui apa yang akan terjadi.
13. Menstabilkan vena dan mencegah kulit terlipat selama jarum masuk.
14. Mengurangi kesempatan penetrasi selama penusukan dan mengurangi risiko tertusuknya dinding posterior vena.
15. Mencegah penusukan keseluruh vena.
16. Mendapatkan darah sesuai yang diperlukan.
17. Mengurangi perdarahan pada tempat penusukan saat jarum dilepaskan.
18. tekanan pada jarum dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Pelepasan jarum dengan arah lurus dari vena mencegah cedar vena dan jaringan sekitarnya.
19. Untuk mengontrol/menghentikan perdarahan.
20. Untuk mencegah kontaminasi dan pembekuan (jika diinginkan darah harus cair)
21. Mempertahankan kebersihan tempat pungsi dan kontrol perembesan darah.
22. Tes harus dilakukan dengan tepat. Pemberian label yang tidak tepat dapat menyebabkan kesalahan.
23. Mengurangi transmisi mikroorganisme.
Kewaspadaan perawat:
Tekanan harus diberikan pada tempat pungsi vena pada klien dengan gangguan perdarahan atau jumlah trombosit rendah atau yang menerima terapi antikoagulan. Ini akan menurunkan risiko pembentukan hematoma.
Referensi
Perry, Potter, (1995), Buku saku ketrampilan dan prosedur dasar, edisi 3, EGC: Jakaerta.
RENTANG KENDALI, DELEGASI DAN KOMUNIKASI
DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN
Pendahuluan
Manajemen merupakan proses bekerja dengan dan melalui orang lain untuk mancapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah. Manajemen juga merupakan proses mengumpulkan dan mengorganisisr sumber-sumber dalam mencapai tujuan yang mencerminkan kedinamisan organisasi. Arah tujuan yang yang harus dicapai ditetapkan berdasarkan misi, filosofi dan tujuan organisasi dalam hal ini dapat berupa rumah sakit maupun institusi lain sebagai agen pelayanan keperawatan.
Tujuan organisasi akan lebih mudah tercapai dengan adanya desain organisasi yang efesien. Beberapa faktor yang mempengaruhi efesiensi organisasi diantaranya adalah adanya rentang kendali, adanya delegasi dan proses pendelegasian, termasuk komunikasi yang berlangsung dalam organisasi.
Makalah ini membahas rentang kendali, delegasi dan komunikasi antar tim sebagai hasil studi literartur yang dikaitkan dengan upaya efesiensi dan efektifitas dalam mencapai tujuan organisasi. Fokus bahasan adalah pengertian, metodologi dan hambatan yang mungkin ditemukan.
Pembahasan
1. Rentang Kendali
Rentang kendali adalah karakteristik jumlah orang atau bawahan untuk satu orang manajer (Marquis & Huston, 2000). Rentang kendali dapat dilihat dan ditentukan dari bagan organisasi. Seperti contoh bagan di bawah ini:
Gambar: Contoh diagram organisasi
(sumber: Marquis & Huston, hal.142)
Dalam bagan di atas seperti posisi direktur keperawatan kita ambil sebagai contoh maka rentang kendali adalah jumlah orang/bawahan yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu beberapa supervisor dan perawat supervisor shift. Rentang kendali dari perawat penganggung jawab shift adalah kepala perawat unit medical surgical, psyciatric, pediatric, obstetric, perinatologi, emergency room, operating room, recovery room, labor and delivery dan social services. Demikian seterusnya rentang kendali dari perawat kepala dari masing-masing unit adalah para perawat pelaksana dari unit-unit tersebut.
Memperhatikan contoh bagan organisasi di atas kita dapat melihat bahwa rentang kendali akan akan semakin besar/luas dengan menurunnya tingkat manajer. Direktur keperawatan sebagai manajer puncak dalam pelayanan keperawatan memiliki rentang kendali yang lebih sempit dibanding perawat penanggung jawab shift (manajer menengah).
Jumlah yang tepat untuk menentukan luas sempitnya rentang kendali (rentang kendali yang optimum) tergantung dari beberapa faktor. Marquis dan Huston (2000), menyatakan bahwa kemampuan manajer, kematangan pekerja, kompleksitas tugas, lokasi geografis, dan besarnya organisasi adalah harus menjadi pertimbangan pada saat menentukan rentang kendali yang optimum. Sedangkan Gillies (1989), mengemukakan bahwa yang harus diperhatikan dalam menetukan rentang kendali adalah: kemampuan mensupervisi, kemampuan bawahan yaitu tingakt pengetahuan dan ketrampilan bawahan, kompleksitas tugas, keeratan hubungan antara kegiatan yang ada Jumlah tugas pejabat, delegasi wewenang, keterbatasan perhatian karena waktu dan jarak.
Rentang kendali jangan terlalu luas demikian juga terlalu sempit. Penelitian industrial menunjukkan bahwa bahwa pengelola dibagian puncak birokrasi dapat mengatur lebih sedikit bawahan secara efektif dibanding seorang supervisor pada struktur paling rendah. Umumnya perbandingan 1 : 3 untuk manajer puncak dan 1 : 6 untuk manajer bawah (Gillies, 1989). Ketidak tepatan dalam menentukan rentang kendali dapat meningkatkan inefesiensi (Marquis & Huston, 200).
Delegasi
Delegasi dapat didefinisikan sebagai mempercayakan pekerjaan untuk diselesaikan orang lain atau sebagai perintah melaksanakan pekerjaan pada satu atau lebih orang untuk menyelesaikan tujuan organisasi (Marquis & Huston, 2000). Delegasi adalah elemn penting dari pase pengarahan pada proses manajemen, sebab banyak pekerjaan sering tidak hanya diselesaikan dengan usaha sendiri tetapi juga diselesaikan oleh sub ordinatnya (bawahannya).
Bagi manajer, delegasi bukan merupakan pilihan, akan tetapi merupakan kebutuhan. Ada beberapa hal yang menjadi alasan penting bahwa delegasi merupakan kebutuhan manajer. Seringkali manajer harus mendelegasikan tugas-tugas rutin agar mereka lebih leluasa menangani atau menyelesaikan masalah/tugas yang lebih komplek atau tugasd yang memerlukan ketrampilan/ keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi. Manajer juga harus mendelegasikan pekerjaan jika seseorang dianggap lebih mampu atau lebih tinggi kompetensi atau keahlian serta pengetahuan terhadap pekerjaan yang akan diselesaikan.
Delegasi dapat digunakan untuk memberikan pembelajaran atau memberikan kesempatan bagi bawahan. Bawahan yang tidak pernah mendapat delegasi tanggung jawabnya kurang, tidak produktif dan tidak efektif. Bennis (1989) dalam Marquis dan Huston (2000), menyatakan bahwa kebutuhan seseorang untuk merasa bahwa ia dapat mempengaruhi kesuksesan organisasi. Pengaruhnya mungkin kecil, akan tetapi ketika ia diberi kewenangan/kekuasaan, orang merasa bahwa mereka berarti dan signifikans. Jadi dalam pendelegasian pemimpin/manajer berkontribusi dalam pengembangan professional dan personal pegawai.
Fungsi manajemen yang berkaitan dengan pendelegasian adalah:
1. Membuat uraian tugas/lingkup dari penyataan praktik untuk semua personel.
2. Mampu mempertimbangkan tanggung jawab legal dari bawahan yang disupervisi.
3. mengkaji secara akurat kemampuan dan motivasi bawahan ketika mendelegasikan.
4. Mendelegasikan tingkat kewenangan penting untuk melengkapi pendelegasian tugas.
5. Mengembangkan dan mengimplementasikan proses tinjauan ulang secara periodic terhadap semua tugas yang didelegasikan.
6. Memberikan pengakuan atau penghargaan terhadap
Jumat, 13 Agustus 2010
KIAT SEHAT SELAMA PUASA
KIAT TETAP SEHAT DALAM PUASA
Oleh : H.SUKARDJO, SKM, M.Kes
Koordinator PKMRS RSUD Suka Demak
1. Lakukan pemanasan dengan puasa sunnah sya’ban.
2. Kuatkan niat dan do’a memohon pertolongan Allah SWT
3. Usahakan makan sahur satu jam menjelang imsya’
4. Lengkapi menu makanan memenuhi gizi empat sehat lima sempurna.
5. Segerakan berbuka pada waktu maghrib dengan makan kurma atau makanan yang manis (misal:kolak,kue)
6. Berhentilah makan sebelum kenyang, lanjutkan makan setelah sholat tarawih.
7. Lakukanlah aktivitas anda seperti biasa dan rasakan manfaat puasa bagi tubuh anda. Rasa lapar mendorong pemakaian zat lemak yang menumpuk di jaringan tubuh sehingga anda menjadi lebih sehat, nafsu / jiwa lebih terkendali dan menghambat penuaan.
8. Ibu hamil / menyusui = gizi harus terpenuhi (konsultasi dengan dokter)
9. Jangan lupa minum obat sesuai anjuran dokter.
10. Boleh melakukan:
• Injeksi / suntikan
• Meneteskan obat mata
• Donor darah
• Sikat gigi / berkumur (makruh).
• Menelan ludah sendiri
Rabu, 04 Agustus 2010
Analisa Swot Pelayanan Keperawatan
Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang cespleng bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1. Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.
4. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.
Selain empat komponen dasar ini, analisa SWOT, dalam proses penganalisaannya akan berkembang menjadi beberapa Subkomponen yang jumlahnya tergantung pada kondisi organisasi. Sebenarnya masing-masing subkomponen adalah pengejawantahan dari masing-masing komponen, seperti Komponen Strength mungkin memiliki 12 subkomponen, Komponen Weakness mungkin memiliki 8 subkomponen dan seterusnya.
Jenis-Jenis Analisis SWOT
1. Model Kuantitatif
Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan Weakness (W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu pasangan satu Threath (T).
Kemudian setelah masing-masing komponen dirumuskan dan dipasangkan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses penilaian. Penilaian dilakukan dengan cara memberikan skor pada masing -masing subkomponen, dimana satu subkomponen dibandingkan dengan subkomponen yang lain dalam komponen yang sama atau mengikuti lajur vertikal. Subkomponen yang lebih menentukan dalam jalannya organisasi, diberikan skor yang lebih besar. Standar penilaian dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengurangi kadar subyektifitas penilaian.
2. Model Kualitatif
Urut-urutan dalam membuat Analisa SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh dengan urut-urutan model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah pada saat pembuatan subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada model kuantitatif setiap subkomponen S memiliki pasangan subkomponen W, dan satu subkomponen O memiliki pasangan satu subkomponen T, maka dalam model kualitatif hal ini tidak terjadi. Selain itu, SubKomponen pada masing-masing komponen (S-W-O-T) adalah berdiri bebas dan tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ini berarti model kualitatif tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian, karena mungkin saja misalnya, SubKomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara subkomponen W hanya 6 buah.
Sebagai alat analisa, analisa SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan peta. Ketika telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan berguna jika tujuan telah ditetapkan. Bagaimana menetapkan tujuan adalah bahasan selanjutnya yaitu membangun visi-misi organisasi atau program.
ANALISA DATA DENGAN PENDEKATAN SWOT
Sebelum melakukan perencanaan, maka perlu dikaji terlebih dahulu beberapa hal. Fokus identifikasi bisa menggunakan pendekatan yang lazim dipakai yaitu : pendekatan SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, dan Ancaman).
Di dalam pendekatan ini kita akan mengumpulkan semua data tentang tenaga keperawatan, administrasi dan bagian keuangan yang akan mempengaruhi fungsi organisasi keperawatan secara keseluruhan.Setiap data akan di kelompokan apakah merupakan kekuatan. Kelemahan, kesempatan ataukah merupakan ancaman bagi organisasi.
Berikut ini akan diberikan contoh Pengumpulan data dan Identifikasi masalah berdasarkan pendekatan SWOT
CONTOH LANGKAH-LANGKAH DALAM ANALISA SWOT
STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY THREATENED
• Memiliki visi, misi dan motto Keperawatan
• SDM terdiri dari : DIII (….orang), SPK (….orang), Pekarya (….orang).
• Rumah Sakit Pemerintah Tipe …..
• Terdapat Standar Asuhan Keperawatan
• Tersedia Sarana & prasarana Untuk pasien dan tenaga perawat
• Sudah ada sistim Dokumentasi
• Terdapat Administrasi penunjang
• dll • Kualitas tenaga belum memnuhi kualifikasi
• MKP belum dilaksanakan
• Belum ada pembagian tugas yang jelas
• Pendokumentasian proses Keperawata belum optimal
• Dll
• Terbukanya kesemptan melanjutkan pendidikan pada progran yang lebih baik
• Adanya program pelatihan/kursus
• Dll • Persaingan antar rumah sakit yang semakin kuat
• Adanya tuntutan masyarkat yang lebih tinggi untuk mendapatkan pelayanan
• dll
Setelah dilakukan pengumpulan data dan analisa maka muncul permasalahan-permasalahan yang harus kita kaji untuk dilakukan perencanaan pembenahan.
RUMUSAN MASALAH
Dari data-data yang sudah dikumpulkan dan sudah dilakukan analisa dengan pendekatan SWOT maka kita akan menemukan apa saja permasalahan-permasalahan di dalam sebuah organisasi Rumah Sakit khususnya pada Organisasi Keperawatan.Permasalahan yang ditemukan ini tidak saja hanya kekurangan-kekurangan yang akan menggangu atau menghambat di dalam Organisasi Keperawatan tetapi juga kemungkinan-kemungkinan peningkatan pelayanan agar dapat menjadi lebih baik dari sekarang. Masalah-masalah yang ditemukan akan di kumpulkan untuk selanjutnya dilakukan perencanaan untuk mengatasi permasalahan atau meningkatkan kwalitasnya.
1. PENGORGANISASIAN
Berdasarkan hasil analisa maka perlu untuk membuat tim kerja dengan pembagian tugas dari masing-masing personel. Sebagai contoh untuk pengelolaan di ruang rawat inap, maka diselenggarakan pengorganisasian dengan pembagian peran sebagai berikut :
1. Kepala ruangan
2. Perawat Primer
3. Perawat Asosier
Adapun penetapan tugas perawat diatas harus sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit/keperawatan, hasil penyelenggaraan model asuhan keperawatan sebelumnya, bagaiman kekuatan sumber daya yang ada dan sarana serta prasarana yang telah diidentifikasi pada pengumpulan data sebelumnya.
2. RENCANA STRATEGIS KEGIATAN
Pada tahap ini organisasi yang sudah terbentuk mulai merencanakan bagaimana rencana strategis yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan di dalam Manajemen Keperawatan.
Organisasi mulai menentukan dan mendiskusikan bentuk dan penerapan praktek keperawatan yang profesional, bagaimana format dan pendokumentasian, mengatur kebutuhan tenaga perawat, Mengatur tugas dan wewenang dari masing-masing perawat di ruangan, jadual kerja dari masing-masing perawat, bagaimana mensupervisi perawat,bagaimana sistim kepemimpinannya, Instalasi-instalasi yang menunjang di dalam proses keperawatan seperti, farmasi, radiologi,laboratorium, gizi (Jalur opersional).Hubungan dengan bagian – bagian lain yang turut mendukung di dalam organisasi rumah sakit ini (anggaran, karyawan non-medis, dll).
3. PENGATURAN WAKTU DAN KEGIATAN
Pada tahap ini setelah Semua rencana strategis di susun maka mulai dilakukan penetuan kegiatan apa saja yang harus dilakukan dan kapan waktunya.
Sebagai contoh di bawah ini akan diberikan rencana kegiatan kelompok dalam penerapan model asuhan Keperawatan Profesional yang akan dilakukan dalam satu bulan.
MINGGU URAIAN RENCANA KERJA
I 1. Pembuatan Struktur organisasi kelompok
2. Orientasi ruangan dan perkenalan
3. Analisa situasi dan perumusan masalah
4. Penyusunan program kerja
5. Penyusunan proposal pelaksanaan model asuhan keperawatan profesional
6. Penyusunan jadwal dan rancangan pembagian peran dalam penerapan model praktek keperawatan profesional
7. Penyusunan format pengkajian khusus dan sistim dokumentasi asuhan keperawatan
8. Penyusunan proposal, prosedur sentralisasi obat, dan kelengkapan administrasinya
9. Penyusunan format supervisi
10. Penyusunan format penunjang kegaiatan lainnya, seperti format kegiatan harian
11. Uji coba peran
II 1. Penerapan Model asuhan Keperawatan Profesional : Aplikasi peran, pendelegasian tugas, dan proses dokumentasi keperawatan
2. Penyempurnaan format kajian dan dokumentasi Keperawatan
3. Penyelenggaraan Supervisi Keperawatan
4. Penyelenggaraan Sentralisasi Obat
5. Persiapan penyelenggaraan rotasi dinas 24 jam
III 1. Penerapan model asuhan keperawatan profesional : Aplikasi peran, pendelegasian tugas, dan proses dokumentasi keperawatan
2. Penerapan semua program
3. Penyelengaraan rotasi 24 jam
IV 1. Evaluasi penerapan model asuhan keperawatan profesional
2. Penyusunan laporan
3. PERSIAPAN PELAKSANAAN
Setelah seluruh kegiatan ditentukan dan sudah pula ditentukan waktu pelaksanaannya, selanjutnya mulai dilakukan persiapan untuk pelaksanaannya.Inti dari tahap ini adalah mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti dokumen-dokumen untuk pemberian bukti pelaksanaan, bagaimana deskripsi tugasnya, sekaligus juga pengaturan kembali jadwal (pembagian tugas).
4. PERSIAPAN PENDOKUMENTASIAN
Dalam kegiatan pendokumentasian, hal yang perlu dipersiapkan antara lain bentuk sistim dokumentasi keperawatan, format pengkajian, format perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.Termasuk di dalam persiapan ini adalah mengevaluasi kesesuaian format yang dipergunakan selama ini berdasarkan kriteria : apakah sudah sesuai dengan standar dokumentasi keperawatan, apakah mudah atau dipahami semua oleh perawat yang ada di ruangan, apakah efisien dan efektif dalam pelaksanannya? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditentukan tentang model pendokumentasian yang sesuai.
5. PERSIAPAN EVALUASI
Evalusi meliputi penentuan teknik evaluasi, pembuatan alat evaluasi dan sekaligus didalamnya adalah pendokumentasian hasil kegiatannya secara umum. Di bawah ini akan diberikan contoh Instrumen Evaluasi dari sisi kepuasan Pasien dan Perawat.
Sabtu, 31 Juli 2010
Profil RSUD Sunan kalijaga Demak
1. KELAS : Tipe C
2. STATUS : Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
3. PEMILIK : Pemerintah Kabupaten Demak
4. DIREKTUR RS : Dr. Singgih Setyono, MMR
5. ALAMAT : Jl. Sultan Fatah 669/50 Demak Telp. 0291.685018 Fax. 0291. 681609 Email: rsud_suka@demak.go.id.
7. LOKASI : Kelurahan Mangunjiwan
Kecamatan Demak
Kabupaten Demak
Propinsi Jawa Tengah Kode Pos 59552
8. JUMLAH TEMPAT TIDUR : Kapasitas 164 Tempat Tidur
(VIP 15 TT, Kelas I 18 TT, Kelas II 30 TT, Kelas III 62 TT)Kelas
9. DASAR HUKUM : PERDA NOMOR 7 TAHUN 2008
10. Jenis Usaha : Jasa Pelayanan Kesehatan
B. Sejarah Singkat
RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak terletak di Jl. Sultan Fatah Nomor 669/50 Demak seluas + 4 hektar. RSUD Sunan Kalijaga berada di Kota Demak dan juga berada di jalur utama pantai utara Jawa Tengah. RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak pasa awalnya didirikan oleh Pemerintah Belanda tahun 1938 yang lokasinya di sekolahan Ongko Loro (saat ini masih digunakan sebagai gedung pertemuan rumah sakit dan ruang Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit). Kepala Rumah Sakit Demak yang pertama di jabat oleh dokter Sastro berdasarkan Surat Keputusan Departemen Van Gezondheid Semarang.
Perubahan status Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Kabupaten Demak sejak tahun 1938 hingga tahun 2008 adalah sebagai berikut :
Tahun 1938 – 1949
Tahun 1949 – 1979
Tahun 1979 – 1993
Tahun1993 – 2009
:
:
:
:
: Balai Kesehatan.
Status Rumah Sakit Umum Kabupaten.
Status Rumah Sakit Umum Demak kelas D. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 51/Menkes/SK/ II/1979 tentang Rumah Sakit Umum Kelas D untuk Pemda Tingkat II.
Status Rumah Sakit Umum Demak kelas C. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 204/Menkes/SK/II/1993 tanggal 26 Pebruari 1993 tentang Persetujuan Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Demak milik Pemda Tk II Demak
Pada tahun 1997, dalam rangka mendukung slogan “Demak Beramal“, H.DJOKO WIDJI SUWITO, SIP sebagai Bupati Demak telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 445.1/1.500 / 1997 tanggal 12 Nopember 1997 tentang Penetapan Nama RSU Kabupaten Demak dengan nama “RSUD Bhakti Karya Husada“. Selanjutnya, karena dipandang nama ”Bhakti Karya Husada” di pandang belum sesuai dengan ciri khas Daerah Kabupaten Demak, guna menumbuhkan kebanggaan masyarakat di daerah tersebut di ganti dengan nama ”Rumah Sakit Daerah Sunan Kalijaga Kabupaten Demak” berdasarkan Perda Nomor 7 tahun 2008, maka berubah menjadi RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak
C. Visi, Misi dan motto
Visi :
“Menjadi Rumah Sakit Kebanggaan Masyarakat Demak dan Sekitarnya Tahun 2011”.
Misi :
Mengutamakan kepuasan pelanggan sesuai standar pelayanan rumah sakit
Mengembangkan pelayanan trauma senter dan rumah sakit jemput pasien
Mengembangkan sumberdaya manusia secara berkelanjutan
Menciptakan suasana dan lingkungan rumah sakit yang aman dan nyaman
Menjalin kerjasama antar mitra kerja
Motto :
“Senyum Untuk Kesembuhan Anda” (SUKA)
BAB II
FASILITAS PELAYANAN
A. Tugas Pokok
Melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilakukan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.
B. Tujuan pelayanan
Meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Demak dan sekitarnya dalam bentuk upaya promotif, preventif, dan kuantitatif dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Demak.
C. Fungsi
Menyelenggarakan pelayanan medis
Menyelenggarakan pelayananan penunjang medis dan non medis
Menyelenggarakan pelayananan dan asuhan keperawatan
Menyelenggarakan pelayanan rujukan
Menyelenggarakan pendidikan pelatihan
Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan
Menyelenggarakan pemasaran rumah sakit dan rekam medik.
D. Jenis Pelayanan Rumah Sakit
1. Instalasi Rawat Jalan
a. Poliklinik Umum
b. Poliklinik DOTS
c. Poliklinik Gigi
d. Poliklinik Spesialis :
Penyakit Dalam
Kesehatan Anak
Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Bedah
Syaraf
Mata
Teling Hidung Tenggorokan
Penyakit Kulit dan Kelamin
Kesehatan Jiwa
Rehabilitasi Medik
2. Instalasi Rawat Inap
a. Ruang VVIP (proses pembangunan)
b. Ruang VIP (Wijaya Kusuma)
c. Ruang Penyakit Dalam (Mawar)
d. Ruang Anak (Dahlia)
e. Ruang Bedah (Kenanga)
f. Ruang Bersalin (Melati)
g. Ruang THT, Penyakit Mata, Penyakit Syaraf (Sokka)
h. Ruang Khusus Pasien Jamkesmas & Jamkesda (Cempaka)
3. Instalasi Rawat Darurat
a. Pengembangan Trauma Centre
b. Pengembangan rumah sakit jemput pasien
c. One Day Care
4. Instalasi Radiologi
a. Pemeriksaan Kontras dan Non Kontras
b. USG Konfensional dan non Konfensional
c. Pemeriksaan EKG dan EEG.
5. Instalasi Laboratorium
Kimia klinik
Hematologi klinik
6. Instalasi Farmasi
7. Instalasi Gizi
Konsultasi Gizi
8. Instalasi Intensif Care Unit
9. Instalasi Bedah Sentral
10. Instalasi Pemulasaraan Jenazah
11. Instalasi Pemeliharaan Sarana
E. Pelayanan Penunjang
1. EKG adalah alat untuk mengetahui fungsi jantung, riwayat serangan jantung.
2. EEG adalah alat uuntuk merekam kegiatan otak dengan pemetaan gelombang otak.
3. Laboratorium
Pelayanan Laboraturium (24 jam) meliputi :
• Hematologi
• Kimia Klinik
• Bakteriologi
• Serologi
• Urinalisa
• Narkoba
• Tes HIV
4. Radiologi
Pelayanan Radiologi (24 jam) meliputi :
• Radiologi
• USG
• Mobile X ray
5. Farmasi
Pelayanan Farmasi memberikan layanan untuk pembelian obat-obatan, baik obat generic maupun obat paten dan alat kesehatan, bahan habis pakai
6. Gizi
Pelayanan Gizi meliputi :
• Memberikan konsultasi gizi rawat jalan dan rawat inap
• Penyelenggaraan makan pasien
7. Rehabilitasi Medik/Fisioterapi
• Konsultasi dokter spesialis Rehabilitasi Medik.
• Pelayanan Fisioterapi.
F. Pelayanan Kesehatan Penunjang
1. Rumah Sakit Rujukan Flu Burung di Kabupaten Demak
2. Pelayanan Mobil Ambulance dan Jenazah
3. Pelayanan Mediko Legal.
4. Pelayanan Visum et repertum
5. Pelayanan Home Care / Home Visit
6. Pelayanan Sosial / Bhakti Sosial kemasyarakatan
7. Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)
8. PKBRS ( Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit )
9. MOW ( Medis Operatif Wanita ) pasang dan lepas norplant.
10. Pemeriksaan Kesehatan/Medical Chek Up (CPNS, PNS, Caleg, dll)
Menejemen Keperawatan
Pendahuluan
Sejak AIDS dikenal; kebijakan baru yang bernama kewaspadaan universal atau universal precaution dikembangkan. Kebijakan ini menganggap bahwa setiap darah dan cairan tertentu lain dapat menyebabkan infeksi, tidak memandang status sumbernya. Ada berbagai macam infeksi menular yang terdapat dalam darah dan cairan tubuh lain seseorang, di antarahya hepatitis B dan C, dan HIV. Mungkin juga ada infeksi lain yang belum diketahui.
Dalam sarana kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, praktek dokter dan dokter gigi, tindakan yang dapat mengakibatkan Iuka atau tumpahan cairan tubuh, atau penggunaan alat medis yahg tidak steril, dapat menjadi sumber infeksi penyakit pada
petugas layanan kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya kewaspadaan universal atau universal precaution diterapkan secara penuh. Harus ditekankan bahwa universal precaution dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat parah dan sebetulnya lebih mudah menular, misalnya virus hepatitis B dan C. Petugas layanan kesehatan harus menerapkan universal precaution dalam hubungan dengan semua pasien.
Kita biasanya menganggap cairan yang dapat menularkan HIV sebagai darah, cairan kelamin dan ASI saja. Namun ada cairan lain yang dapat mengandung kuman lain, dan dalam sarana kesehatan, lebih banyak cairan tubuh biasanya tersentuh. Cairan tubuh yang perlu diwaspadai antara lain :
• Semen
• Cairan vagina
• Cairan ketuban
• Cairan limfa
• Cairan cerebrospinal
• Cairan pleura dan peritoneal
• Cairan pericardial
Universal precaution tidak mencakup :
• Faeses
• Nasal secretions
• Sputum
• Keringat
• Urine
• Cairan muntah
• Air liur ( kecuali ketika tercampur darah dalam tindakan mulut)
Kegiatan yang paling berisiko Jelas ada beberapa kegiatan yang umum dilakukan oleh petugas layanan kesehatan yang menimbulkan risiko, antara lain :
• Menyuntiklmengambil darah
• Tindakan bedah
• Tindakan kedokteran gigi
• Persalinan
• Membecsihkan darah/cairan lain
Sebaliknya ada beberapa perilaku yang menempatkan petugas layanan kesehatan atau pasien dalam keadaan berisiko, misalnya :
• Menutup jarum suntik kembali
• Salah meletakkan jarum atau pisau/alat tajam
• Menyentuh pasien tanpa cuci tangan
Penerapan universal precaution Karena akan sulit untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi atau tidak, petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan universal secara penuh dalam hubungan dengan semua pasien, dengan melakukan tindakan berikut :
1. Administrative Controls
• Pendidikan
Mengembangkan sistem pendidikan tentang tindakan pencegahan kepada pasien, petugas, dan pengunjung rumah sakit untuk meyakinkan mereka dan bertanggung jawab dalam menjalankannya
• Adherence to Precaution (Ketaatan terhadap tindakan pencegahan) Secara periodik menilai ketaatan terhadap tindakan pencegahan dan adanya perbaikan langsung
2. Standard Precautions
• Cuci tangan dengan menggunakan antiseptik setelah berhubungan dengan pasien atau setelah membuka sarung tangan
• Segera cuci tangan setelah ada hubungan dengan cairan tubuh
• Pakai sarung tangan bila mungkin akan ada hubungan dengan cairan tubuh atau peralatan yang terkontaminasi dan saat menangani peralatan habis pakai
• Pakai masker dan kacamata pelindung bila mungkin ada percikan cairan tubuh
• Tangani dan buang jarum suntik dan alat tajam lain secara aman; yang sekali pakai tidak boleh dipakai ulang
• Bersihkan dan disinfeksikan tumpahan cairan tubuh dengan bahan yang cocok
• Patuhi standar untuk disinfeksi dan sterilisasi alat medis
• Tangani semua bahan yang tercemar dengan cairan tubuh sesuai dengan prosedur
• Buang limbah sesuai prosedur. Pemisahan limbah sesuai jenisnya diawali sejak limbah tersebut dihasilkan
a. Limbah padat terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik kuning
b. Limbah padat tidak terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik hitam
c. Limbah benda tajam atau jarum dibuang ke kontainer yang berwarna kuning tahan tusuk dan tahan air
• Kesehatan karyawan dan darah yang terinfeksi bakteri patogen
Untuk mencegah luka tusuk benda tajam:
a. Berhati-hati saat menangani jarum, scalpel, instrumen yang tajam atau alat kesehatan lainnya dengan permukaan tajam,
b. Jangan pernah menutup kembali jarum bekas pakai atau mernanipulasinya dengan kedua tangan.
c. Jangan pernah membengkokkan atau mematahkan jarum
d. Buanglah benda tajam atau jarum bekas pakai ke dalam wadah. yang tahan tusuk dan air, dan tempatkan pada area yang mudah dijangkau dari area tindakan.
e. Gunakan mouthpieces, ressucitation bags atau peralatan ventilasi lain sebagai alternatif mulut ke mulut.
Alat pelindung Unsur lain yang penting dalam universal precaution adalah penggunaan alat pelindung yang sesuai tindakan. Alat yang dibutuhkan dapat hanya sarung tangan (misalnya untuk ambil darah) hingga semua alat yang dibutuhkan oleh seorang bidan waktu membantu kelahiran. Namun perawat yang hanya menyentuh pasien tidak membutuhkan sarung tangan, yang penting cuci tangan sebelum dan sesudahnya. Alat pelindung yang dibutuhkan antara lain :
• Sarung tangan, digunakan sebab tangan atau kulit berpotensi kontak dengan darah
atau cairan lain dan material yang terkontaminasi.
• Celemek
• Masker atau pelindung muka, untuk menghindari droplet darah atau cairan lain dari mulut, mata atau hidung
• Kacamata
• Pelindung kaki Perawatan di rumah
Universal precaution tidak hanya dibutuhkan dalam sarana kesehatan resmi, tetapi juga terkait perawatan di rumah. Sekali lagi, tujuan utamanya adalah untuk melindungi keluarga tim perawatan dariberbagai infeksi, bukan hanya HIV, justru risiko penularan HIV pada keluarga di rumah sangat amat rendah. Jadi kita harus menganggap sebagian besar cairan tubuh sebagai sumber infeksi.
Prosedur universal precaution untuk perawatan di rumah serupa dengan di rumah sakit, hanya mungkin lebih sederhana. Bila tidak ada sarung tangan, secara darurat kita dapat memakai kantong plastik yang utuh. Yang penting kita menutup semua luka pada kulit dengan plester luka. Mungkin yang paling penting adalah untuk menjaga kebersihan di rumah. Cucian biasanya tidak membutuhkan perhatian khusus asal tidak tercermar cairan; bila tercemar lebih baik dicuci dengan pemutih dulu (larutan klorin 0,5%) dengan memakai sarung tangan, kemudian dapat dicuci dengan sabun seperti biasa.